Details Foto


SPPG Tergerak Donasi Paket Makanan ke Pengungsi dan Warga Terdampak Banjir

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-01-20 ]

SPPG Tergerak Donasi Paket Makanan ke Pengungsi dan Warga Terdampak Banjir

Kota Pekalongan – Kepedulian berbagai elemen masyarakat terhadap warga terdampak banjir di Kota Pekalongan terus mengalir. Salah satunya datang dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang turut berpartisipasi menyalurkan bantuan paket makanan bagi para pengungsi maupun warga terdampak banjir yang tidak mengungsi. Bantuan tersebut dikoordinasikan melalui Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P2KB) Kota Pekalongan.

Kepala Dinsos-P2KB Kota Pekalongan, Yos Rosyidi, saat ditemui di Posko Dapur Umum Dinsos-P2KB Kota Pekalongan, Selasa (20/1/2026), menjelaskan bahwa, banjir besar yang melanda Kota Pekalongan sejak 17 Januari 2026 berdampak sangat luas. Ribuan warga terdampak, baik yang mengungsi maupun yang memilih bertahan di rumah masing-masing.

“Banjir tahun 2026 di awal tahun ini memang betul-betul besar dampaknya. Banyak warga yang terdampak, sehingga penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah saja, tetapi perlu melibatkan seluruh komponen masyarakat,” ujar Yos.

Ia menjelaskan, Dinsos-P2KB meng-cover kebutuhan dasar warga yang berada di titik-titik pengungsian, mulai dari permakanan pagi, siang, dan malam, hingga kelengkapan kebutuhan pengungsian lainnya. Namun di luar pengungsian, masih terdapat banyak warga terdampak yang tidak mengungsi dan tetap membutuhkan bantuan.

“Warga yang tidak mengungsi juga jumlahnya banyak dan mereka sama-sama terdampak. Mereka tidak bisa beraktivitas normal, bahkan tidak bisa memasak. Oleh karena itu, partisipasi dari berbagai pihak sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Selama ini, lanjut Yos, di masyarakat juga bermunculan dapur-dapur umum mandiri yang dikelola secara swadaya. Untuk dapur umum mandiri di luar pengungsian, logistiknya disuplai oleh BPBD. Namun, masih ada wilayah-wilayah tertentu yang belum sepenuhnya terjangkau bantuan.

Melalui hasil rapat penanganan bencana yang dilaksanakan Pemerintah Kota Pekalongan, kemudian diminta partisipasi dari SPPG untuk turut serta membantu penanganan korban banjir, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan makan siang bagi pengungsi dan warga terdampak di luar pengungsian.

“Mulai kemarin, SPPG sudah memberikan bantuan. Masing-masing SPPG menyumbang sekitar 300 hingga 500 bungkus paket makanan. Distribusinya diatur oleh koordinator SPPG, dengan sasaran sebagian untuk pengungsi dan sebagian lagi untuk warga terdampak di luar pengungsian,” terangnya.

Yos mengungkapkan, berdasarkan data sementara, jumlah warga terdampak banjir di Kota Pekalongan mencapai sekitar 13.000 orang, dengan jumlah pengungsi sekitar 2.500 orang. Untuk pengungsi ini, kebutuhan makan siang di-cover oleh SPPG, sementara dapur umum Dinsos-P2KB memasak untuk kebutuhan makan pagi dan malam.

“Dalam satu hari, SPPG hanya meng-cover makan siang. Untuk warga di luar pengungsian juga di-cover oleh SPPG, tetapi satu kali saja, yaitu makan siang,” jelasnya.

Ia menambahkan, khususnya di wilayah Pekalongan Barat, dampak banjir terbilang sangat tinggi dan masih terdapat wilayah yang sulit dijangkau bantuan. Oleh karena itu, direncanakan Pekalongan Tanggap juga akan membuka dapur umum tambahan yang menyasar warga terdampak di luar pengungsian.

“Warga ini tetap tinggal di rumah, terdampak banjir, tidak bisa masak, dan tidak mengungsi. Mereka akan di-cover oleh dapur umum Pekalongan Tanggap. Sehingga bantuan semakin merata,” katanya.

Yos menegaskan bahwa, bantuan dari SPPG tersebut murni bersumber dari donasi dan kepedulian masing-masing SPPG, bukan berasal dari anggaran negara.

“Itu di luar anggaran negara. Murni donasi, semacam CSR atau anggaran mitra dari masing-masing SPPG,” tegasnya.

Terkait mekanisme distribusi, ia menjelaskan bahwa, sebagian bantuan dari SPPG didrop ke Posko Dapur Umum Dinsos-P2KB untuk selanjutnya disalurkan ke pengungsian. Sementara untuk warga di luar pengungsian, SPPG langsung menyalurkan ke kelurahan masing-masing sesuai wilayah binaan mereka.

“SPPG yang lebih tahu wilayahnya, jadi distribusi di luar pengungsian langsung mereka atur,” imbuhnya.

Ia juga memastikan bahwa keterlibatan SPPG dalam penanganan bencana ini tidak mengganggu program makan bergizi gratis (MBG) di sekolah.

“Tidak mengganggu sama sekali, karena ini bukan menggunakan anggaran negara,” ujarnya.

Terpisah, Koordinator SPPG Kota Pekalongan, M. Noor Faishar Zakiy, menegaskan bahwa, bantuan yang diberikan bersifat sukarela.

"Donasi paket makanan ini murni dari masing-masing SPPG, menggunakan biaya mitra. Tidak menggunakan dana bantuan pemerintah. Per SPPG kami menyalurkan sekitar 300 hingga 500 porsi untuk makan siang,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Dapur Umum Dinsos-P2KB Kota Pekalongan, Elly Sumaryanti, mengaku sangat terbantu dengan adanya partisipasi SPPG dan donasi dari berbagai pihak.

“Alhamdulillah, bantuan dari SPPG ini sangat membantu kami. Tenaga kami juga terbatas, jadi dukungan ini benar-benar meringankan,” ujarnya.

Elly mengungkapkan, sejauh ini pihaknya telah menerima bantuan dari sekitar 10 SPPG dengan total paket makanan yang diterima mencapai kurang lebih 2.740 bungkus. Jumlah tersebut bervariasi, mulai dari 300 hingga 500 bungkus per SPPG, bahkan ada yang di bawah 100 bungkus karena sebagian bantuan juga disalurkan langsung ke sekolah-sekolah.

“Begitu bantuan kami terima, langsung kami cocokkan dengan daftar penerima, lalu segera kami distribusikan ke titik-titik pengungsian,” jelasnya.

Ia juga memberikan masukan agar ke depan waktu pengiriman bantuan dapat lebih diperhatikan, terutama untuk kebutuhan makan siang, mengingat banyak anak-anak, lansia, dan warga rentan di pengungsian. Selain itu, ia berharap kualitas dan kelayakan makanan yang didonasikan tetap menjadi perhatian utama.

“Ini bentuk kepedulian yang sangat baik. Harapannya, dengan kolaborasi antara pemerintah, SPPG, dan masyarakat, seluruh warga terdampak banjir di Kota Pekalongan bisa tertangani dengan baik,” pungkasnya.

(Tim Liputan Kominfo/Dian)