Rilis Berita


Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Diperkuat, Beban TPA Degayu Terus Dikurangi

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-07-31 ]

Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Diperkuat, Beban TPA Degayu Terus Dikurangi

Kota Pekalongan – Upaya pengurangan sampah dari sumber terus diperkuat Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan melalui kolaborasi dengan masyarakat. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dinilai menjadi salah satu langkah efektif untuk menekan volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Degayu sekaligus mendukung pemulihan pengelolaan TPA secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut diperkuat melalui kegiatan Peningkatan Kapasitas Bank Sampah Unit se-Kota Pekalongan dan Pelatihan Penyadaran Publik Pencegahan Tumbuh dan Berkembangnya Kawasan Kumuh yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan bersama Disperkim Provinsi Jawa Tengah di Aula Kantor DLH Kota Pekalongan, Selasa (28/7/2026).

Kabid Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Kota Pekalongan, Dione Asteria menjelaskan, timbulan sampah di Kota Pekalongan saat ini mencapai sekitar 160 ton per hari. Namun, sebagian di antaranya telah berhasil dikurangi melalui pemilahan di tingkat rumah tangga, bank sampah, serta pengolahan di TPS3R dan TPST sebelum residunya dibawa ke TPA Degayu.

"Fokus kami saat ini adalah terus meningkatkan reduksi sampah dari sumbernya. Dengan semakin banyak masyarakat yang memilah dan mengolah sampah, beban TPA Degayu dapat terus berkurang sembari proses pemulihan kondisi TPA berjalan," ujar Dione.

Salah satu praktik baik datang dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Medono Resik yang aktif mengembangkan pengelolaan sampah organik. Pengelola KSM Medono Resik, Fahri, mengatakan pihaknya berupaya mengubah pola pikir masyarakat bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan bahan baku yang masih memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi apabila dipilah serta diolah dengan tepat.

"KSM Medono Resik mengolah sampah organik menjadi berbagai produk ramah lingkungan, seperti eco-enzyme, mikroorganisme lokal untuk membantu proses penguraian limbah, hingga produk turunannya berupa sabun cuci dan cairan pembersih. Inovasi tersebut tidak hanya mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,"terang Fahri.

Ia menambahkan, sampah organik memiliki potensi yang sangat besar karena mendominasi timbulan sampah yang masuk ke TPA. Oleh karena itu, pengelolaan sampah organik perlu terus didorong agar dapat menghasilkan produk yang bermanfaat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

"Kami berharap semakin banyak kelompok masyarakat, RT, RW, maupun bank sampah yang menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri di lingkungannya. Dengan semakin luasnya partisipasi masyarakat, volume sampah yang dikirim ke TPA Degayu dapat terus ditekan sehingga tercipta lingkungan Kota Pekalongan yang lebih bersih, sehat, produktif, dan berkelanjutan,"tukasnya.

(Tim Liputan Kominfo/Dian)