[ 2025-10-06 ]
Teaterikal Pertempuran 3 Oktober Hidupkan Kembali Kisah Heroik Pejuang Kota Pekalongan
Kota Pekalongan – Dalam rangka memperingati Peristiwa Pertempuran 3 Oktober 1945, Pemerintah Kota Pekalongan menggelar upacara dan pertunjukan teaterikal perjuangan di kawasan Monumen Djoeang 45, Jumat malam (3/10/2025). Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan ini berhasil menghidupkan kembali kisah heroik para pejuang Kota Pekalongan dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan Jepang.
Pementasan teaterikal tersebut menggambarkan keberanian dan pengorbanan masyarakat Pekalongan, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga para pemuda yang bahu-membahu mengusir penjajah. Adegan pertempuran yang ditampilkan secara dramatis mampu membangkitkan rasa haru dan kebanggaan di hati para penonton yang memadati area monumen sejak sore hari.
Wali Kota Pekalongan, HA. Afzan Arslan Djunaid, atau yang akrab disapa Aaf, mengungkapkan bahwa peringatan ini bukan hanya bentuk penghormatan terhadap para pahlawan, tetapi juga momentum penting untuk mengingatkan masyarakat akan nilai-nilai persatuan dan keberanian yang diwariskan para pejuang.
“Peristiwa Pertempuran 3 Oktober ini luar biasa, merupakan peristiwa sejarah lokal Kota Pekalongan. Sebab, di Jawa Tengah maupun se-eks karesidenan, Kota Pekalongan menjadi salah satu daerah yang berhasil mengusir penjajah Jepang pada saat itu. Banyak sekali masyarakat, mulai dari tokoh agama hingga tokoh masyarakat, yang terlibat dalam pertempuran tersebut. Inilah yang membentuk kultur Kota Pekalongan sampai sekarang,” terang Wali Kota Aaf.
Menurutnya, semangat kebersamaan yang lahir dari perjuangan masa lalu masih terasa hingga kini. Masyarakat Kota Pekalongan yang terdiri atas tiga etnis besar yakni Tionghoa, Arab, dan Pribumi mampu menjaga keharmonisan sosial yang telah terbangun sejak masa perjuangan kemerdekaan.
“Walaupun ada tiga etnis di Kota Pekalongan, mereka tetap akur hidup berdampingan, saling menopang satu sama lain, baik dari sisi keagamaan maupun ekonomi. Ini menjadi kekuatan sosial yang perlu terus kita rawat,” imbuhnya.
Wali Kota Aaf juga menyampaikan rasa bangganya atas antusiasme masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ribuan warga dari berbagai kalangan tampak memenuhi area Monumen Djoeang 45 untuk menyaksikan teatrikal dan upacara peringatan yang berlangsung khidmat.
“Malam ini kita saksikan sendiri teatrikalnya di Monumen Djoeang 45. Warga sangat antusias, mulai dari orang tua, dewasa, remaja, hingga anak-anak. Ini bukti bahwa semangat untuk mengenang sejarah masih hidup di hati masyarakat Kota Pekalongan. Semoga semangat ini terus kita pupuk agar generasi muda tidak melupakan sejarah Indonesia, khususnya sejarah lokal Kota Pekalongan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota Aaf juga mengenang satu-satunya saksi hidup Peristiwa 3 Oktober 1945, yakni Eyang Merry Hoegeng, istri Jenderal Polisi (Purn.) Hoegeng Iman Santoso. Saat peristiwa itu terjadi, Eyang Merry masih berusia muda dan berperan sebagai seorang perawat bagi para pejuang yang terluka.
“Eyang Merry Hoegeng kini sudah berusia 100 tahun, Alhamdulillah masih sehat dan ingatannya sangat kuat, terutama tentang peristiwa 3 Oktober 1945 ini. Setiap tahun, jajaran Forkopimda Kota Pekalongan rutin sowan ke kediaman beliau di Jakarta setelah peringatan ini sebagai bentuk penghormatan dan silaturahmi,” terangnya.
Sementara itu, Komandan Kodim 0710/Pekalongan, Letkol Arm. Ihalauw Garry Herlambang, menegaskan bahwa, peristiwa bersejarah ini harus menjadi pengingat bagi generasi muda tentang pentingnya menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat bela negara.
“Peristiwa 3 Oktober 1945 memberikan kesan mendalam bagi masyarakat Kota Pekalongan. Para pejuang terdahulu telah mengorbankan nyawa, keluarga, dan harta benda demi kemerdekaan. Kini, kita menikmati hasil perjuangan itu dalam bentuk kebebasan,” ujarnya.
Dandim Garry berharap generasi penerus dapat melanjutkan semangat perjuangan para pahlawan dengan cara berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.
“Sebagai generasi muda, kita wajib melanjutkan perjuangan pahlawan dengan menanamkan rasa cinta tanah air, semangat bela negara, serta menjadi warga negara yang baik dan berkontribusi bagi pembangunan. Itulah wujud penghormatan nyata kepada para pejuang,” tegasnya.
Lanjutnya, Peringatan Peristiwa Pertempuran 3 Oktober 1945 ini diakhiri dengan doa bersama untuk para pahlawan yang telah gugur serta penghormatan di depan Monumen Djoeang 45.
" Melalui kegiatan ini, kami berharap nilai-nilai perjuangan dan persatuan yang diwariskan para pejuang dapat terus hidup di hati setiap generasi warga Kota Pekalongan,"pungkasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)