[ 2025-11-21 ]
Fesyen Jadi Motor Penggerak Utama Ekraf Nasional, Kontribusi Capai Rp1.534 Triliun
Kota Pekalongan – Subsektor fesyen kembali mendominasi sebagai salah satu penggerak utama industri ekonomi kreatif (ekraf) nasional. Hal tersebut disampaikan Direktur Fesyen Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Romi Astuti, saat membuka kegiatan Workshop Strategi Pemasaran Digital untuk Pegiat Fesyen, berlangsung di Hotel Howard Johnson (Hojo) Pekalongan, Rabu siang (19/11/2025).
Ia menyoroti kinerja impresif subsektor ini dalam kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, penyerapan tenaga kerja, hingga nilai ekspor yang terus bertumbuh.
Dalam paparannya, Romi menyampaikan bahwa, subsektor fesyen kini masuk dalam tiga besar penyumbang PDB ekraf terbesar, berada di posisi kedua setelah kuliner.
“Kontribusi PDB untuk subsektor fesyen mencapai Rp1.534 Triliun, meningkat 4,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Menurutnya, pertumbuhan ini menunjukkan daya saing tinggi sektor fesyen Indonesia yang terus berkembang seiring meningkatnya kreativitas, inovasi desain, serta permintaan pasar domestik dan global.
Tak hanya berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi, kata Romi, subsektor fesyen juga memberikan dampak signifikan terhadap bidang ketenagakerjaan. Romi memaparkan bahwa, industri fesyen saat ini mampu menyerap sekitar 4,4 juta tenaga kerja dari berbagai lini, mulai dari perajin, penjahit, desainer, pelaku UMKM, hingga pekerja industri manufaktur skala besar.
“Ini membuktikan bahwa fesyen adalah sektor strategis yang mempengaruhi hajat hidup banyak orang dan memberikan manfaat ekonomi yang meluas,” tambahnya.
Dari sisi perdagangan luar negeri, kontribusi subsektor fesyen pun tak kalah mengesankan. Romi menjelaskan bahwa, struktur ekspor ekonomi kreatif Indonesia masih didominasi oleh fesyen sebagai penyumbang terbesar. Ia menyebut, nilai ekspor fesyen pada tahun terakhir tercatat mencapai 9,1 Miliar dolar AS, atau 61,5% dari total ekspor ekraf nasional. Capaian ini menempatkan fesyen sebagai subsektor dengan potensi global paling kuat, sekaligus peluang besar bagi pelaku industri lokal untuk masuk pasar internasional.
“Fesyen adalah penyumbang ekspor terbesar untuk ekonomi kreatif. Angka ini menunjukkan bahwa potensi fesyen sangat besar dan perlu terus kita kembangkan untuk masa depan,” tegas Romi.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku industri, pemerintah, asosiasi kreatif, hingga dunia pendidikan untuk menciptakan ekosistem fesyen yang inovatif, berkelanjutan, serta mampu bersaing di pasar global.
Romi berharap, pertumbuhan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat subsektor fesyen melalui hilirisasi produk, peningkatan kualitas bahan lokal, digitalisasi pemasaran, hingga penguatan kapasitas pelaku industri.
"Dengan ekosistem yang solid, Indonesia berpeluang besar menjadi pusat fesyen kreatif di kawasan Asia, bahkan dunia,” tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)