Details Foto


Kemenhaj Kota Pekalongan Pastikan Pelayanan Jemaah Tetap Prima Meski Kuota PHD Berkurang

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-02-20 ]

Kemenhaj Kota Pekalongan Pastikan Pelayanan Jemaah Tetap Prima Meski Kuota PHD Berkurang


Kota Pekalongan – Kantor Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) Kota Pekalongan memastikan pelayanan kepada jemaah calon haji tetap berjalan optimal dan prima, meskipun pada musim haji tahun 1447 Hijriyah/2026 Masehi ini terjadi pengurangan kuota Petugas Haji Daerah (PHD). Komitmen tersebut disampaikan Kepala Kemenhaj Kota Pekalongan, R. Antono, usai pelaksanaan kegiatan Manasik Haji Terintegrasi tingkat Kota Pekalongan yang digelar di Ballroom Hotel Dafam Kota Pekalongan, Senin (9/2/2026).

Antono menjelaskan bahwa, pengurangan jumlah PHD merupakan kebijakan dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Haji dan Umrah RI dan bukan berada dalam ranah kewenangan kabupaten/kota. Jika sebelumnya dalam satu kloter terdapat tiga PHD, pada tahun ini jumlahnya dikurangi menjadi dua orang, yakni satu petugas bidang kesehatan dan satu petugas umum.

“Sudah disampaikan bahwa satu kloter hanya ada dua PHD, satu pelayanan kesehatan dan satu pelayanan umum. Kalau tahun-tahun sebelumnya itu tiga PHD, sekarang menjadi dua” jelasnya.

Meski demikian, Antono menegaskan bahwa, keterbatasan jumlah PHD tidak akan mengurangi kualitas pelayanan kepada jemaah calon haji asal Kota Pekalongan.

Pihaknya tetap optimistis pelayanan bisa dimaksimalkan dengan penguatan sinergi dan kolaborasi lintas pihak.

Menjawab pertanyaan terkait strategi memaksimalkan pelayanan kepada jemaah haji, Antono mengungkapkan bahwa, Kemenhaj Kota Pekalongan akan mengoptimalkan sumber daya manusia (SDM) yang ada dengan menjalin kerja sama erat bersama Pemerintah Kota Pekalongan serta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).

“Terus terang saja, dengan keterbatasan yang ada, SDM kami ada empat orang. Namun kami tetap optimis dengan cara menggandeng dan bersinergi dengan rekan-rekan, baik dari Pemkot maupun KBIHU. Seperti pelaksanaan manasik kali ini, kami bersinergi dengan KBIHU,” ujarnya.

Ia merinci, pada pelaksanaan Manasik Haji Terintegrasi tingkat Kota Pekalongan, pihaknya melibatkan empat KBIHU yang ada. Masing-masing KBIHU mengirimkan tiga orang pendamping, sehingga total terdapat 12 orang yang bergabung bersama panitia Kemenhaj untuk membentuk kepanitiaan bersama.

“Dari empat KBIHU itu masing-masing tiga orang, jadi total ada 12 orang yang bergabung dengan kami. Mereka menjadi satu kepanitiaan yang InsyaAllah bisa melaksanakan tugas dengan baik, sehingga pelayanan kepada jemaah tetap maksimal,” tambahnya.

Menurut Antono, sinergi ini menjadi kunci utama untuk memastikan seluruh jemaah calon haji mendapatkan pembinaan, pendampingan, serta pelayanan yang optimal, mulai dari tahap manasik, keberangkatan, hingga pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Ia juga menekankan bahwa, manasik haji terintegrasi merupakan salah satu upaya penting untuk menyamakan persepsi, meningkatkan pemahaman jemaah, serta mempersiapkan jemaah secara mental, fisik, dan spiritual.

“Manasik ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari ikhtiar kita agar jemaah betul-betul siap menjalankan ibadah haji dengan baik, mandiri, tertib, dan sesuai tuntunan. Dengan kebersamaan dan sinergi semua pihak, kami yakin pelayanan tetap bisa berjalan prima meskipun ada keterbatasan,” tegasnya.

Ia menyebut, kegiatan Manasik Haji Terintegrasi tingkat Kota Pekalongan Tahun 1447 Hijriyah/2026 Masehi ini diikuti oleh 345 jemaah calon haji beserta PHD.

"Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi antara Kemenhaj, pemerintah daerah, KBIHU, serta seluruh pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan ibadah haji di Kota Pekalongan,"tukasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)