[ 2025-11-27 ]
Pemkot Gelar Perayaan Hari Disabilitas Internasional: “Anak Hebat Tanpa Batas”, Dorong Layanan Pendidikan Inklusi Lebih Optimal
Kota Pekalongan - Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pendidikan setempat menggelar perayaan Hari Disabilitas Internasional bertema “Anak Hebat Tanpa Batas” berlangsung di halaman Transmart, Rabu (26/11/2025). Kegiatan yang berlangsung meriah ini melibatkan peserta didik dari berbagai satuan pendidikan dengan rangkaian acara seperti pertunjukan seni hingga kegiatan menyolet bersama anak-anak disabilitas.
Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid, Wakil Wali Kota Pekalongan, Hj Balgis Diab, Ketua TP PKK Kota Pekalongan, Inggit Soraya, Plt Kepala Dinas Pendidikan, Mabruri dan tamu undangan lainnya. Perayaan ini menjadi bentuk apresiasi, ruang berekspresi, sekaligus momentum penguatan komitmen pemerintah dalam menciptakan lingkungan ramah disabilitas, terutama di sektor pendidikan.
Wali Kota Aaf mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota telah berupaya maksimal menyediakan fasilitas pendukung pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus. “Pemkot sudah memfasilitasi semaksimal yang kita mampu baik sesuai anggaran dan sebagainya. Tetapi memang masih ada beberapa kebutuhan yang harus kita lengkapi,” ungkapnya.
Menurutnya keberadaan guru pendamping khusus di sekolah-sekolah formal sangatlah penting. Beberapa sekolah diketahui telah menerima siswa berkebutuhan khusus, namun belum memiliki tenaga pendamping bersertifikasi. “Guru khusus bagi anak disabilitas perlu diperhatikan. Apakah nantinya melalui jenjang pendidikan khusus atau sertifikasi, kita akan akomodir. Apabila di sekolah formal ada beberapa murid disabilitas, minimal harus ada satu guru yang memenuhi sertifikasi mengajar,” tandasnya.
Pada kesempatan tersebut, dirinya mengapresiasi prestasi siswa, guru, dan orang tua. Ia menyampaikan kabar membanggakan bahwa Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Pendidikan atas pembuatan video inspiratif. “Ini menjadi penyemangat kita semua. Semoga ke depan anak-anak terus percaya diri, berprestasi, dan memberikan masukan agar layanan pendidikan semakin baik,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Mabruri menuturkan bahwa pemerintah telah mengambil langkah strategis dalam memperkuat sistem pendidikan inklusi. Salah satunya melalui assessment peserta didik baru setiap tahun, guna mendeteksi sejak dini apakah seorang anak merupakan penyandang disabilitas. “Assessment ini bertujuan agar kita bisa memilah dan memberikan layanan pendidikan yang sesuai kebutuhan anak,” tuturnya.
Dijelaskan Mabruri, saat ini pemerintah telah menunjuk sejumlah satuan pendidikan sebagai sekolah rintisan inklusi, meliputi 1 SMP, 4 SD, dan 4 PAUD. Namun demikian, seluruh sekolah formal maupun nonformal tetap diminta membuka layanan pendidikan inklusif. Meski belum seluruhnya memiliki guru pendamping profesional, Dinas Pendidikan telah memberikan pelatihan berjenjang dan pendampingan teknis. “Tidak ada alasan sekolah menolak anak disabilitas,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga telah membentuk Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan menyiagakan psikolog yang mendampingi sekolah dalam memberikan intervensi perkembangan bagi peserta didik disabilitas. “Jika membutuhkan pendekatan intensif, anak dapat dibawa ke ULD Lakondik. Bila memerlukan terapi khusus, kami bekerjasama dengan psikolog dan rumah sakit,” bebernya.
Hingga saat ini tercatat sekitar 200 anak berkebutuhan khusus berada dalam sistem pendidikan Kota Pekalongan.
Perayaan Hari Disabilitas Internasional ini tidak sekadar sebagai acara seremonial, namun menjadi momentum refleksi bersama bagi pemerintah, orang tua, pendidik, dan masyarakat bahwa setiap anak termasuk anak disabilitas memiliki hak belajar, berkembang, dan berprestasi.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)