Details Foto


Dinkes Perkuat Deteksi Dini TBC, Pengobatan Harus Tuntas Enam Bulan

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-07-22 ]

Dinkes Perkuat Deteksi Dini TBC, Pengobatan Harus Tuntas Enam Bulan

Kota Pekalongan -  Dinas Kesehatan Kota Pekalongan mulai melaksanakan program Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus tuberkulosis (TBC) secara aktif sebagai bagian dari upaya mempercepat deteksi dini di masyarakat. Kegiatan ini akan dimulai setelah dilaunching pada Juli hingga September 2026 dengan melibatkan petugas puskesmas bersama kader kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puji Winarti menjelaskan, selama ini penemuan kasus TBC dilakukan secara pasif, yakni masyarakat yang mengalami gejala datang ke fasilitas kesehatan. Melalui ACF, petugas akan mendatangi lingkungan sekitar pasien yang telah terdiagnosis TBC untuk melakukan pemeriksaan terhadap kontak erat.

"Saat ini terdapat 140 pasien TBC yang sedang menjalani pengobatan. Dari kasus tersebut, kami akan melakukan penelusuran kepada keluarga maupun masyarakat di sekitarnya dengan target sekitar 1.350 orang dapat menjalani skrining," jelasnya usai meluncurkan program Active Case Finding (ACF), Senin (20/7/2026).

Ia menerangkan, gejala TBC yang perlu diwaspadai antara lain batuk lebih dari dua minggu, demam terutama pada malam hari, serta penurunan nafsu makan. Penularan penyakit dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti sanitasi lingkungan yang kurang baik maupun kontak dengan penderita TBC yang belum menyelesaikan pengobatan.

Menurutnya, pengobatan TBC harus dijalani secara tuntas selama minimal enam bulan. Pada kondisi tertentu, terapi dapat diperpanjang hingga satu tahun bahkan dua tahun sesuai tingkat keparahan penyakit.

Dalam pelaksanaan ACF, ia menambahkan bahwa pihaknya menggandeng kader dari Mentari Sehat Indonesia untuk mendampingi petugas puskesmas melakukan penelusuran kasus di lapangan. Pihaknya mengingatkan bahwa TBC dapat menyerang semua kelompok usia, mulai dari bayi hingga lanjut usia, sehingga masyarakat yang mengalami gejala atau memiliki kontak erat dengan penderita diimbau segera mengikuti pemeriksaan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)