Details Foto


Edukasi Mitigasi Bencana Kelas Inklusi, Tanamkan Kesadaran Sejak Dini Anak Berkebutuhan Khusus

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-04-27 ]

Edukasi Mitigasi Bencana Kelas Inklusi, Tanamkan Kesadaran Sejak Dini Anak Berkebutuhan Khusus

Kota Pekalongan - Di tengah meningkatnya frekuensi bencana banjir di berbagai wilayah, upaya edukasi mitigasi bencana menjadi semakin penting, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Hal ini disampaikan oleh Guru Pendamping Khusus (GPK) SKB, Anggraini Nur Millati, yang menekankan pentingnya membangun kesiapsiagaan sejak usia dini melalui pendekatan pembelajaran yang inklusif dan mudah dipahami.

Anggraini menjelaskan bahwa di kelas inklusi, pembelajaran tidak hanya berfokus pada pengenalan bencana, tetapi juga pada pemahaman penyebabnya. Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah mengenalkan peran sampah sebagai faktor utama yang dapat memicu terjadinya banjir.

“Anak-anak tidak hanya belajar tentang mitigasi bencana, tetapi juga memahami bahwa hal sederhana seperti sampah dapat menjadi penyebab utama banjir. Dari sini, mereka diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan berarti juga menjaga diri mereka sendiri,” jelasnya.

Menurutnya, rasa aman tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dimulai dari kebiasaan kecil yang ditanamkan setiap hari. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang digunakan dirancang secara konkret agar mudah dipahami oleh anak-anak.

Dalam praktiknya, guru menggunakan alat peraga sederhana untuk menjelaskan proses terjadinya banjir. Anak-anak diajak mengamati langsung simulasi aliran air yang terhambat oleh tumpukan sampah. Melalui kegiatan ini, mereka dapat melihat secara nyata hubungan sebab-akibat antara perilaku manusia dan dampak yang ditimbulkan.

“Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi juga melihat dan merasakan langsung prosesnya. Hal ini membantu mereka memahami konsep dengan lebih baik,” katanya.

Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman ini dinilai efektif dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan pada anak-anak berkebutuhan khusus. Selain meningkatkan pemahaman tentang mitigasi bencana, metode ini juga membentuk karakter peduli lingkungan sejak dini.

Melalui upaya ini, diharapkan anak-anak tidak hanya menjadi lebih siap menghadapi potensi bencana, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga lingkungan sebagai langkah preventif. Edukasi yang berkelanjutan menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang tangguh dan sadar akan pentingnya mitigasi bencana.

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)