[ 2025-11-20 ]
Ubah Pola Konsumsi, Pemerintah Gencarkan Promosi Pangan Lokal yang Lebih Sehat
Kota Pekalongan — Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) terus mendorong masyarakat untuk lebih mengenal dan mengonsumsi pangan lokal sebagai alternatif sumber karbohidrat selain nasi. Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Subsidi Pangan Organik yang digelar bersama Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Pekalongan, serta didukung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Ketahanan Pangan, kemarin di Lapangan Mataram Kota Pekalongan.
Program ini tidak hanya bertujuan menyediakan bahan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat agar tidak bergantung pada satu jenis sumber pangan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan diversifikasi pangan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan kesadaran pentingnya konsumsi pangan lokal. "Kami bersinergi dengan Dinas Perdagangan UKM Kota Pekalongan dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Ketahanan Pangan menyelenggarakan pangan murah yang menyediakan bahan pangan lokal sekaligus untuk mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa kenyang itu tidak harus dengan nasi,” jelasnya.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa sumber karbohidrat tidak hanya berasal dari beras. “Ada banyak pangan alternatif seperti ubi, beras jagung, beras singkong, sorgum, beras merah, dan beras organik. Semua itu juga sumber karbohidrat yang baik dan bergizi,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan kegiatan, sejumlah produk pangan lokal dijual dengan harga lebih terjangkau untuk mempermudah masyarakat mencoba dan membiasakan diri dengan sumber karbohidrat alternatif. Beberapa harga komoditas yang tersedia antara lain Beras Organik, Beras Organik Aromatik, Beras Merah, Sorgum, Beras Jagung, dan Beras Singkong.
Lili menilai ntusiasme masyarakat cukup tinggi, banyak yang berminat dengan pangan lokal. Ia menambahkan bahwa pangan lokal dinilai memiliki nilai tambah karena kandungan gula dan kalorinya lebih rendah dibanding beras putih. Hal ini menjadikannya pilihan yang baik bagi penderita diabetes, hipertensi, maupun yang sedang menjalankan program diet.
Kegiatan ini menarik perhatian warga yang ingin mencoba sumber pangan alternatif. Salah satunya Anis Hidayati (59), warga Podosugih, yang membeli beras organik karena penasaran sekaligus mempertimbangkan manfaat kesehatannya. “Saya beli beras organik, baru pertama kali mau coba. Katanya baik untuk kesehatan, jadi tertarik,” ujarnya.
Anis berharap kegiatan seperti ini digelar lebih sering agar masyarakat lebih mudah menjangkau pilihan pangan sehat.
Melalui kegiatan pangan murah ini, pihaknya berharap masyarakat semakin akrab dengan pangan lokal dan menjadikannya bagian dari gaya hidup. “Kami akan terus mensosialisasikan kepada masyarakat agar pangan lokal menjadi budaya makan sehari-hari,” tutupnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)