Details Foto


Upaya Penurunan Stunting Terus Diperkuat, Edukasi Gizi Jadi Fokus Utama

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-10-01 ]

Upaya Penurunan Stunting Terus Diperkuat, Edukasi Gizi Jadi Fokus Utama

Kota Pekalongan - Permasalahan gizi pada bayi dan balita masih menjadi tantangan serius di Kota Pekalongan. Meski angka stunting menunjukkan tren penurunan dari tahun sebelumnya, target nasional masih harus dipenuhi. Oleh sebab itu, dibutuhkan komitmen bersama dari berbagai pihak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puji Winarti melalui Ketua Tim Kesehatan Keluarga dan Gizi, Devi Hardiyanti saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2023, prevalensi stunting di Kota Pekalongan tercatat berada di angka 28 sekian persen. Memasuki tahun 2024, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 19,6 persen. Penurunan ini dianggap sebagai capaian positif, namun sekaligus menjadi pengingat bahwa kualitas pemenuhan gizi anak di Kota Pekalongan belum sepenuhnya optimal.

“Dari persentase tersebut bisa dilihat bahwa masalah gizi di Kota Pekalongan masih kurang baik. Harapan kita adalah pemenuhan gizi balita dapat dilakukan dengan benar, namun masih ada pekerjaan rumah besar untuk mencapai target nasional 14 persen,” ungkapnya.

Menurutnya, kesadaran masyarakat dalam memberikan asuhan dan nutrisi yang tepat bagi bayi serta balita masih perlu ditingkatkan. Meski berbagai program intervensi telah dilakukan, edukasi kepada masyarakat masih menjadi kunci utama agar angka stunting dan wasting dapat terus ditekan.

Ia menyebut bahwa peran edukasi harus semakin diperkuat, baik melalui kader posyandu, puskesmas, maupun fasilitas kesehatan lainnya. Pemberian Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) mengenai gizi seimbang diharapkan mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

“Masyarakat, terutama orang tua dan pengasuh anak, diharapkan lebih memperhatikan edukasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan atau kader posyandu. Pemantauan tumbuh kembang anak balita sebaiknya dilakukan secara rutin setiap bulan di posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat,” jelasnya.

Dirinya menuturkan bahwa pola makan tidak bisa disamaratakan antar kelompok usia. Kebutuhan nutrisi bayi dan balita berbeda dengan remaja maupun orang dewasa. Untuk balita, asupan protein harus menjadi perhatian utama selain makanan pokok, sayur, dan buah. Sedangkan pada usia remaja dan dewasa, pemenuhan gizi dapat mengikuti prinsip “Isi Piringku” dengan komposisi sepertiga makanan pokok, sepertiga protein, dan sepertiga sayur serta buah.

Dengan kondisi ini, berbagai pihak baik pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, maupun masyarakat luas didorong untuk memperkuat kolaborasi. Upaya peningkatan edukasi gizi, pemeriksaan rutin, serta pemantauan tumbuh kembang anak menjadi langkah penting menuju penurunan prevalensi stunting sesuai target nasional.

“Ini bukan hanya tugas pemerintah atau tenaga kesehatan. Orang tua memiliki peran utama dalam memastikan anak mendapatkan nutrisi yang cukup. Dengan kerja bersama, kita berharap masalah gizi di Kota Pekalongan dapat terus menurun dan mencapai target yang telah ditetapkan,” pungkasnya.

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)