[ 2025-07-31 ]
Gandeng Maestro Batik, Lapas Pekalongan Latih Warga Binaan Jadi Pengrajin Batik
Kota Pekalongan – Komitmen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekalongan dalam membina dan memberdayakan warga binaan kembali ditunjukkan melalui kegiatan pelatihan membatik, yang digelar bekerja sama dengan salah satu ikon batik ternama di Kota Pekalongan, Batik Mulasari. Kegiatan ini dilangsungkan di area pembinaan kerja Lapas setempat. Kegiatan pelatihan ini diikuti puluhan warga binaan Lapas yang tampak antusias menggenggam canting dan menggoreskan malam ke kain putih.
Yang istimewa, pelatihan ini dibimbing langsung oleh H. M. Palal, pendiri sekaligus maestro Batik Mulasari. Sosok yang telah malang melintang di dunia perbatikan ini tak segan membagikan pengalaman, teknik, dan filosofi membatik kepada para peserta. Dengan penuh kesabaran, H. Palal membimbing warga binaan dari tahap awal hingga proses akhir membatik.
“Batik bukan hanya kain bergambar. Di setiap motifnya tersimpan nilai budaya, filosofi, dan ketekunan. Saya senang bisa berbagi ilmu ini kepada saudara-saudara kita di Lapas. Siapa tahu, dari sini lahir pengrajin batik masa depan yang bisa berkontribusi untuk kota ini,” tutur H. Palal saat ditemui usai sesi pelatihan, Rabu (30/7/2025).
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Pekalongan, Ika Prihadi Nusantara, mengungkapkan bahwa, pelatihan membatik ini merupakan salah satu upaya konkret dalam pembinaan keterampilan warga binaan agar mereka siap kembali ke masyarakat dengan keahlian yang bermanfaat.
“Ini bukan sekadar kegiatan pengisi waktu, melainkan pembekalan. Ketika mereka bebas nanti, keterampilan seperti membatik bisa menjadi pintu masuk untuk mandiri, bahkan membuka lapangan kerja. Lapas bukan tempat menghukum, tapi membina dan memulihkan,” jelas Kalapas Ika Prihadi.
Selama pelatihan, para peserta dikenalkan pada seluruh proses produksi batik, mulai dari pengenalan jenis kain, pemilihan motif, teknik mencanting, pewarnaan, hingga proses pelorodan atau penghilangan malam. Meski masih tahap awal, hasil karya warga binaan mulai menunjukkan kualitas yang menjanjikan, dengan beberapa di antaranya menampilkan motif khas Pekalongan.
“Baru beberapa kali pelatihan, tapi hasilnya sudah lumayan. Ada peserta yang punya bakat dan cepat menangkap tekniknya,” katanya sembari menunjukkan selembar kain batik hasil ciptaan warga binaan.
Menurutnya, program kerja sama ini tidak berhenti pada pelatihan. Pihaknya bersama Batik Mulasari tengah menjajaki peluang pemasaran hasil karya batik warga binaan. Ke depan, produk batik ini bisa menjadi brand tersendiri dan bahkan dijual melalui galeri mitra, pameran, atau toko daring, sebagai wujud nyata reintegrasi sosial yang produktif.
“Kami ingin membangun rantai nilai dari proses produksi hingga pemasaran. Kalau ini berhasil, warga binaan bisa punya penghasilan dan merasa dihargai. Ini juga bisa menjadi contoh bagi Lapas lain,” ujarnya.
Dengan sentuhan tangan maestro seperti H. Palal, diharapkan warisan batik ini tidak hanya lestari, tetapi juga membuka jalan baru bagi warga binaan untuk menjalani hidup yang lebih baik setelah masa pidananya usai.
"Pelatihan membatik ini menjadi bukti bahwa di balik jeruji, masih ada harapan, karya, dan masa depan yang bisa diraih dengan kerja keras dan bimbingan yang tepat bagi warga binaan kami,"tegasnya.
Kegiatan ini disambut positif oleh warga binaan yang terlibat. Salah satunya warga binaan berinisial H yang menyatakan bahwa pelatihan ini membuka harapan baru baginya.
“Saya dulu nggak tahu apa-apa soal batik. Sekarang saya jadi tahu prosesnya, dan senang karena merasa bisa menghasilkan karya. Nanti kalau keluar, Saya ingin kerja di batik atau buka usaha kecil-kecilan,” tutupnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)