Details Foto


Skrining TBC Anak dan Dewasa Penting untuk Cegah Penularan di Lingkungan Keluarga

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-01-30 ]

Skrining TBC Anak dan Dewasa Penting untuk Cegah Penularan di Lingkungan Keluarga


Kota Pekalongan – Upaya pencegahan dan pengendalian Tuberkulosis (TBC) terus diperkuat oleh Puskesmas Pekalongan Selatan bersama Mentari Sehat Indonesia (MSI) Kota Pekalongan melalui kegiatan Active Case Finding (ACF) yang digelar di Halaman Puskesmas Pekalongan Selatan, Selasa siang (27/1/2026). Kegiatan ini menyasar masyarakat umum, khususnya kontak erat pasien TBC, baik anak-anak maupun orang dewasa, guna mendeteksi dini kasus TBC dan mencegah penularan di lingkungan keluarga.

Dokter Puskesmas Pekalongan Selatan, dr. Kartika, menjelaskan bahwa, skrining TBC pada anak dan dewasa memiliki pendekatan yang berbeda. Hal tersebut disesuaikan dengan karakteristik gejala dan metode pemeriksaan yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan.

“Kalau untuk skrining TB di Puskesmas Pekalongan Selatan itu ada dua, yakni untuk dewasa dan untuk anak-anak, karena memang skriningnya berbeda,” jelas dr. Kartika.

Untuk kelompok dewasa, skrining diawali dengan wawancara terkait keluhan batuk yang dialami pasien. Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu menjadi salah satu indikator utama yang perlu diwaspadai.

“Untuk dewasa, biasanya kita tanyakan dulu batuknya sudah berapa lama dan sudah pernah diobati atau belum. Ada kasus batuk kronis di atas dua minggu yang ternyata belum pernah berobat,” ungkapnya.

Jika ditemukan keluhan batuk berkepanjangan, petugas kesehatan biasanya akan melakukan trial pengobatan dengan antibiotik standar selama 3 hingga 6 hari. Apabila tidak terdapat perbaikan, pasien akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan berupa Tes Cepat Molekuler (TCM) atau pemeriksaan dahak.

“Nanti hasil pengobatan TB atau tidak itu kita lihat dari hasil TCM atau tes dahaknya. Kalau hasilnya positif, maka akan kita obati sebagai TB sesuai panduan dari kementerian. Kalau negatif, kita cari kemungkinan infeksi lain,” tambahnya.

Sementara itu, pada anak-anak, skrining TBC tidak hanya berfokus pada keluhan batuk. Justru, gejala TBC pada anak sering kali tidak khas dan kerap luput dari perhatian orang tua.

“Pada anak-anak, gejalanya sering berupa demam yang tidak jelas penyebabnya, berat badan tidak naik, atau kondisi gizi kurang, gizi buruk, bahkan stunting. Itu yang sering menjadi tanda adanya infeksi TB,” terang dr. Kartika.

Untuk skrining TBC anak, Puskesmas Pekalongan Selatan menggunakan metode tes Mantoux. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menyuntikkan cairan tertentu ke bawah kulit, kemudian hasilnya dibaca sekitar tiga hari setelah penyuntikan.

“Kalau nanti muncul indurasi atau bentol dengan diameter lebih dari 1 sentimeter atau 10 milimeter, biasanya kita anggap positif. Jika positif, akan kita obati sesuai pengobatan TB anak,” jelasnya.

dr. Kartika juga menegaskan pentingnya skrining terhadap anak-anak yang tinggal serumah dengan pasien TBC dewasa. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah anak sudah terinfeksi atau belum.

“Kalau di dalam satu rumah ada TB dewasa dan ada anak-anak, biasanya anak-anaknya akan kita Mantoux juga. Kalau belum tertular, kita berikan TPT atau terapi pencegahan TB,” katanya.

Menurutnya, kasus TBC pada anak di wilayah kerja Puskesmas Pekalongan Selatan tergolong cukup banyak, terutama pada anak dengan masalah gizi.

“Lumayan, terutama pada anak-anak dengan gizi kurang, gizi buruk, atau stunting. Kadang berat badan tidak naik itu pencetusnya ternyata infeksi,” ujarnya.

Untuk kasus TBC dewasa, dr. Kartika menyebutkan jumlahnya juga cukup signifikan. Selain warga sekitar, Puskesmas Pekalongan Selatan juga melayani pasien dari wilayah lain yang lokasinya lebih dekat dengan puskesmas tersebut.

“Kalau dewasa di sini juga lumayan. Ada juga yang berasal dari wilayah lain karena rumahnya lebih dekat ke sini,” katanya.

Terkait penanganan pasien yang sudah dinyatakan positif TBC, baik anak maupun dewasa, dr. Kartika menegaskan bahwa, Puskesmas mampu memberikan pengobatan selama tidak ada komplikasi.

“Kalau tidak ada komplikasi, biasanya kita obati di sini. Regimen standar pengobatan TB sudah ada dari kementerian, jadi kita mengikuti itu. Pasien akan dirujuk ke poli P2 (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) yang khusus menangani penyakit menular,” jelasnya.

Ia juga memaparkan ciri khas gejala TBC dewasa yang perlu diwaspadai masyarakat, seperti batuk lama yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, penurunan berat badan signifikan lebih dari satu kilogram dalam sebulan, serta keringat malam hingga pakaian basah.

“Kalau anak-anak, gejalanya memang tidak khas. Biasanya pembesaran kelenjar getah bening, demam naik turun, dan berat badan yang tidak bertambah,” imbuhnya.

Salah satu warga yang mengikuti skrining sebagai kontak erat pasien TBC, Ibu Sumiyati (54), warga Kuripan Yosorejo, mengaku baru pertama kali mengikuti pemeriksaan tersebut dan tidak merasakan keluhan apa pun.

“Sehat, Alhamdulillah. Nggak ada keluhan,” tuturnya.

Meski hasil pemeriksaan belum langsung keluar dan masih menunggu informasi dari kader kesehatan, ia mengapresiasi langkah Puskesmas Pekalongan Selatan yang aktif melakukan skrining.

“Alhamdulillah Puskesmas care sama yang sakit-sakit itu. Pelayanannya sangat baik,” ungkapnya.

Melalui kegiatan Active Case Finding ini, ia berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya skrining TBC sejak dini, terutama bagi anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.

" Deteksi dan pengobatan yang tepat diharapkan dapat memutus mata rantai penularan serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan," tukasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)