[ 2026-02-19 ]
Museum Batik Gelar Festival Lunar 2026, Angkat Jejak Budaya Tionghoa Batik Peranakan
Kota Pekalongan — Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2026, Museum Batik Pekalongan menghadirkan pameran bertajuk Festival Lunar yang berlangsung mulai 11 Februari hingga 10 Maret 2026. Pameran ini mengangkat tema Batik Peranakan dimana Perjumpaan Budaya dalam Perayaan Imlek, sebagai bentuk apresiasi terhadap akulturasi budaya Tionghoa dalam perkembangan batik di Indonesia, khususnya di Kota Pekalongan.
Kurator Museum Batik, Gavi, saat ditemui di Museum Batik, Jumat (13/2/2026) mengatakan bahwa momentum Imlek menjadi waktu yang tepat untuk memperkenalkan kekayaan batik peranakan kepada masyarakat luas.
“Saat ini masih ada pameran Imlek karena momentumnya mendekati perayaan Imlek. Kami mengangkat tema batik peranakan, di mana terjadi perjumpaan budaya dalam perayaan Imlek. Di Museum Batik sendiri ada beberapa koleksi yang memiliki pengaruh Tionghoa atau China. Melalui pameran ini, kami mencoba mempublikasikan kepada masyarakat bahwa batik memiliki banyak pengaruh budaya, salah satunya dari Tionghoa,” katanya.
Dalam pameran ini, ia menjelaskan bahwa Museum Batik menampilkan kurang lebih sembilan koleksi batik yang sarat dengan pengaruh budaya Tionghoa. Beberapa di antaranya merupakan batik khas Kota Pekalongan yang telah lama dikenal sebagai representasi batik pesisir dengan nuansa warna cerah dan motif dekoratif. Adapun koleksi yang dipamerkan meliputi Batik Tokwi, Batik Buketan (Encim), Batik Lengan, Batik Latarbanji, Batik Lokcan dan lainnya.
Ia mengungkapkan bahwa motif-motif tersebut menunjukkan perpaduan estetika lokal dengan unsur budaya Tionghoa, seperti penggunaan warna-warna mencolok, ornamen bunga khas, burung hong, serta simbol-simbol keberuntungan yang identik dengan perayaan Imlek.
Untuk memperkuat nuansa perayaan Imlek, Gavi menuturkan bahwa Museum Batik turut berkolaborasi dengan Klenteng Po An Thian. Dalam kolaborasi tersebut, pihak klenteng meminjamkan sebuah altar sembahyang yang kemudian dijadikan bagian dari instalasi pameran.
“Meja altar tersebut kami gunakan sebagai display untuk batik tokwi yang kami miliki. Hal ini menjadi simbol pertemuan budaya sekaligus memperkaya pengalaman visual pengunjung,” tuturnya.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan suasana Imlek yang lebih autentik, sekaligus memberikan pemahaman kepada pengunjung mengenai hubungan historis antara Tionghoa dan perkembangan batik pesisir di Pekalongan.
Dari sisi respons publik, Gavi menyebutkan bahwa antusiasme masyarakat terbilang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari interaksi di media sosial Museum Batik yang menunjukkan banyaknya ketertarikan warganet terhadap pameran tersebut.
“Kalau saya lihat dari media sosial, cukup banyak yang melihat dan tertarik. Setelah resmi dibuka, kunjungan juga lumayan ramai, terutama dari kalangan anak muda yang datang ke sini,” tambahnya.
Menurutnya, tingginya minat generasi muda menjadi sinyal positif bahwa batik, termasuk batik peranakan, tetap relevan dan diminati lintas usia.
Pameran “Festival Lunar” ini digelar kurang lebih selama dua minggu setelah perayaan Imlek. Usai pameran bertema Imlek, Museum Batik Pekalongan telah menyiapkan agenda pameran berikutnya yang akan mengangkat tema perayaan Idul Fitri.
Dengan rangkaian pameran tematik tersebut, Museum Batik Pekalongan terus berupaya menghadirkan ruang edukasi budaya yang relevan dengan momentum perayaan hari besar, sekaligus memperkuat peran batik sebagai warisan budaya yang lahir dari keberagaman dan perjumpaan berbagai tradisi.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)