Details Foto


Rakor TPID Nataru, Wali Kota Aaf Dorong Koordinasi Lintas Sektor Jaga Kondusivitas Kota Pekalongan

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-12-16 ]

Rakor TPID Nataru, Wali Kota Aaf Dorong Koordinasi Lintas Sektor Jaga Kondusivitas Kota Pekalongan

Kota Pekalongan — Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan terus mematangkan kesiapan menghadapi momentum Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) melalui penguatan koordinasi lintas sektor. Hal tersebut ditegaskan Wali Kota Pekalongan, H.A. Afzan Arslan Djunaid atau akrab disapa Aaf saat memberikan pengarahan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Ekonomi Keuangan Daerah (Ekuinda) Kota Pekalongan di Ruang Buketan Setda Kota Pekalongan, Selasa (16/12/2025).

Dalam arahannya, Wali Kota Aaf menekankan bahwa perayaan Nataru saat ini kembali berlangsung normal setelah beberapa tahun sebelumnya dilaksanakan dengan berbagai pembatasan akibat pandemi COVID-19. Kondisi tersebut membawa konsekuensi meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas ekonomi, serta kunjungan warga dari luar daerah ke Kota Pekalongan.

“Di tahun-tahun sebelumnya, terutama saat pandemi, kegiatan Nataru sangat terbatas. Lalu tahun 2023 mulai ada pelonggaran, dan di 2024 sudah berjalan penuh. Praktis, kegiatan masyarakat sekarang kembali ramai. Ini tentu perlu kita siapkan bersama-sama agar semuanya berjalan aman, nyaman, dan tertib,” ujar Wali Kota Aaf.

Ia menegaskan bahwa, Pemkot Pekalongan memiliki tanggung jawab untuk memastikan kelancaran aktivitas ibadah umat Kristiani, khususnya terkait akses menuju rumah ibadah, pengaturan lalu lintas, ketersediaan parkir, serta jaminan keamanan. Menurutnya, toleransi dan rasa aman harus terus dijaga sebagai ciri khas Kota Pekalongan yang selama ini dikenal kondusif.

“Kita ingin saudara-saudara kita yang melaksanakan ibadah Natal merasa aman dan nyaman. Akses lalu lintas, parkir, hingga pengamanan harus benar-benar diperhatikan. Forkopimda juga akan melakukan pengecekan sebagai bentuk kesiapsiagaan,” tegasnya.

Selain aspek keamanan dan ketertiban, Wali Kota Aaf juga menyoroti persoalan lalu lintas yang berpotensi meningkat selama libur Nataru. Ia mengingatkan bahwa Kota Pekalongan masih menjadi jalur lintasan kendaraan besar seperti bus dan truk, yang berbeda karakteristiknya dengan arus mudik Lebaran.

“Kalau Lebaran biasanya sudah ada pembatasan truk H-7, tapi di Nataru ini waktunya relatif mepet. Ini yang harus kita waspadai bersama. Jangan sampai terjadi kemacetan parah, apalagi di titik-titik rawan,” ungkapnya.

Salah satu titik yang menjadi perhatian khusus adalah perlintasan kereta api. Wali Kota menyebut bahwa, hampir di setiap perlintasan kereta api terdapat potensi kemacetan dan kerusakan jalan yang dapat mengganggu kelancaran arus kendaraan, terutama saat volume lalu lintas meningkat.

“Perlintasan kereta api ini sering menjadi titik rawan. Aspalnya banyak yang rusak dan berguncang. Kalau macet, dampaknya bisa panjang, sampai ke Monumen Perjuangan, Plaza Pekalongan, dan sekitarnya. Ini perlu kejelasan kewenangan dan penanganan bersama,” ujarnya.

Di sisi lain, pengendalian inflasi menjadi agenda strategis dalam Rakor TPID tersebut. Wali Kota Aaf mengakui bahwa, kenaikan harga bahan pokok menjelang Nataru merupakan hal yang sulit dihindari. Namun demikian, ia menekankan bahwa, lonjakan harga harus tetap dikendalikan agar tidak memberatkan masyarakat.

“Inflasi di momen besar seperti Nataru itu pasti ada. Ora mungkin ora mundak (tidak mungkin, tidak naik) Tapi yang penting, kenaikannya jangan terlalu signifikan. Kita tekan semaksimal mungkin,” katanya.

Menurutnya, aspek yang paling krusial adalah terjaminnya ketersediaan bahan pokok di pasar. Ia mencontohkan kondisi harga beras di Kota Pekalongan yang sempat menjadi salah satu tertinggi di Jawa Tengah, namun tetap tidak menimbulkan gejolak di masyarakat karena stok barang masih tersedia dan distribusi berjalan lancar.

“Ketersediaan barang itu kunci. Masyarakat masih tenang karena barangnya ada. Tapi tetap harus kita antisipasi, terutama komoditas seperti beras, telur, dan cabai yang rawan naik,” jelasnya.

Wali Kota Aaf juga menginstruksikan dinas dan instansi terkait untuk meningkatkan pengawasan terhadap potensi penimbunan bahan pokok. Upaya operasi pasar dan langkah intervensi lainnya disiapkan sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga.

Tak hanya itu, sektor layanan publik turut menjadi perhatian, mulai dari layanan PDAM hingga pengelolaan persampahan. Ia menegaskan pentingnya menjaga kualitas layanan air bersih agar tidak menimbulkan keluhan, terutama saat banyak warga perantauan pulang kampung ke Kota Pekalongan.

“Jangan sampai nanti air PDAM macet atau keruh, lalu jadi perbincangan. Kita antisipasi dari sekarang,” tegasnya.

Terkait persampahan, Wali Kota Aaf optimistis keberadaan TPST dan TPST-3R yang telah dibangun di sejumlah titik dapat membantu menjaga kebersihan kota selama libur panjang. Ia berharap para pemudik dan wisatawan yang datang ke Pekalongan dapat merasakan kenyamanan tanpa keluhan berarti.

“Harapan kita sederhana, warga yang mudik atau berkunjung ke Pekalongan tidak ngrasake atau ngeluh soal kondisi kota. Semuanya lancar, aman, dan nyaman,” ucapnya.

Menutup arahannya, Wali Kota Aaf menekankan bahwa, keberhasilan pengamanan dan pengendalian Nataru tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi dan koordinasi yang solid antarperangkat daerah, Forkopimda, serta seluruh pemangku kepentingan.

“Keamanan, kenyamanan ibadah Natal, kelancaran lalu lintas, stabilitas harga, ketersediaan barang, PDAM, hingga persampahan harus kita koordinasikan bersama. Dengan kerja sama yang baik, insyaallah Kota Pekalongan tetap kondusif selama Nataru,” pungkasnya.

 

(Tim Liputan Kominfo/Dian)