[ 2026-04-13 ]
Petani Pesisir Pekalongan Utara Diimbau Tanam Padi Biosalin Jelang Musim Kemarau
Kota Pekalongan - Dinas Pertanian Kota Pekalongan bersama penyuluh pertanian lapangan mengimbau para petani di wilayah Pekalongan Utara untuk mulai beralih menggunakan varietas padi biosalin, khususnya saat memasuki musim kemarau. Varietas tersebut dinilai lebih mampu beradaptasi dengan kondisi lahan pesisir yang memiliki kadar garam tinggi.
Imbauan ini disampaikan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gagal panen yang kerap terjadi saat pasokan air tawar berkurang di musim kemarau. Berbeda dengan padi non biosalin yang relatif rentan terhadap kadar garam tinggi, padi biosalin memiliki ketahanan yang lebih baik sehingga peluang keberhasilan panen lebih besar.
Penyuluh Pertanian Pekalongan Utara, Lazim Sofi, mengatakan bahwa penggunaan varietas biosalin dapat menjadi solusi bagi petani di wilayah pesisir yang sering menghadapi persoalan salinitas tanah.
“Petani Pekalongan Utara kami sarankan menggunakan padi biosalin saat musim kemarau karena varietas ini lebih tahan terhadap kadar garam tinggi dibandingkan padi non biosalin yang sering mengalami gagal panen ketika pasokan air tawar berkurang,” katanya.
Selain memiliki ketahanan terhadap salinitas, budidaya padi biosalin juga didukung penggunaan pupuk khusus bernama Tasnim. Dalam praktiknya, pupuk tersebut hanya memerlukan tambahan urea dan NPK dalam jumlah yang sangat sedikit, sehingga lebih efisien dalam proses pemupukan.
“Budidaya padi biosalin juga menggunakan pupuk khusus Tasnim, dengan tambahan urea dan NPK yang sangat sedikit sehingga tetap efisien bagi petani,” tambahnya.
Dari sisi ekonomi, pemerintah juga telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram, yang dinilai dapat memberikan kepastian harga sekaligus menjamin keuntungan bagi para petani.
Lazim menambahkan bahwa saat ini tingkat salinitas di wilayah Pekalongan Utara masih relatif rendah karena masih berada pada musim penghujan, yakni berkisar 2 hingga 5 ppt. Meski demikian, penggunaan padi biosalin tetap direkomendasikan sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi lahan yang lebih asin saat musim kemarau tiba.
“Walaupun sekarang masih musim hujan dengan tingkat salinitas sekitar 2 sampai 5 ppt, penggunaan padi biosalin tetap kami rekomendasikan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau,” tambahnya.
Dengan perlakuan budidaya yang tepat serta dukungan pemupukan yang sesuai, padi biosalin diproyeksikan dapat menjadi salah satu komoditas unggulan di kawasan pesisir Pekalongan serta mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan para petani.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)