Details Foto


Musim Pancaroba, Kasus Penyakit Naik: ISPA dan Diare Dominasi, PHBS Jadi Kunci

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-11-27 ]

Musim Pancaroba, Kasus Penyakit Naik: ISPA dan Diare Dominasi, PHBS Jadi Kunci

Kota Pekalongan — Memasuki musim pancaroba, Puskesmas di Kota Pekalongan mencatat adanya peningkatan kasus penyakit dibanding tahun sebelumnya. Data menunjukkan bahwa jumlah pasien mengalami kenaikan sekitar 5 persen, dengan dua penyakit menular yang mendominasi yaitu ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan diare.

Kepala Puskesmas Bendan, dr Aswina Azis Michroza  saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (24/11/2025) menuturkan bahwa fenomena ini lazim terjadi di wilayah tropis saat pergantian musim. Perubahan suhu yang tidak stabil memengaruhi respons tubuh dan menurunkan ketahanan fisik.

"Yang paling banyak ditemukan saat ini adalah ISPA. “Penyebab utamanya bukan virus atau bakterinya, tetapi daya tahan tubuh yang melemah akibat perubahan cuaca," tuturnya.

Menurutnya, saat suhu berganti secara ekstrem, sistem saraf simpatik menjadi lebih dominan sehingga tubuh mudah terserang infeksi. Oleh sebab itu, keseimbangan tubuh harus dijaga melalui pola hidup sehat yang konsisten.

Selain ISPA, diare merupakan penyakit menular lain yang banyak ditemukan selama musim pancaroba. Sementara itu, penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes tidak mengalami lonjakan signifikan. Hal ini disebabkan pemeriksaan kesehatan gratis atau CKG (Cek Kesehatan Gratis) yang masif dilakukan sehingga deteksi dini berjalan lebih optimal.

Dalam kondisi ini, dr Azis mengatakan bahwa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi faktor paling penting dalam pencegahan. Meski perubahan cuaca tidak bisa dikendalikan, perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan dapat menjadi benteng utama pertahanan tubuh.

Lebuh lanjut, ia merinci beberapa langkah penting dalam PHBS yang diimbau antara lain selalu mencuci tangan dengan benar, konsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi konsumsi gula dan tepung berlebih, istirahat cukup agar parasimpatik optimal memperkuat imun, mengelola stres dan memperbaiki kualitas tidur.

“Kita sudah punya pilar PHBS dan Germas. Saya tekankan agar masyarakat mengelola makanan dengan baik, kurangi makanan manis dan tepung, istirahat cukup, serta kelola stres,” tandasnya.

Upaya edukasi PHBS ini telah dilakukan menyeluruh melalui berbagai metode, seperti posyandu, pertemuan kader, kolaborasi lintas sektor, media konten kesehatan, hingga penyuluhan langsung saat pelayanan pasien.

Proses edukasi juga menyesuaikan kondisi masing-masing pasien. Jika ditemukan gangguan stres atau kurang tidur, tenaga kesehatan memberikan arahan sesuai kebutuhan agar pola hidup sehat dapat diterapkan secara berkelanjutan.

“Penyakit muncul dari perilaku. Perilaku yang dilakukan terus-menerus akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu bisa berubah menjadi penyakit," tegasnya.

Ia memperkirakan bahwa tren peningkatan kasus ini bersifat sementara. Setelah pancaroba berakhir, jumlah pasien diperkirakan kembali menurun.

Meski begitu, ISPA dan diare tetap menjadi penyakit yang konsisten meningkat setiap bulan, sehingga pencegahan perlu dilakukan sepanjang tahun.

Ia menambahkan bahwa langkah terbaik menghadapi musim pancaroba adalah menjaga keseimbangan tubuh melalui PHBS dan kebiasaan sehat.

“Kuncinya ada di diri kita. Jika pola hidup sehat sudah menjadi habit, maka risiko sakit dapat ditekan,” tutupnya.

Dengan komitmen penerapan PHBS, masyarakat Pekalongan diharapkan mampu menghadapi musim pancaroba dengan kondisi tubuh yang lebih tangguh dan sehat.

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)