[ 2025-09-24 ]
Pelatihan Batik Ekologis dan Digital Marketing Sasar Penyandang Disabilitas
Kota Pekalongan - Dalam upaya memperkuat pemberdayaan masyarakat inklusif, Pemerintah Kota Pekalongan bersama Kemitraan dan BUMN bersinergi menyelenggarakan pelatihan batik ekologis dan digital marketing. Program ini menyasar 30 penyandang disabilitas sebagai peserta, dengan tujuan meningkatkan keterampilan membatik sekaligus membuka akses pemasaran yang lebih luas melalui platform digital, berlangsung di gedung Pusdiklat Kospin Jasa Kota Pekalongan, Rabu (24/9/2025).
Hadir membuka kegiatan tersebut, Ketua Dekranasda Kota Pekalongan, Inggit Soraya memberikan apresiasi dan mendukung keberlanjutan pelatihan tersebut. Menurut batik ekologis saat ini kembali diminati karena menggunakan bahan pewarna alami yang ramah lingkungan sekaligus aman bagi kulit.
Inggit menerangkan bahwa warna batik ekologis tidak lagi terbatas, melainkan bisa dipadupadankan menjadi kombinasi baru yang indah. Ia menambahkan, pelatihan ini juga memberi ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dan memperkuat identitas batik Pekalongan.
Selain itu, dalam kesempatan ini peserta dilatih digital marketing agar dapat menjemput bola dan menjangkau pasar lebih luas, sehingga tidak lagi hanya mengandalkan penjualan offline atau konvensional.
"Saya sebagai Ketua Dekranasda sangat mendukung inovasi dan mengapresiasi kegiatan ini. Sangat lengkap, peserta dibekali kemampuan membatik ekologis kemudian juga digital marketing, sehingga produk yang nantinya diproduksi bisa dikenal lebih luas lagi. Kemudian peluang pasar batik ekologis ini juga sangat bagus dari Kemitraan juga belum lama ini menggandeng komunitas batik ekologis ikut pameran di Jogja. Mudah-mudahan bisa luas lagi peluangnya," terangnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pekalongan, Tipuk Prasetyowati saat ditemui pada kegiatan tersebut mengatakan, pelatihan berlangsung tiga hari dengan tahapan praktik membuat pola batik, pewarnaan menggunakan bahan alami seperti jolawe, tingi, kunyit, bunga, kayu, dan daun, serta pembelajaran strategi digital marketing.
"Penggunaan pewarna alami ini memberi nilai tambah karena ramah lingkungan, sementara penyandang disabilitas sebagai peserta utama diharapkan memperoleh kemandirian ekonomi dari keterampilan yang diberikan," ujarnya.
Salah satu peserta, Merry Maryam, mengaku bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut. Baginya, kesempatan ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga memberikan semangat baru. “Kami dengan kemampuan dan pengalaman yang pas-pasan diberi kesempatan kembali. Ini kali ketiga kami penyandang disabilitas ikut, dan sangat senang karena manfaatnya besar sekali. Ilmu yang diberikan sangat berguna untuk kemandirian kami,” tukasnya.
Melalui kolaborasi diharapkan tidak hanya memperkuat eksistensi batik ekologis, tetapi juga membuka peluang luas bagi penyandang disabilitas untuk lebih berdaya, mandiri, dan berkontribusi dalam melestarikan batik sebagai identitas Kota Pekalongan.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea/arfian)