[ 2025-08-11 ]
Rakernas JKPI 2025, Yogyakarta Akui Dominasi Batik Pekalongan di Pasar Nasional
Yogyakarta – Suasana akrab dan penuh kehangatan mewarnai acara Farewell Dinner penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) Tahun 2025 yang digelar di Yogyakarta, Kamis malam (7/8/2025). Dalam momen berkesan yang mempertemukan para kepala daerah dari berbagai kota pusaka se-Indonesia itu, sebuah pernyataan mengejutkan sekaligus membanggakan terlontar dari Wali Kota Yogyakarta, DR. dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K).
Dengan santai namun penuh makna, Hasto menyampaikan apresiasinya kepada Kota Pekalongan yang selama ini telah memberikan kontribusi besar dalam industri batik nasional, khususnya di Yogyakarta.
“Kota Pekalongan ini batiknya semua di Jogja. Ternyata di Pasar Beringharjo itu, batik yang dijual Batik Pekalongan 80 persen,” ungkap Hasto yang disambut tepuk tangan meriah dari tamu undangan yang hadir.
Pernyataan ini sekaligus mempertegas fakta yang selama ini mungkin belum banyak diketahui publik, bahwa batik asal Kota Pekalongan telah menguasai sebagian besar pasar batik di Yogyakarta, termasuk di Pasar Beringharjo yang merupakan ikon perbelanjaan batik legendaris di Kota Gudeg tersebut.
"Acara Farewell Dinner menjadi penutup rangkaian kegiatan Rakernas JKPI 2025 yang digelar selama beberapa hari terakhir. Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum diskusi strategis mengenai pelestarian warisan budaya dan pembangunan berkelanjutan di kota-kota pusaka, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan pertukaran wawasan antar kepala daerah, tokoh budaya, dan komunitas penggiat pusaka dari berbagai daerah,"tegasnya.
Momen puncak dalam Farewell Dinner ditandai dengan penyerahan Pataka JKPI dari Wali Kota Yogyakarta kepada Wali Kota Ternate, sebagai simbol estafet tuan rumah Rakernas JKPI Tahun 2026. Seremoni ini berlangsung khidmat dan menjadi lambang kuatnya solidaritas, kesinambungan komitmen, dan semangat kolaborasi lintas daerah dalam menjaga kekayaan budaya bangsa.
Menanggapi pernyataan yang dilontarkan oleh Wali Kota Yogyakarta, Wali Kota Pekalongan, HA Achmad Afzan Arslan Djunaid yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas penghargaan tersebut. Ia mengakui bahwa, Kota Pekalongan memang telah lama menjadi sentra produksi batik yang tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
“Kota Pekalongan memang dikenal sebagai Kota Batik, dan pengakuan ini telah menguat sejak UNESCO menetapkan Pekalongan sebagai The World City of Batik. Kami akan terus menjaga identitas ini, tidak hanya melalui keberlanjutan produksi batik, tetapi juga dengan mengembangkan inovasi serta melestarikan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ujar Wali Kota Aaf, sapaan akrabnya.
Lebih lanjut, Aaf menyampaikan bahwa, batik khas Kota Pekalongan tidak hanya unggul dari sisi estetika motif dan keragaman warna, tetapi juga memiliki filosofi mendalam yang diwariskan secara turun-temurun. Hal ini menjadi kekuatan budaya yang harus terus dijaga, diberdayakan, dan dikenalkan ke generasi muda melalui pendidikan, festival, hingga diplomasi budaya lintas daerah maupun mancanegara.
Keberadaan batik Pekalongan yang mendominasi pasar batik di Yogyakarta, seperti di Pasar Beringharjo, menurut para pengamat budaya, bukanlah hal yang mengherankan. Batik Pekalongan dikenal dengan corak dan motif yang dinamis, serta cepat beradaptasi dengan tren pasar. Selain itu, sistem distribusi yang luas, harga yang kompetitif, serta kualitas pewarnaan yang tajam menjadikan batik Pekalongan sangat diminati masyarakat.
"Dengan pengakuan dari berbagai pihak, termasuk dari kepala daerah kota pusaka lainnya, posisi Pekalongan sebagai salah satu pusat kebudayaan batik di Indonesia semakin kokoh. Komitmen Pemerintah Kota Pekalongan dalam menjaga ekosistem perbatikan melalui dukungan terhadap para perajin, pengembangan kampung batik, hingga integrasi teknologi dalam pemasaran digital, menjadi langkah nyata menuju keberlanjutan industri batik nasional,"terangnya.
Aaf menegaskan, Rakernas JKPI 2025 menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas daerah dalam pelestarian pusaka budaya bukan hanya penting, tetapi juga membawa manfaat yang luas. Dalam konteks batik, kegiatan ini memperkuat jalinan antar kota pusaka dalam saling mendukung dan mengapresiasi kekayaan masing-masing.
"Dengan estafet tuan rumah Rakernas yang kini berpindah ke Ternate untuk pelaksanaan JKPI tahu depan, diharapkan semangat pelestarian pusaka dan budaya tetap menyala dan semakin mengakar di setiap penjuru negeri,"tukasnya. (Tim Liputan Kominfo/Dian).