[ 2026-04-21 ]
Lulus Cum Laude S2, Tutor SKB Perkuat Transformasi Pembelajaran Inklusif dan Berdampak
Kota Pekalongan — Komitmen peningkatan mutu pendidikan nonformal di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) kembali diperkuat melalui capaian akademik salah satu tutornya, Angga Pratama Armadi Putra, yang berhasil meraih gelar Magister (S2) Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan predikat cum laude. Ia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 dan resmi diwisuda pada 18 April 2026.
Saat ditemui di SKB Kota Pekalongan, ia mengatakan bahwa pencapaian tersebut bukan sekadar keberhasilan pribadi, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di SKB.
“Bagi saya, gelar ini bukan garis akhir, tapi titik awal untuk bekerja lebih serius. Ilmu yang saya dapat harus benar-benar terasa di kelas,” katanya.
Menurutnya, SKB memiliki peran strategis sebagai lembaga pendidikan nonformal yang melayani peserta didik dengan latar belakang beragam. Oleh karena itu, pembelajaran tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Ia mendorong perubahan menuju sistem pembelajaran yang berpusat pada murid (student-centered learning).
“Belajar tidak lagi sekadar duduk dan mendengar, tapi mengalami, mencoba, dan terlibat. Karena di SKB, setiap murid punya kebutuhan yang berbeda,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan pentingnya pendekatan humanis dalam proses pembelajaran. Ia mengusung prinsip student is a friend sebagai dasar membangun kedekatan antara tutor dan peserta didik.
“Ketika murid merasa dekat dan diterima, mereka akan bertahan. Dari situ muncul rasa memiliki terhadap sekolah, dan mereka tidak mudah menyerah,” jelasnya.
Ia berharap pencapaian ini dapat menjadi inspirasi bagi rekan-rekan tutor di SKB untuk terus mengembangkan diri.
“Kalau saya bisa belajar sampai di titik ini, saya yakin siapa pun juga bisa. Usia bukan batas, dan latar belakang bukan penghalang. Di SKB, kita percaya selalu ada kesempatan kedua untuk belajar,” harapnya.
Pada implementasinya, ia mulai mendorong sejumlah perubahan konkret di lingkungan SKB, seperti penerapan metode pembelajaran yang lebih fleksibel, peningkatan keterlibatan peserta didik, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak. Selain itu, ia juga aktif membagikan pengetahuan kepada sesama tutor melalui diskusi dan pelatihan internal.
Tidak hanya berfokus pada aspek akademik, Angga juga menilai pentingnya penguatan keterampilan praktis bagi peserta didik, seperti public speaking dan pembuatan konten kreatif, sebagai bekal menghadapi dunia kerja.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia di SKB akan berdampak langsung terhadap kepercayaan masyarakat.
“Kepercayaan tidak dibangun dari kata-kata, tapi dari kompetensi dan dampak yang bisa dirasakan. Ketika pendidik terus belajar, masyarakat akan melihat keseriusan itu,” sambungnya.
Ia menyoroti pentingnya mengubah persepsi masyarakat terhadap SKB. Ia menilai bahwa SKB bukan sekadar pilihan kedua, melainkan kesempatan kedua yang memiliki nilai besar dalam memberikan akses pendidikan yang lebih inklusif dan fleksibel.
“Dengan pendekatan yang tepat, SKB bisa menjadi ruang belajar yang dekat dengan realitas hidup masyarakat,” tandasnya.
Ke depan, ia berharap SKB dapat terus berkembang, tidak hanya dikenal karena program inklusinya, tetapi juga kuat dalam program reguler serta mampu menjalin konektivitas dengan dunia kerja.
“Kita ingin SKB tidak hanya meluluskan, tapi benar-benar menyiapkan peserta didik untuk menjalani kehidupan,” tukasnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)