Details Foto


Gelar Tes Kesiapan Sekolah, Psikolog Lakondik: Kesiapan Anak Tidak Hanya Soal Calistung

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-04-24 ]

Gelar Tes Kesiapan Sekolah, Psikolog Lakondik: Kesiapan Anak Tidak Hanya Soal Calistung

Kota Pekalongan — ULD Lakondik (Unit Layanan Disabilitas - Layanan Konseling Pendidikan) telah menggelar Tes Kesiapan Sekolah pada 15–21 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan psikolog dari Lakondik sebagai narasumber utama dalam memberikan asesmen sekaligus edukasi kepada orang tua terkait kesiapan anak memasuki pendidikan dasar.

Tes ini diselenggarakan sebagai bagian dari implementasi Peraturan Wali Kota Pekalongan Nomor 7A Tahun 2025 yang mengatur batas usia minimal calon murid baru, yakni 6 tahun per 1 Juli. Namun, menurut psikolog Lakondik, kesiapan anak tidak dapat dilihat dari usia dan kemampuan akademik semata.

“Banyak orang tua beranggapan bahwa anak yang sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung pasti siap masuk sekolah. Padahal, kesiapan itu mencakup aspek yang jauh lebih luas,” ungkap psikolog Lakondik, Sintya Dyah Kusumastuti.

Dalam pelaksanaannya, Tes Kesiapan Sekolah Lakondik dirancang untuk mengukur berbagai aspek perkembangan anak, khususnya bagi usia 5 tahun 6 bulan hingga 5 tahun 11 bulan. Aspek yang dinilai meliputi kemampuan kognitif, motorik halus, konsentrasi, ketajaman pengamatan, hingga pemahaman konsep jumlah.

Proses asesmen dilakukan menggunakan beberapa metode, di antaranya lembar observasi yang diisi oleh guru, tes kecerdasan nonverbal, serta tes kesiapan sekolah yang telah terstandar.

Ia menjelaskan kegiatan diawali dengan pengisian lembar observasi oleh guru sebagai gambaran awal perkembangan anak. Selanjutnya, orang tua melakukan pendaftaran melalui formulir yang disediakan. Setelah jadwal ditentukan, anak mengikuti tes secara langsung.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa hasil tes kemudian disampaikan kepada orang tua dalam bentuk laporan psikologis yang berisi kesimpulan kesiapan anak serta rekomendasi pengembangan. Jika diperlukan, Lakondik juga menyediakan layanan konseling lanjutan bersama psikolog.

Sintya melihat masih adanya persepsi di masyarakat yang menilai kesiapan sekolah hanya dari kemampuan calistung. Padahal, banyak anak yang secara akademik sudah mampu, namun belum siap dari sisi perilaku dan sosial-emosi.

“Masih banyak anak yang belum mampu fokus, duduk tenang, atau mandiri, meskipun sudah bisa membaca. Ini yang perlu menjadi perhatian bersama,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, dirinya mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mempersiapkan anak. Orang tua diharapkan mampu memahami kebutuhan perkembangan anak secara menyeluruh, meliputi aspek bahasa, sosial-emosi, motorik, serta perilaku.

Ia menambahkan bahwa pelaksanaan Tes Kesiapan Sekolah ini mendapat respons positif dari masyarakat dengan jumlah peserta yang terbatas. Pihaknya berharap kegiatan ini dapat membantu orang tua mengambil keputusan yang tepat terkait kesiapan anak dalam menempuh pendidikan dasar.

Melalui pendekatan yang komprehensif dan berbasis psikologis, Lakondik berkomitmen mendukung tumbuh kembang anak agar dapat menjalani proses belajar secara optimal sejak dini.

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)