[ 2026-06-04 ]
Dindik Kota Pekalongan Siapkan Langkah Strategis Tingkatkan Literasi dan Numerasi Pasca Hasil TKA SMP 2026
Kota Pekalongan – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan bergerak cepat menyiapkan berbagai langkah strategis untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi peserta didik pasca diumumkannya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP Tahun 2026. Hasil TKA tahun pertama ini tidak hanya menjadi bahan evaluasi, tetapi juga momentum penting untuk melakukan perbaikan berkelanjutan demi meningkatkan mutu pendidikan di Kota Pekalongan.
Kepala Dindik Kota Pekalongan, Mabruri menegaskan bahwa TKA bukan satu-satunya instrumen untuk mengukur kualitas pendidikan. Menurutnya, sistem pendidikan nasional memiliki banyak komponen yang saling berkaitan, mulai dari kurikulum, guru, pembiayaan, peserta didik, hingga proses pembelajaran dan evaluasi.
"Di dalam sistem pendidikan nasional terdapat banyak komponen yang harus berjalan selaras. Proses pembelajaran dan evaluasi harus seirama. TKA bukan satu-satunya alat ukur kualitas pendidikan karena masih ada ujian sekolah, tes semester, serta asesmen nasional yang juga menjadi bagian penting dalam melihat kualitas peserta didik maupun satuan pendidikan," ujar Mabruri saat ditemui di Kantor Dindik setempat, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan literasi dan numerasi semata, tetapi juga mencakup aspek perilaku peserta didik, karakter, hingga kondusivitas lingkungan belajar. Oleh karena itu, hasil TKA perlu dipandang secara proporsional sebagai salah satu bagian dari sistem evaluasi pendidikan yang komprehensif.
Meski demikian, pihaknya mengakui bahwa hasil TKA khususnya pada mata pelajaran Matematika masih memerlukan perhatian serius. Untuk itu, Dindik Kota Pekalongan telah menyiapkan berbagai program penguatan yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan.
Salah satu langkah konkret yang akan dilakukan adalah menjalin kerja sama dengan Tanoto Foundation, sebuah lembaga nirlaba yang memiliki fokus besar terhadap pengembangan pendidikan. Program pendampingan tersebut sebenarnya telah mulai dirintis sejak tahun 2025 dan akan semakin dioptimalkan pada tahun 2026.
"Kota Pekalongan menjadi salah satu prioritas pendampingan Tanoto Foundation. Fokusnya adalah penguatan literasi dan numerasi. Pihak Tanoto Foundation membentuk dan melatih Fasilitator Daerah (Fasda) yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas pendamping. Selanjutnya Fasda mengimplementasikan pembelajaran dan mendiseminasikan hasil implementasi pembelajaran," terang Mabruri.
Selain itu, Dindik juga akan memperkuat peran komunitas guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk jenjang SD dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk jenjang SMP. Melalui forum-forum tersebut, para guru diharapkan dapat saling berbagi praktik baik, meningkatkan kompetensi, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa.
Lanjutnya, peran pengawas sekolah juga akan dioptimalkan sebagai ujung tombak penghubung antara kebijakan dinas dengan implementasi di satuan pendidikan. Pengawas akan lebih aktif melakukan pemantauan, pembinaan, serta pendampingan terhadap sekolah-sekolah dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.
"Kami akan memaksimalkan fungsi pengawas sekolah untuk mengawal program literasi dan numerasi ini. Jadi masyarakat tidak perlu gusar dengan hasil yang ada saat ini karena kami terus melakukan berbagai upaya perbaikan secara sistematis dan berkelanjutan," tegasnya.
Mabruri menambahkan bahwa tantangan utama dalam TKA adalah karakter soal yang menggunakan pendekatan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS). Peserta didik tidak lagi hanya dituntut menghafal atau memahami materi, tetapi juga harus mampu menganalisis, mensintesis, serta mengevaluasi berbagai persoalan.
Menurutnya, kemampuan tersebut tidak dapat dibangun secara instan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, penguatan literasi dan numerasi harus dilakukan sejak dini dan menjadi bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan sejak sekolah dasar.
"Pemerintah saat ini juga mendorong pendekatan pembelajaran mendalam dan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics). Melalui pendekatan itu, anak-anak dibiasakan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengembangkan kreativitas sehingga siap menghadapi berbagai bentuk asesmen di masa depan," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang SMP Dindik Kota Pekalongan, Mualim, mengungkapkan bahwa secara umum hasil TKA SMP Tahun 2026 di Kota Pekalongan menunjukkan capaian yang cukup baik untuk pelaksanaan perdana.
Berdasarkan data rekapitulasi yang dihimpun Dindik Kota Pekalongan, nilai rata-rata TKA mata pelajaran Matematika mencapai 43,23, sedangkan Bahasa Indonesia mencapai 67,97. Untuk nilai tertinggi Matematika tercatat 96,67, sementara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia terdapat tujuh siswa yang berhasil meraih nilai sempurna 100.
"Kalau melihat pelaksanaan tahun pertama, capaian ini sudah cukup baik. Tentu masih banyak ruang yang harus kita tingkatkan bersama, tetapi hasil ini menjadi dasar yang sangat penting untuk menyusun program pembinaan ke depan," kata Mualim.
Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, distribusi nilai menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Sebanyak 961 siswa memperoleh nilai pada rentang 70 hingga kurang dari 80, kemudian 805 siswa berada pada rentang 80 hingga kurang dari 90, serta 273 siswa memperoleh nilai 90 hingga kurang dari 100. Bahkan tujuh siswa berhasil mencapai nilai sempurna.
Sementara itu, pada mata pelajaran Matematika, Dindik melihat adanya tantangan yang harus menjadi fokus pembenahan bersama. Berbagai program penguatan pembelajaran akan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan numerasi peserta didik sehingga capaian pada tahun-tahun mendatang dapat semakin baik.
Mualim juga menyampaikan bahwa antusiasme peserta didik mengikuti TKA sangat tinggi. Dari total 3.862 siswa kelas IX SMP negeri dan swasta di Kota Pekalongan, sebanyak 3.853 siswa mendaftar mengikuti TKA. Hanya dua siswa yang tidak hadir saat pelaksanaan sehingga tingkat partisipasi mencapai 99,72 persen.
"Kalau dilihat dari kuantitas peserta, ini merupakan capaian yang sangat baik dan menunjukkan tingginya kesadaran siswa maupun orang tua terhadap pentingnya TKA," ujarnya.
Saat ini, proses validasi dan verifikasi hasil TKA masih berlangsung. Setelah tahapan tersebut selesai, peserta didik akan dapat memperoleh Sertifikat Hasil Tes Kemampuan Akademik (SHTKA) yang nantinya dapat dimanfaatkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut Mualim, Kementerian Pendidikan menegaskan bahwa TKA bersifat tidak wajib, namun hasilnya akan terus dikembangkan agar menjadi salah satu barometer yang kredibel dalam mengukur keberhasilan pembelajaran. Ke depan, hasil TKA juga berpotensi menjadi salah satu pertimbangan dalam jalur prestasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Ia pun mengajak seluruh orang tua untuk terus memberikan perhatian terhadap pendidikan putra-putrinya, baik dalam aspek akademik maupun pembentukan karakter.
"Peran keluarga sangat penting. Ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepatuhan kepada orang tua, serta kesungguhan dalam belajar menjadi fondasi utama keberhasilan anak. Jika ketiga hal itu mendapatkan perhatian yang baik, insyaallah hasil belajar anak-anak akan semakin meningkat pada masa mendatang," tuturnya.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, guru, pengawas, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, ia optimistis kualitas literasi dan numerasi peserta didik akan terus meningkat.
Hasil TKA 2026 menjadi titik awal yang berharga untuk memperkuat budaya belajar yang lebih mendalam, kritis, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21.
"Melalui berbagai langkah strategis yang telah disiapkan, kami berharap capaian pendidikan di masa mendatang semakin baik dan mampu melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan zaman,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)