Details Foto


Pemkot Pekalongan Dorong Penerapan Standar Industri Hijau Sektor Batik

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-10-10 ]

Pemkot Pekalongan Dorong Penerapan Standar Industri Hijau Sektor Batik

Kota Pekalongan – Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Standar Industri Hijau bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) Batik, bekerja sama dengan The Water Agency, berlangsung di aula Kantor Dinperinaker, Rabu (8/10/2025). Pelatihan ini diikuti oleh 30 IKM batik terpilih yang dinilai telah memiliki kapasitas produksi besar dan potensial menjadi contoh penerapan industri hijau di Kota Pekalongan.

Wakil Wali Kota Pekalongan, Hj Balgis Diab menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini menjadi langkah nyata pemerintah dalam mendorong pelaku industri batik untuk tidak hanya menghasilkan produk yang indah dan bernilai seni tinggi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dalam proses produksinya.

“Pelatihan standar industri hijau ini diharapkan agar batik tidak hanya indah rupanya saja, tetapi prosesnya juga tidak mencemari lingkungan,” bebernya.

Ia mengungkapkan bahwa apabila proses produksi batik di Kota Pekalongan telah menerapkan prinsip ramah lingkungan, maka produk batik lokal akan lebih mudah menembus pasar internasional.

“Jika batik ini ramah lingkungan, maka akan lebih mudah menembus pasar internasional. Harapan kami, meskipun peserta pelatihan kali ini hanya sebagian kecil dari seluruh IKM batik di Kota Pekalongan, mereka dapat menjadi duta industri hijau yang menularkan semangat dan pengetahuannya kepada pelaku batik lainnya,” ungkapnya.

Wawalkot Balgis menambahkan bahwa peserta pelatihan kali ini merupakan para pelaku batik yang sudah senior dan telah mempraktikkan sebagian prinsip industri hijau. Pemerintah berupaya menyempurnakan penerapan standar tersebut agar bisa menjadi contoh bagi IKM lainnya.

“Kami tidak mungkin bisa melatih semua pelaku IKM sekaligus, sehingga kami pilih perwakilan yang sudah berpengalaman. Harapannya mereka bisa membantu teman-temannya yang baru mulai agar sama-sama menerapkan standar industri hijau,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinperinaker Kota Pekalongan, Betty Dahfiani Dahlan menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program penguatan daya saing industri batik melalui penerapan Standar Industri Hijau yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.

“Ada 30 IKM yang kita latih. Pelatihan ini merupakan bentuk kerja sama antara Dinperinaker dengan The Water Agency, yang fokus pada green batik,” tuturnya.

Menurutnya, tujuan pelatihan ini adalah agar pelaku IKM batik memahami standar dan kriteria industri hijau yang harus diterapkan, seperti efisiensi penggunaan bahan bakar dan bahan baku, pengelolaan limbah, serta pemilihan bahan baku ramah lingkungan.

“Pelatihan ini diharapkan dapat membuat pelaku batik memahami standar-standar industri hijau yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia. Tujuannya untuk keberlanjutan, agar batik bisa terus berkembang tanpa merusak lingkungan,” ucapnya.

Ia menerangkan, pelatihan ini mencakup pemaparan tahapan penerapan standar industri hijau, mulai dari perhitungan kapasitas produksi, kebutuhan bahan bakar, bahan baku, hingga pengelolaan limbah. Semua aspek tersebut harus memenuhi kriteria ramah lingkungan sesuai peraturan pemerintah.

Setelah pelatihan, The Water Agency akan melakukan pendampingan dan asesmen langsung ke unit usaha masing-masing peserta untuk mengukur sejauh mana penerapan standar industri hijau telah dilakukan. Hasil asesmen akan menjadi dasar untuk menentukan unit usaha mana yang memerlukan bimbingan lebih lanjut.

Dari hasil pendataan Dinperinaker, terdapat sekitar 700 IKM batik di Kota Pekalongan. Pelatihan kali ini difokuskan kepada IKM skala besar, sementara IKM kecil akan dilatih secara bertahap pada kegiatan berikutnya.

“Total IKM batik hasil pendataan mencapai 700-an unit. Peserta kali ini kita ambil dari yang skala produksinya besar. Nanti yang kecil akan kita latih secara bertahap,” pungkasnya.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kota Pekalongan berkomitmen untuk menjadikan industri batik tidak hanya unggul secara ekonomi dan budaya, tetapi juga berkelanjutan dari sisi lingkungan. 

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)