[ 2026-01-08 ]
2.400 Bumil, Busui, dan Balita di Kota Pekalongan Telah Terima MBG
Kota Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan terus memperluas jangkauan Program Makan Bergizi (MBG) sebagai salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan. Hingga saat ini, sebanyak 2.400 ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita (B3) di Kota Pekalongan telah menerima manfaat Program MBG.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Pekalongan, M. Noor Faishal Zakiy, menjelaskan bahwa, dari total 64.000 sasaran penerima manfaat MBG di Kota Pekalongan, kelompok B3 menjadi salah satu prioritas penting yang terus dimaksimalkan ke depan.
“Dari total sasaran penerima manfaat MBG di Kota Pekalongan, sebanyak 2.400 di antaranya merupakan kelompok bumil, busui, dan balita. Ke depan tentu akan terus kita maksimalkan agar cakupan dan manfaatnya semakin luas,” ungkap Faishal saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (07/01/2026).
Ia menyampaikan bahwa, penyaluran MBG bagi kelompok B3 di Kota Pekalongan telah dimulai sejak September 2025. Dalam pelaksanaannya, SPPG bekerja sama dengan berbagai pihak di tingkat wilayah hingga akar rumput guna memastikan bantuan tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Untuk mekanisme penyaluran, Faishal menjelaskan bahwa, pada prinsipnya sama seperti kelompok penerima lainnya, yakni melalui kesepakatan bersama para kader posyandu di masing-masing wilayah. Kader posyandu berperan menentukan titik-titik pengambilan bantuan MBG yang mudah dijangkau oleh penerima manfaat.
“Biasanya para kader posyandu menyepakati titik-titik pengambilan MBG. Namun, bagi bumil, busui, atau balita yang berhalangan hadir dan tidak bisa mengambil langsung, bantuan MBG akan kami antarkan secara door to door ke rumah masing-masing,” jelasnya.
Lebih lanjut, Faishal Zakiy menegaskan bahwa, dalam penentuan sasaran kelompok B3, SPPG Kota Pekalongan tidak sepenuhnya berpatok pada ketentuan umum, melainkan mengedepankan kondisi riil di lapangan. Prioritas utama diberikan kepada bumil, busui, dan balita yang memiliki kondisi stunting atau berisiko stunting.
“Untuk kelompok B3, kami tidak berpatok kaku pada ketentuan. Kami lebih mengutamakan mereka yang memang kondisi kesehatannya membutuhkan, terutama yang mengalami atau berisiko stunting. Namun di sisi lain, kami juga mempertimbangkan adanya program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang saat ini juga berjalan,” ujarnya.
Menurutnya, sinergi antara Program MBG dan PMT sangat penting agar intervensi gizi yang diberikan tidak tumpang tindih, tetapi justru saling melengkapi dalam upaya menurunkan angka stunting dan meningkatkan status gizi masyarakat.
Terkait pendataan awal penerima manfaat kelompok B3, Faishal menjelaskan bahwa, prosesnya dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi. SPPG Kota Pekalongan melakukan komunikasi intensif melalui koordinator kecamatan (korcam) dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan di tingkat wilayah.
“Mekanisme awal pendataan kelompok B3 kami lakukan dengan berkomunikasi melalui korcam, kemudian berkoordinasi dengan kecamatan, puskesmas, dan posyandu. Dari sana kami memetakan calon penerima manfaat agar data yang digunakan benar-benar valid dan sesuai kondisi lapangan,” terangnya.
Dengan pola koordinasi yang terstruktur dan kolaboratif tersebut, ia berharap, penyaluran MBG bagi kelompok bumil, busui, dan balita di Kota Pekalongan dapat berjalan optimal, tepat sasaran, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan ibu dan anak.
" Kami berkomitmen untuk terus memperkuat program-program pemenuhan gizi sebagai investasi jangka panjang dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas," tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)