[ 2026-01-08 ]
Gotong Royong Aparat dan Warga, Penanganan Banjir Pabean Terus Dipercepat
Kota Pekalongan — Semangat gotong royong antara aparat dan masyarakat tampak kuat dalam upaya percepatan penanganan banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Bremi di wilayah Pabean, Kelurahan Padukuhan Kraton, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Tanggul dilaporkan jebol pada Rabu dini hari (7/1/2026) sekitar pukul 02.45 WIB dengan panjang kerusakan diperkirakan mencapai 35 meter.
Peristiwa tersebut menyebabkan air sungai mengalir deras masuk ke permukiman padat penduduk di RW 12 Pabean, Kelurahan Padukuhan Kraton, serta berdampak hingga wilayah Jeruksari, Kabupaten Pekalongan. Sedikitnya 300 kepala keluarga (KK) terdampak banjir, sementara sekitar 100 jiwa terpaksa mengungsi ke lokasi aman dan rumah kerabat.
Camat Pekalongan Utara, Wismo Adityo, mengatakan bahwa sejak pagi hari unsur Forkopimcam, PSDA, TNI, relawan, serta berbagai pihak terkait langsung bergerak melakukan penanganan darurat di lokasi tanggul jebol. Fokus utama saat ini adalah menutup aliran air agar tidak terus menggenangi wilayah permukiman warga.
“Tujuannya supaya air tidak terus-menerus masuk ke wilayah RW 12. Sejak pagi kami langsung memasang tanggul darurat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanganan sementara dilakukan dengan memasang sandbag yang diperkuat sesek dan kayu dolken. Penguatan juga dilakukan di sisi kanan dan kiri titik jebol untuk mencegah pelebaran kerusakan.
Menurutnya, tanggul tersebut dibangun sekitar tahun 2019, sehingga perlu evaluasi menyeluruh setelah kondisi darurat tertangani.
“Perkiraan sementara, air masuk dari bawah karena ada rongga atau istilahnya beledos, sehingga membongkar tanggul sekaligus jalur inspeksi di sampingnya,” jelas Wismo.
Dampak banjir juga dirasakan di sektor pendidikan. SD Pabean terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar karena lantai satu sekolah terendam air. Sementara itu, lantai dua sekolah dimanfaatkan sebagai lokasi pengungsian sementara bagi warga terdampak.
Dandim 0710/Pekalongan Letkol Arm Garry Herlambang, S.Sos menyampaikan bahwa Kodim telah mengerahkan satu Satuan Setingkat Peleton (SST) personel untuk membantu percepatan penanganan. Dua regu ditempatkan langsung di lokasi tanggul jebol, sedangkan satu regu lainnya disiagakan untuk mendukung distribusi logistik dan pengamanan di titik pengungsian.
“Saat ini kita masih menunggu perlengkapan untuk penutupan darurat, seperti sandbag, sesek, dan terpal. Kalau material sudah datang, kita akan bergerak bersama-sama mempercepat penanganan,” tutur Dandim Garry.
Ia menambahkan bahwa, target utama adalah menutup kebocoran tanggul secepat mungkin guna menghentikan aliran air masuk ke permukiman. Hingga saat ini, belum ada permintaan evakuasi resmi karena sebagian besar warga memilih mengungsi secara mandiri ke rumah saudara atau lokasi yang dinilai lebih aman.
Kesaksian warga menggambarkan betapa cepatnya air masuk ke permukiman. Fachruddin, warga RT 03 RW 12 sekaligus pengasuh Majelis Ta’lim Darul Khairot Pabean, menuturkan bahwa banjir datang seperti banjir bandang.
“Hitungannya bukan menit, tapi detik. Tadi malam di dalam rumah hampir satu meter,” tuturnya. Bahkan, pintu belakang rumahnya jebol akibat terjangan air.
Hal senada disampaikan Roni (50), warga Pabean, yang mengaku warga sempat panik karena banjir kali ini tergolong paling parah. Aktivitas warga lumpuh, termasuk kegiatan sekolah anak-anak yang terpaksa terhenti sementara.
“Air cepat naik, warga kaget dan panik. Banyak anak sekolah tidak bisa masuk,” katanya.
Ketinggian genangan di rumah warga bervariasi antara 20 hingga 50 sentimeter, bahkan lebih tinggi pada rumah-rumah dengan elevasi lantai rendah. Setelah tanggul darurat terpasang, pemerintah berencana melakukan pemompaan untuk mempercepat surutnya genangan air.
Dinas Sosial dan BPBD juga telah menyiapkan dukungan logistik bagi warga terdampak, termasuk rencana pendirian dapur umum yang akan dikelola bersama unsur TNI dan relawan. Bantuan makanan, air bersih, serta kebutuhan dasar lainnya disiagakan untuk memastikan warga tetap mendapatkan pelayanan yang layak selama masa tanggap darurat.
Hingga siang hari, petugas gabungan bersama masyarakat masih terus bekerja di lapangan dengan semangat gotong royong untuk meminimalkan risiko banjir susulan sekaligus memastikan keselamatan dan kebutuhan warga terdampak terpenuhi.
(Tim Liputan Kominfo/Dian/Allem)