[ 2026-05-29 ]
Rutan Pekalongan Sembelih 9 Ekor Kambing, WBP Khidmat Rayakan Iduladha 1447 H di Balik Jeruji
Kota Pekalongan – Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pekalongan saat peringatan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah/2026 Masehi, Rabu (27/5/2026). Di balik jeruji besi, ratusan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti Salat Iduladha dengan penuh kekhusyukan di Masjid Baabut Taubat Rutan setempat, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban sebanyak 9 ekor kambing.
Kepala Rutan Kelas IIA Pekalongan, Nanang Adi Susanto mengungkapkan bahwa rangkaian kegiatan Iduladha dimulai sejak pagi hari dengan pelaksanaan Salat Ied yang diikuti seluruh warga binaan muslim dan jajaran petugas rutan.
“Di Iduladha Tahun 2026 ini, kegiatan paginya kita melaksanakan Salat Ied mulai pukul 06.00 WIB. Setelah itu dilanjutkan pukul 07.00 WIB dengan pemotongan hewan kurban,” tuturnya usai kegiatan Salat Iduladha di Masjid Baabut Taubat Rutan Pekalongan.
Karutan Nanang menjelaskan, jumlah hewan kurban tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Jika pada Iduladha tahun lalu terkumpul tujuh ekor kambing, tahun ini meningkat menjadi sembilan ekor kambing. Hal tersebut menunjukkan meningkatnya kepedulian berbagai pihak terhadap warga binaan di Rutan Pekalongan.
Adapun sembilan ekor kambing kurban tersebut berasal dari berbagai instansi dan pihak, yakni satu ekor dari Polres Pekalongan Kota, satu ekor dari Polres Pekalongan Kabupaten, satu ekor dari Wali Kota Pekalongan, dua ekor dari Bupati Pekalongan, satu ekor dari pegawai Rutan Pekalongan, masing-masing satu ekor dari Kejaksaan Negeri Kota Pekalongan dan Kejaksaan Negeri Kabupaten Pekalongan, serta satu ekor dari PT Sumber Rejeki Baru.
Menurutnya, pelaksanaan kurban tidak hanya menjadi bentuk ibadah semata, namun juga sarana mempererat kepedulian sosial dan kebersamaan, termasuk bagi para warga binaan yang tengah menjalani masa pidana.
“Rencana daging kurban bukan saja untuk warga binaan, tetapi nanti juga dibagikan kepada masyarakat sekitar yang kurang mampu,” imbuhnya.
Saat ini, jumlah warga binaan di Rutan Kelas IIA Pekalongan tercatat sebanyak 265 orang, termasuk tujuh warga binaan perempuan. Seluruh warga binaan muslim tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan tersebut.
Karutan Nanang berharap momentum Iduladha dapat menjadi sarana introspeksi diri bagi warga binaan agar mampu memperbaiki diri dan menata masa depan menjadi lebih baik setelah selesai menjalani masa hukuman.
“Semoga terkait warga binaan ini bisa introspeksi diri, yang mana nantinya bisa lebih baik untuk ke depannya,” katanya.
Sementara itu, Imam Salat Iduladha sekaligus pengisi tausyiyah di Masjid Baabut Taubat Rutan Pekalongan menyampaikan pesan mendalam tentang makna pengorbanan dan kesabaran dalam kehidupan, khususnya bagi warga binaan yang sedang menjalani pembinaan di dalam rutan.
Dalam tausyiyahnya, ia menegaskan bahwa makna berkurban tidak hanya sebatas menyembelih hewan, tetapi juga pengorbanan batin dan kesabaran dalam menjalani ujian hidup.
“Orang yang berkorban ini bukan hanya berkorban sapi atau kambing. Apalagi kalau di rutan, berarti pengorbanan ini adalah pengorbanan kesabaran dan pengorbanan diri supaya masa depannya bisa lebih baik lagi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa warga binaan saat ini memang tengah menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk harus menahan rindu kepada keluarga dan menjalani kehidupan yang berbeda dibanding masyarakat di luar rutan.
Namun demikian, kesabaran dan kesungguhan dalam menjalankan ibadah diyakini akan menjadi bekal penting untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
“Sekarang mungkin mereka ada kesusahan di dalam, harus sabar menahan rindu terhadap keluarga dan tidak leluasa seperti orang di luar. Tetapi dengan kesabaran itu, mereka tetap mau melaksanakan salat dan ibadah lainnya. Insya Allah nanti akan menjadi bekal yang bagus dan kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi,” tuturnya.
Meski dilaksanakan dalam suasana keterbatasan, peringatan Iduladha di Rutan Pekalongan tetap berlangsung hangat, tertib, dan penuh kekeluargaan.
"Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa nilai-nilai keikhlasan, pengorbanan, serta harapan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik dapat tumbuh di mana saja, termasuk di balik jeruji besi,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)