[ 2026-01-29 ]
Kejar Eliminasi TBC, MSI Kota Pekalongan Bersama Dinkes Intensifkan Active Case Finding Kontak Serumah
Kota Pekalongan – Upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) terus diperkuat di Kota Pekalongan. Mentari Sehat Indonesia (MSI) Kota Pekalongan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan menggelar kegiatan skrining TBC melalui metode active case finding dengan menyasar kontak serumah pasien TBC, yang dipusatkan di halaman Puskesmas Pekalongan Selatan, Selasa siang (27/1/2026).
Ketua MSI Kota Pekalongan, Ira Septiawati, menjelaskan bahwa, kegiatan ini berlangsung selama empat hari, mulai Selasa hingga Jumat, 27–30 Januari 2026, dan dilaksanakan secara serentak di empat puskesmas, yakni Puskesmas Pekalongan Selatan, Medono, Bendan, dan Tirto.
“Kegiatan ini merupakan active case finding, yaitu kami secara aktif mengundang kontak serumah pasien TBC untuk dilakukan skrining oleh petugas puskesmas. Pemeriksaannya meliputi pengecekan dahak, pemeriksaan klinis, hingga pemeriksaan darah. Selanjutnya hasil akan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui apakah terjadi penularan atau tidak,” terang Ira.
Ia menyebutkan, sasaran skrining diambil berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), khususnya pasien TBC bakteriologis semester satu dan dua tahun 2025. Dari data tersebut, tercatat sebanyak 347 orang kontak serumah se-Kota Pekalongan yang menjadi target skrining.
“Kontak serumah memang menjadi kelompok paling rentan karena penularan TBC terjadi melalui udara atau droplet. Oleh karena itu, penyisiran terhadap keluarga yang tinggal satu rumah dengan pasien TBC menjadi sangat penting untuk memutus mata rantai penularan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ira menegaskan bahwa, kegiatan ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030, serta target Provinsi Jawa Tengah yang menargetkan eliminasi lebih cepat, yakni tahun 2028.
“Kami di MSI mendapat mandat dari Kementerian Kesehatan untuk fokus pada pendampingan pasien, skrining, dan investigasi kontak pasien TBC bakteriologis. Sementara untuk penanganan klinis dilakukan oleh puskesmas. Dengan pembagian tugas ini, kami berharap upaya eliminasi TBC bisa berjalan lebih efektif,” imbuhnya.
Epidemiolog Dinkes Kota Pekalongan, Opick Taufik menyambut baik kolaborasi ini sebagai langkah strategis untuk menemukan kasus sedini mungkin, sehingga pengobatan dapat segera dilakukan dan risiko penularan di masyarakat dapat ditekan.
"Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC serta pentingnya pemeriksaan dini semakin meningkat,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)