[ 2026-01-14 ]
Sukses Digelar, Program Museum Goes To School Perkuat Edukasi Batik Pelajar Pekalongan
Kota Pekalongan – Program Museum Goes To School yang telah dilaksanakan oleh Museum Batik Kota Pekalongan sepanjang tahun 2025 terbukti menjadi salah satu strategi efektif dalam memperkuat edukasi batik bagi generasi muda. Ke depan, program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan dikembangkan pada tahun 2026 sebagai upaya menjaga keberlanjutan kunjungan museum di tengah keterbatasan anggaran.
Kepala Museum Batik Kota Pekalongan, Nurhayati Sinaga, menjelaskan bahwa pelaksanaan Museum Goes To School pada 2025 berangkat dari hasil pemetaan pengunjung museum yang menunjukkan dominasi kalangan pelajar. Berdasarkan temuan tersebut, sekolah dinilai menjadi sasaran paling efektif untuk mengenalkan batik sekaligus menanamkan pemahaman sejarah dan budaya kepada generasi muda.
“Iya, jadi setelah kita petakan, pengunjung terbanyak kita kan dari sekolah. Dan juga memang kalau orang tua mungkin tentang batik dia tahu ya. Target kami mensosialisasikan tentang batik ini kepada generasi muda,” jelasnya Nurhayati.
Ia menambahkan, konsep Museum Goes To School bukanlah hal baru. Program serupa pernah dijalankan pada tahun-tahun sebelumnya dan kembali diimplementasikan pada 2025 dengan hasil yang positif. Melalui kunjungan langsung ke sekolah, museum dapat menjangkau peserta didik yang memiliki keterbatasan akses, sekaligus mendorong minat mereka untuk berkunjung langsung ke museum.
Pada pelaksanaannya, program Museum Goes To School menyasar sekolah-sekolah di wilayah Kota dan Kabupaten Pekalongan hingga Kabupaten Batang, dengan jenjang pendidikan yang beragam, mulai dari SMP, SMA, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB), termasuk sekolah bagi peserta didik difabel. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan batik, sejarah perkembangannya, serta peran batik sebagai identitas budaya daerah.
Ia berharap, keberlanjutan program ini pada 2026 dapat semakin memperkuat posisi museum sebagai ruang belajar yang inklusif dan dekat dengan generasi muda.
“Kata orang itu kalau ingin tahu kotamu datanglah ke museum. Ingin tahu asal itu datang ke museum. Kalau tahu asal maka dia akan tahu tujuan. Jadi supaya kita mengakar dan tahu ke mana harus pergi, anak-anak muda yuk datang ke museum,” tandasnya.
Sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat, Museum Batik Kota Pekalongan tetap memberlakukan tarif masuk yang terjangkau. Pada 2026, harga tiket ditetapkan sebesar Rp3.000 untuk pelajar, Rp7.000 untuk pengunjung dewasa, dan Rp20.000 untuk wisatawan mancanegara. Museum dibuka mulai pukul 08.00 WIB, dengan layanan loket tiket hingga pukul 15.00 WIB, dan jam tutup museum pada pukul 16.00 WIB.
Dengan keberlanjutan program edukasi seperti Museum Goes To School, pihaknya berharap dapat terus menjadi garda terdepan dalam pelestarian dan pewarisan nilai-nilai budaya batik kepada generasi penerus.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)