Details Foto


Prospek Menjanjikan, Pelatihan Barber Perdana BLK Pekalongan Disambut Antusias Peserta

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-06-03 ]

Prospek Menjanjikan, Pelatihan Barber Perdana BLK Pekalongan Disambut Antusias Peserta

Kota Pekalongan – Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Tahap I yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2026 resmi dibuka pada pertengahan Mei 2026. Salah satu kompetensi yang menarik perhatian pada pelaksanaan tahun ini adalah pelatihan potong rambut pria atau barber yang untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Pekalongan.

Kompetensi barber menjadi salah satu jurusan baru yang dibuka berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Tingginya permintaan layanan potong rambut serta berkembangnya industri barbershop dinilai membuka peluang usaha yang cukup besar bagi masyarakat.

Instruktur pelatihan barber, Untung Effendi, mengatakan dirinya telah berkecimpung di dunia potong rambut selama puluhan tahun. Meski telah lama menekuni profesi tersebut, tahun ini menjadi pengalaman pertamanya menjadi instruktur di BLK Kota Pekalongan.

“Sudah sekitar 30 tahun saya berkecimpung di dunia potong rambut. Ini pertama kali saya menjadi instruktur di BLK karena kompetensi barber juga baru pertama kali dibuka di sini,” katanya.

Menurut Untung, hadirnya pelatihan barber menjadi langkah positif dalam menciptakan tenaga kerja terampil sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Ia meyakini keterampilan tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi angka pengangguran apabila ditekuni dengan serius oleh para peserta.

Ia menilai usaha barber memiliki prospek yang sangat menjanjikan karena kebutuhan masyarakat terhadap jasa potong rambut tidak pernah berhenti. Bahkan, menurutnya, hampir setiap orang secara rutin membutuhkan layanan tersebut setiap bulan.

“Potensinya luar biasa. Setiap bulan orang pasti membutuhkan potong rambut. Artinya kebutuhan jasanya akan terus ada,” sambungnya.

Lebih lanjut, Untung menjelaskan bahwa profesi potong rambut saat ini juga mengalami perkembangan yang cukup signifikan dibanding beberapa tahun lalu. Jika dahulu masyarakat lebih mengenal istilah tukang cukur, kini usaha tersebut berkembang menjadi barbershop yang memiliki konsep, pelayanan, dan nilai jual yang lebih tinggi.

“Dulu mungkin hanya disebut tukang cukur. Sekarang sudah naik kelas menjadi barbershop. Dengan branding yang baik, nilai jasanya juga meningkat. Kalau dulu mungkin tarifnya sekitar Rp10 ribu, sekarang bisa mencapai Rp50 ribu bahkan lebih,” jelasnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya diajarkan teknik menggunting rambut, tetapi juga berbagai keterampilan pendukung yang menjadi standar pelayanan barbershop modern.

“Kami mengajarkan mulai dari cuci rambut, blow, teknik dasar parting atau pembagian rambut, styling menggunakan alat, sampai praktik gunting secara langsung,” tandasnya.

Meski sebagian besar peserta belum memiliki pengalaman sebelumnya di bidang barber, Untung mengaku cukup terkesan dengan kemampuan mereka dalam menyerap materi yang diberikan.

Selain keterampilan teknis, dirinya juga berupaya menanamkan pola pikir kewirausahaan kepada para peserta agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha sendiri setelah menyelesaikan pelatihan.

“Yang saya tanamkan adalah mindset bahwa usaha barber ini sangat potensial. Setelah mendapatkan bekal ilmu dari sini, mereka harus terus meng-upgrade kemampuan supaya bisa bersaing dan berkembang,” tambahnya.

Salah satu peserta pelatihan barber, Agus Supriyadi, warga Sapuro, mengaku tertarik mengikuti pelatihan karena melihat prospek usaha barber yang dinilai cukup menjanjikan di masa depan.

Menurutnya, keterampilan barber merupakan keahlian berbasis skill yang selalu dibutuhkan masyarakat sehingga memiliki peluang usaha yang relatif stabil.

“Saya memilih barber karena prospeknya ke depan sangat menjanjikan. Ini merupakan keterampilan yang berbasis skill dan peluangnya masih bagus,” bebernya.

Agus mengaku dirinya belum memiliki dasar keterampilan potong rambut sebelum mengikuti pelatihan. Karena itu, seluruh materi yang diterimanya saat ini benar-benar dipelajari dari awal.

Ia menuturkan bahwa salah satu materi dasar yang dipelajari peserta adalah teknik parting atau pembagian bagian rambut sebelum dilakukan proses pemotongan.

“Kami belajar mulai dari proses parting dulu. Jadi sebelum dipotong, rambut dibagi-bagi sesuai bagian dan tekniknya, baru kemudian dilakukan pemotongan,” tuturnya.

Meski terlihat sederhana, Agus mengakui teknik barber tidak mudah untuk dikuasai. Dibutuhkan ketelitian, kesabaran, dan latihan yang berulang agar mampu menghasilkan potongan rambut yang baik dan sesuai keinginan pelanggan.

Melalui pelatihan barber perdana tersebut, diharapkan semakin banyak masyarakat yang memiliki keterampilan kerja sekaligus peluang untuk membangun usaha mandiri, sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengurangi angka pengangguran di Kota Pekalongan.

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)