Details Foto


UNICEF-Pemkot Lakukan Evaluasi Program Penguatan SKB dan PKBM: Dorong Pemberdayaan dan Pembelajaran Inklusif bagi Remaja

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-11-03 ]

UNICEF-Pemkot Lakukan Evaluasi Program Penguatan SKB dan PKBM: Dorong Pemberdayaan dan Pembelajaran Inklusif bagi Remaja

Kota Pekalongan — Satuan Pendidikan Nonformal Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan menerima kunjungan penting dari perwakilan UNICEF Program Pendidikan Jawa Tengah dan Jawa Timur, didampingi oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten, serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Direktorat SMA. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka monitoring dan evaluasi terhadap implementasi modul pemberdayaan pembelajaran yang telah diluncurkan satu tahun lalu.

Kegiatan evaluasi ini merupakan bagian dari program kolaboratif antara UNICEF dan Pemerintah Kota Pekalongan dalam upaya penguatan kapasitas SKB dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai lembaga pendidikan alternatif bagi anak dan remaja yang tidak bersekolah di jalur formal.

Perwakilan UNICEF Program Pendidikan Jateng dan Jatim, Yuanita Nagel saat ditemui pada kegiatan tersebut, Jum'at (31/10/2025) di SKB Kota Pekalongan menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meninjau sejauh mana proses pemberdayaan pembelajaran telah berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.

“Kami saat ini sedang berada di Kota Pekalongan untuk melakukan evaluasi di SKB Kota Pekalongan. UNICEF bersama pemerintah daerah berkomitmen memperkuat peran SKB dan PKBM, terutama melalui proses pemberdayaan pembelajaran. Kami ingin melihat apakah proses ini benar-benar bermanfaat bagi anak-anak, serta apakah diperlukan perbaikan dari segi materi atau teknis pemberian pembelajaran,” katanya.

Menurutnya, hasil dari kegiatan evaluasi ini akan menjadi masukan penting untuk perbaikan modul ajar dan peningkatan kapasitas tutor di masa mendatang. Proses ini dilakukan dengan melibatkan langsung peserta didik (warga belajar), agar setiap rekomendasi didasarkan pada pengalaman dan kebutuhan nyata di lapangan.

“Masukan dari para siswa akan menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk memperbaiki modul ajar maupun pelatihan tutornya. Kami melihat SKB Kota Pekalongan sudah sangat baik dalam proses pembelajarannya, baik dalam eksplorasi kebutuhan siswa maupun dalam penyediaan infrastruktur yang mendukung,” imbuhnya.

Selain memberikan apresiasi, UNICEF juga menyampaikan harapan agar SKB Kota Pekalongan dapat menjadi ruang belajar alternatif yang inklusif dan berdaya guna bagi para remaja di daerah tersebut.

"Kami berharap tempat ini terus berkembang menjadi wadah pembelajaran alternatif bagi remaja di Kota Pekalongan, terutama bagi mereka yang tidak menempuh pendidikan formal. Semoga dari sini mereka bisa terus mengembangkan keterampilan, memperoleh ijazah kesetaraan, dan mengejar cita-cita mereka di masa depan,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu tutor SKB Kota Pekalongan, Nur Khilmi Aziz menyampaikan bahwa kunjungan UNICEF, LPA Klaten, dan Kemendikdasmen ini difokuskan untuk meninjau implementasi modul pemberdayaan pembelajaran di semua jenjang, mulai dari paket A, Paket B, hingga Paket C.

"Kunjungan ini bertujuan untuk monitoring dan evaluasi terkait implementasi modul pemberdayaan yang sudah berjalan selama satu tahun terakhir. Kami bersama tim dari UNICEF menilai bagaimana modul ini diterapkan kepada warga belajar di berbagai jenjang,” ujarnya.

Meskipun modul tersebut pada awalnya dirancang khusus untuk Paket C Fase E (setara kelas X), SKB Kota Pekalongan berinisiatif menerapkan prinsip-prinsip pemberdayaan ke seluruh jenjang belajar. Hasilnya, menurut laporan dan observasi di lapangan, pendekatan ini memberikan dampak positif terhadap perubahan sikap, peningkatan kepercayaan diri, dan penguatan soft skill warga belajar.

"Tanggapan dari UNICEF sangat positif. Mereka juga berdialog langsung dengan para peserta didik untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang dirasakan sejak program ini diterapkan,” sambungnya.

Ia menuturkan bahwa sebagai tindak lanjut, UNICEF bersama Kemendikdasmen berencana melakukan review dan penyempurnaan modul pemberdayaan, agar pembelajaran ke depan semakin efektif, kontekstual, dan sesuai kebutuhan peserta didik di berbagai daerah.

Melalui dukungan UNICEF, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan nonformal, SKB Kota Pekalongan diharapkan dapat menjadi model pembelajaran berbasis pemberdayaan yang mampu menjembatani kesenjangan pendidikan serta memberikan kesempatan kedua bagi anak dan remaja untuk terus belajar dan berkembang.

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)