Details Foto


464 Jiwa Masih Bertahan di Pengungsian, BPBD Kota Pekalongan Pastikan Penanganan Pengungsi Berjalan Optimal

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-02-20 ]

464 Jiwa Masih Bertahan di Pengungsian, BPBD Kota Pekalongan Pastikan Penanganan Pengungsi Berjalan Optimal

Kota Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat memastikan bahwa penanganan dampak bencana banjir yang menyebabkan warga harus mengungsi masih terus dilakukan secara intensif dan terkoordinasi. Hal tersebut disampaikan Kalakhar BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Senin sore (9/2/2026).

Budi menjelaskan bahwa, update data pengungsian per hari Senin pukul 17.30 WIB, tanggal 9 Februari 2026, jumlah warga yang mengungsi tercatat sebanyak 464 jiwa yang tersebar di beberapa titik pengungsian di wilayah Kota Pekalongan. BPBD bersama unsur terkait terus memantau kondisi pengungsi sekaligus memastikan seluruh kebutuhan dasar dapat terpenuhi dengan baik.

“Sejak awal kejadian, kami langsung bergerak cepat melakukan evakuasi warga terdampak dan menyiapkan lokasi-lokasi pengungsian yang aman. Saat ini, fokus kami adalah memastikan kondisi pengungsi tetap terlayani, mulai dari kebutuhan logistik, kesehatan, hingga keamanan,” ujar Budi.

Berdasarkan data BPBD Kota Pekalongan, pengungsi tersebar di lima titik utama. Di Aula Kecamatan Pekalongan Barat, tercatat sebanyak 227 jiwa dari 98 kepala keluarga (KK), terdiri dari 19 balita, 51 anak-anak, 120 orang dewasa, dan 37 lansia. Lokasi ini menjadi titik pengungsian dengan jumlah terbanyak.

Sementara itu, pengungsi di SDN Tirto 3 berjumlah 34 jiwa dari 14 KK, dengan rincian 4 balita, 7 anak-anak, 22 orang dewasa, dan 7 lansia. Di Posko Bahurekso, tercatat terdapat 20 jiwa pengungsi.
Selanjutnya, di Aula Kelurahan Pasirkratonkramat, jumlah pengungsi mencapai 88 jiwa, yang terdiri dari 7 balita, 16 anak-anak, 51 orang dewasa, dan 14 lansia. Adapun di Aula eks Kraton Kidul, terdapat 95 jiwa pengungsi dengan komposisi 4 balita, 15 anak-anak, 10 remaja, 46 orang dewasa, serta 20 lansia.

Budi menegaskan bahwa, BPBD tidak bekerja sendiri dalam penanganan bencana ini. Berbagai langkah penanggulangan bencana telah dilakukan secara terpadu bersama TNI, Polri, relawan, OPD terkait, serta dukungan dari masyarakat. Langkah-langkah tersebut meliputi evakuasi warga dari daerah rawan, pendirian dan pengelolaan pos pengungsian, serta pendistribusian logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan kebutuhan khusus bagi balita serta lansia.

"Selain itu, BPBD juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan instansi terkait untuk melakukan pemantauan kondisi kesehatan pengungsi, termasuk pelayanan medis dan pencegahan potensi penyakit di lokasi pengungsian,"terangnya.

Lanjut Budi menambahkan, upaya lain yang dilakukan adalah monitoring kondisi cuaca dan lingkungan, serta penyampaian imbauan kewaspadaan kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan dampak lanjutan.

“Kami juga terus melakukan evaluasi di lapangan dan menyesuaikan langkah penanganan sesuai dengan perkembangan situasi. Keselamatan warga menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan petugas, serta segera melapor apabila terjadi kondisi darurat di lingkungan masing-masing.

"Dengan sinergi semua pihak, diharapkan penanganan bencana dan pemulihan kondisi warga terdampak dapat berjalan secara optimal,"pungkasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)