Details Foto


“Santri Ceria” Warnai HSN 2025, Tanamkan Cinta Sejarah dan Akhlakul Karimah Sejak Dini

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-10-24 ]

“Santri Ceria” Warnai HSN 2025, Tanamkan Cinta Sejarah dan Akhlakul Karimah Sejak Dini

Kota Pekalongan – Masih dalam semarak rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Pengurus Cabang Nadhlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan menggelar kegiatan bertajuk “Santri Ceria”, di Gedung Aswaja Kota Pekalongan, Kamis (23/10/2025). Ribuan santri dari berbagai lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU dan pondok pesantren se-Kota Pekalongan tampak antusias mengikuti kegiatan yang sarat nilai edukatif ini.

Kegiatan “Santri Ceria” menjadi salah satu rangkaian acara HSN yang digelar oleh PCNU Kota Pekalongan dengan konsep mendidik sekaligus menghibur. Melalui kegiatan Guru Bercerita, PCNU berupaya menanamkan kecintaan terhadap sejarah, mengenalkan tokoh-tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, serta menumbuhkan akhlakul karimah kepada anak-anak usia dini.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Pekalongan, H. Moch Machrus Abdullah, menjelaskan bahwa, kegiatan Guru Bercerita ini dirancang agar anak-anak dapat memahami nilai perjuangan dan keteladanan para ulama sejak dini dengan cara yang menyenangkan.

“Alhamdulillah, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Hari Santri Nasional PCNU Kota Pekalongan. Siang ini kita adakan Santri Ceria, menghadirkan seorang guru dengan tema Guru Bercerita. Tujuannya agar anak-anak tahu sejarah negeri ini, mengenal tokoh-tokoh nasional, dan memahami bagaimana perjuangan para masyayikh dalam menegakkan Ahlussunnah wal Jamaah di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Machrus.

Ia menuturkan, pengenalan sejarah dan tokoh-tokoh besar NU seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, hingga KH. Zainal Abidin bin Ilyas sangat penting untuk membentuk karakter generasi muda yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlakul karimah.

"Kita ingin anak-anak ini tidak hanya pintar, tapi juga punya adab, menghargai guru, kiai, dan orang tua. Akhlakul karimah harus diajarkan sejak dini,” imbuhnya.

Selain kegiatan edukatif Guru Bercerita yang dibawakan oleh Badut Pak Angga, “Santri Ceria” juga diramaikan oleh hiburan badut, musik, dan permainan interaktif yang dikemas agar peserta belajar sambil bermain. Menurut Machrus, konsep belajar dengan gembira ini menjadi metode efektif dalam mengenalkan nilai-nilai sejarah dan moral kepada anak-anak.

"Anak-anak itu eranya bermain dan belajar, bukan belajar dan bermain. Maka pendekatannya harus menyenangkan. Cerita, tawa, dan permainan ini membuat mereka lebih mudah memahami sejarah perjuangan para ulama NU,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan Guru Bercerita bukanlah lomba, melainkan sarana edukatif untuk membangun kedekatan emosional anak-anak dengan sejarah dan nilai perjuangan tokoh NU.

"Kita memang tidak menjadikannya lomba. Tapi ada kuis-kuis kecil untuk memancing semangat mereka. Karena faktanya, survei menunjukkan lebih dari 50 persen anak muda NU belum mengenal sejarah dan tokoh-tokohnya. Inilah alasan kita mengadakan kegiatan seperti ini,” terang Machrus.

Selain Santri Ceria, PCNU juga menggelar sejumlah lomba yang melibatkan santri dari berbagai lembaga, seperti lomba futsal dan stand-up comedy santri, untuk menyalurkan bakat serta kreativitas generasi muda pesantren. Machrus menyebutkan bahwa lomba tersebut menjadi wadah bagi santri untuk berkompetisi sehat dan berani menyampaikan gagasan sesuai zamannya.

“Kami ingin santri zaman now bisa beradaptasi di era digitalisasi dan post truth ini. Santri harus kreatif, mampu mengekspresikan gagasannya, dan tetap berpegang pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah,” ujarnya.

Sebagai penutup rangkaian Hari Santri Nasional, PCNU Kota Pekalongan akan menggelar Pentas Seni Santri pada malam puncak HSN yang akan dihadiri oleh Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah. Dalam acara tersebut, beliau dijadwalkan membacakan puisi dan tampil bersama grup musiknya, Kaukab.

Machrus berharap, seluruh rangkaian kegiatan ini mampu memperkuat semangat santri dalam meneladani perjuangan para ulama dan menyiapkan diri menjadi generasi penerus bangsa.

“Anak-anak santri hari ini adalah generasi penerus yang akan menyambut Indonesia Emas 2045. Kita ingin mereka tidak hanya menjadi ulama, tapi juga bisa berperan di semua lini baik eksekutif, legislatif, yudikatif, hingga pengusaha. Mereka harus siap bersaing dan membawa nilai-nilai santri ke tengah masyarakat luas,” pungkasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)