Details Foto


Produksi Batik Alami Kian Meningkat, Pasar Semakin Terbuka: PMU AF Pekalongan Percepat Laju Perkembangan Positif

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-12-16 ]

Produksi Batik Alami Kian Meningkat, Pasar Semakin Terbuka: PMU AF Pekalongan Percepat Laju Perkembangan Positif

Kota Pekalongan — Project Management Unit Adaptation Fund (PMU AF) Pekalongan menggelar kegiatan Refleksi Kelompok Batik Ekologis selama 3 hari (11-13 Desember 2025), berlangsung di Hotel Howard Jhonson setempat. Kegiatan ini sebagai upaya memperkuat kelembagaan perajin batik berbasis pewarna alami sekaligus memfinalisasi pembentukan rumah livelihood atau rumah penghidupan berkelanjutan yang akan dibangun di Kota Pekalongan.

Kegiatan tersebut menghadirkan peserta dari berbagai unsur, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, kelompok batik ekologis, Komunitas Batik Pekalongan (Kobar), hingga Pokja PI Kelurahan. Selama rangkaian diskusi, para peserta membahas secara komprehensif tantangan, hambatan, serta rencana kerja penguatan kelompok batik ekologis di masa mendatang.

Project Officer PMU AF Pekalongan, Didit Handika mengatakan bahwa refleksi tiga hari tersebut difokuskan pada identifikasi akar permasalahan yang selama ini dihadapi kelompok batik ekologis. Dua tantangan utama yang muncul adalah pemasaran produk dan ketersediaan bahan baku pewarna alami, khususnya indigofera sebagai sumber warna biru.

“Pemasaran batik pewarna alami memang cukup menantang karena produknya segmented. Warna alami yang lebih lembut membuatnya kurang mencolok dibanding pewarna sintetis yang dikenal identik dengan Pekalongan,” katanya.

Meski demikian, kelompok batik ekologis mulai menunjukkan hasil positif. Pada beberapa event bergengsi seperti Inacraft Jakarta dan Jogja Fashion Week, para perajin mampu mencatat pendapatan hingga Rp21 juta.

Sementara itu, tantangan kedua adalah keterbatasan bahan baku. Indigo untuk warna biru alami masih cukup terbatas. Ini menjadi pekerjaan bersama agar rantai pasok pewarna alami bisa lebih berkelanjutan.

Walau menghadapi berbagai hambatan, pihaknya tetap optimis terhadap perkembangan kelompok dampingan. Dari 40 perajin batik ekologis yang terlibat, saat ini 25 perajin telah mampu memproduksi batik pewarna alami secara mandiri.

“Ini capaian yang sangat menggembirakan. Artinya proses pendampingan berjalan efektif dan mulai menunjukkan hasil nyata,” tandasnya.

Salah satu upaya PMU AF Pekalongan adalah pembangunan rumah livelihood yang akan menjadi pusat pengembangan batik ekologis di masa depan. Fasilitas ini akan mencakup etalase produk, ruang workshop, serta peralatan yang terstandarisasi sehingga perajin memiliki tempat representatif untuk produksi, edukasi, dan pemasaran.

“Rumah livelihood kami targetkan mulai beroperasi pada April 2026. Nanti akan menjadi ruang bersama untuk belajar, memamerkan, dan memasarkan produk batik ekologis,” sambungnya.

Untuk memperkuat pemasaran, Didit mengungkapkan bahwa PMU AF aktif melibatkan kelompok batik ekologis dalam berbagai pameran lokal hingga nasional. Pada tahun ini, kelompok ikut serta di Jogja Fashion Week (Agustus) serta Inacraft Jakarta (Oktober). Sementara di tingkat lokal, kolaborasi dengan Dinperinaker.dan Dindagkop-UKM Kota Pekalongan memungkinkan para perajin tampil dalam berbagai festival seperti Kampung Batik Pesindon Festival dan Kampung Batik Kauman Festival.

Dari serangkaian partisipasi tersebut, kelompok batik ekologis mampu mencatat penambahan pendapatan hingga sekitar Rp200 juta dalam satu tahun ini. Angka ini menunjukkan potensi ekonomi batik pewarna alami yang semakin menjanjikan.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kegiatan refleksi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat struktur organisasi kelompok batik ekologis sekaligus menyusun fondasi bagi pembangunan rumah livelihood. Dengan dukungan berbagai pihak, harapannya ekosistem batik ekologis di Pekalongan dapat berkembang lebih kuat, mandiri, dan berkelanjutan.

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)