Details Foto


Edukasi Masyarakat Jadi Kunci, Pemkot Perkuat Pencegahan Kekerasan Perempuan dan Anak

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-06-03 ]

Edukasi Masyarakat Jadi Kunci, Pemkot Perkuat Pencegahan Kekerasan Perempuan dan Anak

Kota Pekalongan – Perempuan dan anak seharusnya tumbuh dan hidup dalam lingkungan yang aman serta terlindungi. Namun, masih adanya kasus kekerasan yang terjadi mendorong Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) menggelar Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Kekerasan Seksual di Hotel Howard Johnson, Selasa (2/6/2026).

Kegiatan tersebut diikuti oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Tim Penggerak PKK tingkat kota, kecamatan dan kelurahan, serta pengasuh pondok pesantren sebagai upaya memperkuat pemahaman masyarakat dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kepala DPMPPA Kota Pekalongan, Sriyana mengungkapkan bahwa pelatihan tersebut dilaksanakan sebagai respons atas masih adanya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Kota Pekalongan. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 28 kasus yang telah ditangani. Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berharap edukasi yang diberikan dapat menjadi langkah preventif untuk menekan angka kekerasan sekaligus memperkuat peran keluarga dan masyarakat dalam memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak.

“Pada hari ini kita mengadakan pelatihan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kegiatan ini dilaksanakan karena masih banyak kasus yang terjadi terkait perempuan dan anak. Harapan kami dari Pemerintah Kota Pekalongan, kegiatan ini dapat menekan berbagai permasalahan yang selama ini terjadi,” ungkapnya.

Ia menambahkan, DPMPPA akan terus menyasar berbagai organisasi perempuan untuk menyampaikan pesan-pesan pencegahan kekerasan kepada masyarakat. Menurutnya, peran keluarga, khususnya ibu, sangat penting dalam membangun komunikasi yang dekat dengan anak sehingga berbagai potensi ancaman maupun tindak kekerasan dapat dideteksi lebih dini.

“Harapannya dengan adanya pelatihan ini, peserta dapat menyampaikan pesan moral kepada lingkungan masing-masing, terutama kepada para ibu agar lebih dekat dengan anak-anaknya sehingga dapat mencegah berbagai bentuk kekerasan sejak dini,” tambahnya.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, DPMPPA menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang. Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberikan edukasi terkait penggunaan media sosial dan telepon genggam yang aman bagi anak-anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Sementara itu, Kasatreskrim memaparkan aspek hukum dan konsekuensi pidana yang dapat dikenakan kepada pelaku kekerasan seksual sebagai bentuk penegakan hukum dan perlindungan terhadap korban.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan, Inggit Soraya menegaskan bahwa pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi isu prioritas yang memerlukan perhatian dan keterlibatan seluruh pihak.

“Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan besar bagi kita semua. Korbannya adalah perempuan dan anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan, namun justru menjadi korban kekerasan. Jika hal ini dibiarkan, tentu akan berdampak terhadap kualitas generasi masa depan,” tandasnya.

Ia menuturkan, melalui pelatihan ini para peserta dibekali pengetahuan mengenai langkah-langkah pencegahan, pengawasan, serta penanganan ketika menemukan atau menghadapi kasus kekerasan. Ia menilai edukasi kepada masyarakat menjadi sangat penting karena berbagai kasus yang terjadi saat ini kerap melibatkan pelaku dari lingkungan terdekat korban.

“Kita mengajak GOW, PKK tingkat kelurahan dan kecamatan se-Kota Pekalongan, serta beberapa pengasuh pondok pesantren untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian. Sebagai orang tua, kita harus mampu menjaga, mengawasi, dan melindungi anak-anak. Jika terjadi sesuatu, kita harus tahu bagaimana menanganinya dan mencari solusi yang tepat,” tuturnya.

Inggit mengingatkan bahwa kasus pelecehan dan kekerasan dapat terjadi di luar dugaan, bahkan melibatkan figur yang selama ini dianggap memiliki kedudukan terhormat di masyarakat. Karena itu, kewaspadaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar harus terus ditingkatkan.

“Mudah-mudahan melalui pelatihan ini angka korban kekerasan dapat ditekan. Perlindungan terhadap perempuan dan anak membutuhkan sinergi semua pihak, tidak hanya orang tua, tetapi juga pendidik, masyarakat, dan pemerintah,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Pekalongan berharap para peserta dapat menjadi perpanjangan tangan dalam menyebarluaskan edukasi kepada masyarakat. Dengan keterlibatan aktif seluruh elemen, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih aman, ramah, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saip)