Details Foto


Purna Tugas, Tak Purna Karya: Beno Heritriono Kini Jadi Pelopor Bank Sampah

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-11-25 ]

Purna Tugas, Tak Purna Karya: Beno Heritriono Kini Jadi Pelopor Bank Sampah

Kota Pekalongan – Masa purna tugas tak lantas menghentikan langkah Beno Heritriono untuk terus mengabdi bagi masyarakat. Mantan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kota Pekalongan tersebut kembali menunjukkan dedikasinya lewat kiprah baru sebagai penggerak Bank Sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Warga RT 02 RW 06 Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat kini mempercayakan Beno sebagai Ketua Bank Sampah Makno Rukun, sebuah gerakan warga yang tumbuh dari kebutuhan bersama untuk mengelola sampah secara lebih baik dan berkelanjutan.

Sebelum purna tugas, Beno pernah menjadi Kepala DPMPTSP Kota Pekalongan dan meraih penghargaan dari Pemerintah Kota melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pada tahun 2024 sebagai OPD pengolah sampah anorganik terbaik. Semangat dan pengalaman inilah yang ia bawa kembali ke tengah masyarakat.

“Purna tugas bukan berarti purna karya. Saya hanya berpindah medan pengabdian, dari kantor ke lingkungan sekitar,” ungkap Beno, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (21/11/2025).

Inisiatif membentuk Bank Sampah Makno Rukun juga merupakan jawaban atas kebutuhan warga setelah adanya penutupan TPA oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Sebelum bank sampah berdiri secara resmi tiga bulan lalu, warga RT 02 RW 06 sebenarnya sudah terbiasa memilah sampah anorganik di rumah masing-masing. Namun, baru kali ini pengelolaan dilakukan secara kelembagaann, lengkap dengan SK resmi Bank Sampah dari Kelurahan Tirto.

Pembentukan Bank Sampah Makno Rukun mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Pekalongan melalui DLH dan Kelurahan Tirto. Berbagai fasilitas diberikan untuk memperkuat operasional, mulai dari sosialisasi pengelolaan sampah, bantuan timbangan gantung, kantong sampah besar, hingga cairan EM4 sebagai bahan pembuatan kompos.

"Setiap warga melalui kelompok Dawis masing-masing mengumpulkan sampah anorganik seperti kardus, kertas, plastik bening, botol PET, hingga botol sirup untuk kemudian diserahkan kepada pengelola,"terang Beno.

Menurutnya, pengambilan sampah terpilah dilakukan satu bulan sekali oleh petugas DLH, dimana awalnya setiap Kamis di minggu ketiga, dan kini berganti setiap hari Jumat sekali dalam sebulan.


Meski baru berjalan tiga bulan, hasilnya sangat terlihat. Volume sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan terus meningkat signifikan. Pada Bulan September 2025 sebanyak 76,3 kg, dan Oktober 2025 sebanyak 146,4 kg.

"Kenaikan hampir dua kali lipat ini menunjukkan kesadaran warga RT 02 RW 06 semakin tinggi dalam memilah sampah dari rumah,"katanya.

Disampaikan Beno, capaian tersebut murni hasil kebersamaan, bukan didorong oleh target perlombaan atau kompetisi.

“Kami bekerja dengan fungsi sosial, tanpa honor. Yang terpenting adalah kebersamaan. Oleh karena itu, kami memberi nama Makno Rukun, akronim dari Makaryo Noto Runtah Keluarga atau yang bisa diartikan bekerja bersama menata sampah keluarga,” jelasnya.

Bagi Beno, tujuan utama Bank Sampah bukan sekadar menumpuk prestasi, tetapi mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Ia menegaskan bahwa, peran keluarga adalah kunci utama.

“Kami tidak mengejar lomba atau penghargaan. Kami ingin masyarakat sadar bahwa memulai dari rumah itu penting. Pemilahan sampah bukan untuk pemerintah, tetapi untuk masa depan lingkungan kita sendiri,” tegasnya.

Lanjut ia menyebut, hasil sampah anorganik yang terkumpul kemudian dijual kepada DLH dengan sistem tabungan sampah. Setiap keluarga memiliki catatan tabungannya masing-masing sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga.

Kehadiran Bank Sampah Makno Rukun di RT 02 RW 06 kini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi warga, pemerintah kelurahan, dan DLH mampu menciptakan perubahan signifikan dalam penanganan sampah. Lebih dari itu, bagi Beno, pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti saat masa pensiun tiba.

"Dengan semangat kebersamaan yang terus tumbuh, Bank Sampah Makno Rukun diharapkan mampu menjadi model pengelolaan sampah berbasis warga yang berkelanjutan, sekaligus inspirasi bagi wilayah lain di Kota Pekalongan,"pungkasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)