Details Foto


Rumah Singgah Gizi Sediakan Layanan Lengkap Balita, dari Pemeriksaan hingga Edukasi Orang Tua

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2025-09-29 ]

Rumah Singgah Gizi Sediakan Layanan Lengkap Balita, dari Pemeriksaan hingga Edukasi Orang Tua

Kota Pekalongan - Upaya penanganan gizi buruk dan stunting pada balita terus dilakukan Pemerintah Kota Pekalongan melalui program Rumah Singgah Gizi. Program ini pertama kali dibentuk pada tahun 2012 di Puskesmas Kusumabangsa dengan menghadirkan layanan terpadu dari berbagai tenaga kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puji Winarti melalui Ketua Tim Kesehatan Keluarga dan Gizi, Devi Hardiyanti, saat ditemui di ruang kerjanya kemarin menjelaskan bahwa sejak awal berdiri, layanan ini melibatkan tenaga medis mulai dari dokter anak, psikolog, ahli gizi, hingga dokter umum. Tujuannya menurunkan angka gizi buruk dan stunting pada balita, meningkatkan status gizi dan kesehatan anak, serta memperkuat pengetahuan orang tua dalam memberikan asupan gizi seimbang.

“Selain pemantauan pertumbuhan, di rumah singgah gizi juga diberikan edukasi keterampilan, termasuk praktik memasak menu MPASI atau Makanan Pendamping ASI yang sesuai kebutuhan balita,” jelasnya.

Sejak dibuka, dikatakan Devi antusiasme masyarakat cukup tinggi. Rata-rata kunjungan mencapai 15 hingga 20 pasien balita dengan masalah gizi setiap sesi, dan jumlahnya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Meski sempat berpindah lokasi akibat faktor alam, saat ini Rumah Singgah Gizi beroperasi di Puskesmas Dukuh. 

Kemudian layanan yang diberikan juga semakin berkembang. Pada tahun 2022, ditambahkan fasilitas fisioterapi bagi balita yang membutuhkan. Anak-anak yang hasil pemeriksaannya memerlukan terapi lanjutan akan dirujuk langsung dari dokter spesialis anak ke fisioterapis.

"Rumah singgah gizi dilaksanakan secara rutin dua kali dalam sebulan, tepatnya pada minggu pertama dan ketiga. Layanan ini terbuka bagi seluruh masyarakat, khususnya bayi dan balita di Kota Pekalongan," katanya.

Diterangkan Devi, prosesnya dimulai dari skrining awal di puskesmas masing-masing. Jika ditemukan masalah gizi, balita akan dirujuk ke Rumah Singgah Gizi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan perlunya penanganan lanjutan, pasien kemudian akan dirujuk ke rumah sakit. Ia mengungkapkan bahwa semua layanan yang tersedia diberikan secara gratis, baik untuk peserta BPJS maupun yang belum memiliki. 

“Sekarang program ini juga didukung BPJS dan Universal Health Coverage (UHC). Harapannya, seluruh masyarakat Pekalongan memiliki jaminan kesehatan sehingga tidak ada kendala dalam mengakses layanan,” terangnya.

Manfaat nyata dari Rumah Singgah Gizi dirasakan langsung oleh warga. Widya Anggraeni, seorang ibu dari Kelurahan Kramatsari saat ditemui di kegiatan Rumah Singgah Gizi, (25/9/2025) menceritakan pengalamannya ketika anaknya lahir dengan berat badan hanya 1,5 kilogram.

“Saya sempat merasa down dan minder karena anak saya berat badannya kurang. Tapi setelah diminta mengikuti program rumah singgah gizi, saya jadi lebih termotivasi. Di sini saya diajarkan cara memasak menu makanan tambahan, diberi bantuan vitamin, susu, dan berbagai pendamping lain. Alhamdulillah, saya tidak lagi merasa sendirian,” ungkapnya.

Keberadaan Rumah Singgah Gizi menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah Kota Pekalongan untuk menekan angka gizi buruk dan stunting. Dengan layanan komprehensif, edukasi keluarga, hingga pendampingan psikologis, program ini diharapkan mampu mencetak generasi yang lebih sehat, cerdas, dan bebas dari masalah gizi.

(Tim Liputan Dinkominfo/dea)