Details Foto


Padukan Sains, Teknologi, dan Akhlak, SMP Sains Cahaya Al-Qur’an Terapkan Pembelajaran IoT

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-01-27 ]

Padukan Sains, Teknologi, dan Akhlak, SMP Sains Cahaya Al-Qur’an Terapkan Pembelajaran IoT


Kota Pekalongan — Di saat banyak siswa seusia SMP masih berada pada tahap konsumsi teknologi, SMP Sains Cahaya Al-Qur’an Kota Pekalongan justru mengambil langkah progresif dengan mengajak para siswanya memahami cara kerja teknologi sejak dini melalui penerapan pembelajaran Internet of Things (IoT).

Sekolah yang berlokasi di Jalan KH Akrom Khasani, Kelurahan Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan tersebut mengembangkan pembelajaran IoT bagi siswa kelas VII dan VIII sebagai bagian dari penguatan pendidikan sains di lingkungan sekolah berbasis pondok pesantren.

Pembelajaran ini dirancang tidak sebatas pengenalan perangkat teknologi, tetapi lebih menekankan pada proses berpikir logis, pemecahan masalah, serta praktik langsung berbasis proyek.

Program IoT tersebut merupakan inisiatif Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Sains Cahaya Al-Qur’an, Muhammad Haidar Fikri Kurniali. Inisiatif ini lahir dari komitmen sekolah untuk menyiapkan peserta didik agar memiliki bekal keterampilan teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa melepaskan nilai-nilai kepesantrenan yang menjadi karakter utama sekolah.

“Melalui program ini, kami ingin melahirkan generasi yang cakap teknologi, berakhlak, dan siap menghadapi masa depan. Anak-anak tidak hanya diajarkan menggunakan teknologi, tetapi memahami cara kerjanya dan bertanggung jawab dalam pemanfaatannya,” ujar Haidar, sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan, pada kegiatan pembelajaran yang berlangsung Sabtu (24/01/2026), para siswa mempelajari sekaligus mempraktikkan penggunaan sejumlah perangkat IoT, seperti Arduino UNO, breadboard, kabel jumper, sensor ultrasonik, sensor hujan, serta servo motor.

"Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan dengan pendekatan pembelajaran aktif yang melatih logika, ketelitian, kerja sama tim, dan kemandirian siswa. Setiap pertemuan pembelajaran ditargetkan menghasilkan sebuah prototipe sederhana sebagai output nyata dari proses belajar,"ungkapnya.

Menurut Haidar, penerapan pembelajaran IoT menjadi bukti bahwa sekolah berbasis pondok pesantren tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Justru, dari lingkungan pesantren, siswa dididik untuk menguasai teknologi secara bertanggung jawab, disiplin, serta berlandaskan nilai akhlak mulia.

“Adanya Program IoT di sekolah kami, menandakan bahwa, sekolah berbasis pondok pesantren mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dari pondok, kami ingin membentuk siswa-siswi yang mampu menguasai teknologi modern, namun tetap menjunjung tinggi nilai akhlak, adab, dan kedisiplinan,” tegasnya.

Sementara itu, Pengajar IoT SMP Sains Cahaya Al-Qur’an, Mahardika Fadhila Nararya, menuturkan bahwa, pembelajaran IoT memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan berani bereksperimen.

Ia menekankan, pendekatan praktik langsung membuat siswa lebih mudah memahami konsep teknologi yang selama ini hanya mereka lihat sebagai produk jadi.

“Melalui pembelajaran IoT, siswa kami dorong untuk berani mencoba, berpikir kritis, dan berkreasi. Kalian semua punya kesempatan menjadi pembuat teknologi, bukan hanya pemakai teknologi,” ujarnya saat memberikan motivasi kepada para siswa.

Lanjutnya, melalui penerapan pembelajaran IoT ini, SMP Sains Cahaya Al-Qur’an menghadirkan model pendidikan yang memadukan sains, teknologi, dan nilai-nilai kepesantrenan secara seimbang.

" Pendekatan tersebut diharapkan mampu menyiapkan peserta didik yang tidak hanya cakap menghadapi perkembangan teknologi di masa depan, tetapi juga memiliki arah, karakter, serta akhlak dalam memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab," tukasnya.

(Tim Liputan Kominfo/Dian)