Details Foto


Banjir Akibat Curah Hujan Tinggi, Pemkot Siapkan Sejumlah Lokasi Pengungsian dan Optimalkan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Warga

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-01-19 ]

Banjir Akibat Curah Hujan Tinggi, Pemkot Siapkan Sejumlah Lokasi Pengungsian dan Optimalkan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Warga

Kota Pekalongan – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kota Pekalongan sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari menyebabkan banjir di sejumlah titik wilayah. Luapan air sungai serta sistem drainase yang tidak mampu menampung debit air membuat permukiman warga tergenang, khususnya di wilayah Kecamatan Pekalongan Barat dan sebagian Kecamatan Pekalongan Timur.

Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemerintah Kota Pekalongan bergerak cepat dengan menyiapkan sejumlah lokasi pengungsian bagi warga terdampak banjir. Beberapa titik pengungsian yang telah difungsikan di antaranya Aula Kantor Kecamatan Pekalongan Barat, SD Negeri Tirto, serta beberapa lokasi pengungsian lain di wilayah Kecamatan Pekalongan Timur. Langkah ini diambil guna memastikan keselamatan warga serta menjamin kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi.

Sekretaris Daerah Kota Pekalongan, Nur Priyantomo, menegaskan bahwa, Pemkot Pekalongan berkomitmen memberikan penanganan maksimal bagi warga terdampak banjir, baik dari sisi keselamatan, kesehatan, hingga logistik.

“Banjir yang terjadi ini dipicu oleh curah hujan yang cukup tinggi semalaman. Pemerintah Kota Pekalongan terus berupaya memastikan warga terdampak mendapatkan perlindungan yang layak melalui penyediaan lokasi pengungsian serta pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, selimut, layanan kesehatan, dan kebutuhan lainnya,” ujarnya disela-sela tinjauannya di Lokasi Pengungsian yang berada di Aula Kantor Kecamatan Pekalongan Barat, Sabtu (17/1/2025).

Ia menambahkan, koordinasi lintas OPD terus dilakukan, mulai dari BPBD, Dinas Sosial, DPUPR, Dinas Kesehatan, hingga aparatur kewilayahan, agar penanganan banjir berjalan cepat dan terintegrasi.

"Kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan, terutama bagi warga yang berada di daerah rawan banjir,” imbuhnya.

Lanjutnya, Pemerintah Kota Pekalongan terus memantau perkembangan kondisi banjir di lapangan serta memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan pelayanan yang optimal.

"Selain penanganan darurat, Pemkot juga menyiapkan langkah-langkah lanjutan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan apabila intensitas hujan kembali meningkat,"tegasnya.

Sementara itu, Camat Pekalongan Barat, M. Natsir, menjelaskan bahwa jumlah pengungsi di wilayahnya terus mengalami peningkatan seiring meluasnya genangan air.

“Ini evakuasi masih berjalan. Jadi memang jumlah pengungsi ini makin bertambah terus. Tadi sekitar pukul 05.00 sampai 05.30 pagi, data terakhir tercatat ada 98 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 267 jiwa. Namun sekarang ini terus bertambah, perkiraan sementara bisa mencapai sekitar 320 jiwa,” jelasnya.

Terkait kapasitas Aula Kantor Kecamatan Pekalongan Barat, Natsir mengakui bahwa daya tampung mulai terbatas.

“Untuk kapasitas aula sendiri sekitar 200 orang. Karena overload, akhirnya kami juga menggunakan selasar dan area parkir. Memang kurang, sehingga kami sudah menyiapkan penambahan lokasi pengungsian,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, pihaknya telah meminta Kelurahan Pasir Kraton Kramat untuk membuka lokasi pengungsian tambahan di eks Kantor Kelurahan Kraton Kidul, Jalan Veteran. Selain itu, Aula Kelurahan Pringrejo juga disiapkan untuk menampung pengungsi jika jumlah terus bertambah.

“Nanti ketika sudah overload, para pengungsi akan kami arahkan dan kami bantu mobilisasinya ke dua lokasi tersebut,” tambahnya.

Di sisi lain, banjir yang datang secara cepat turut dirasakan langsung oleh warga. Salah satu pengungsi di Aula Kantor Kecamatan Pekalongan Barat, Tatik Anisa, warga Tirto Kampung Baru RT 04 RW 08, mengungkapkan bahwa air mulai masuk ke rumahnya sejak Jumat malam (16/1/2025).

“Sejak tadi malam pukul 21.00 atau 9 malam air sudah masuk rumah. Tergolong cepat, soalnya benteng Sungai Bremi sudah limpas sejak pukul 20.00 atau 8 malam,” tuturnya.

Ia menyebutkan, ketinggian air di dalam rumahnya mencapai sekitar 70 sentimeter, sehingga memaksanya mengungsi bersama keluarga.

“Saya ngungsi ke sini sekitar pukul 01.30 atau setengah dua malam. Mengungsi bersama keluarga ada tiga orang,” katanya.

Sebagai warga terdampak, Tatik berharap penanganan banjir dapat dilakukan secara nyata dan berkelanjutan.

“Harapannya ya mudah-mudahan cepat bisa diatasi, tidak janji-janji saja,” tutupnya penuh harap.

(Tim Liputan Kominfo/Dian)