Rilis Berita


Bangun Budaya Peduli Lingkungan, Wawalkot Balgis Diab Ajak Generasi Muda Terapkan 3R Sejak Dini

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-05-08 ]

Bangun Budaya Peduli Lingkungan, Wawalkot Balgis Diab Ajak Generasi Muda Terapkan 3R Sejak Dini

Kota Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan terus berkomitmen dalam membangun budaya peduli lingkungan melalui penguatan edukasi pengelolaan sampah sejak usia dini. Hal ini ditegaskan Wakil Wali Kota (Wawalkot) Pekalongan, Hj. Balgis Diab, usai membuka kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Komunitas Peduli Sampah Triple eR Warriors yang digelar di Ruang Buketan Setda Kota Pekalongan, Rabu siang (6/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wawalkot Balgis menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya ditangani secara teknis oleh pemerintah, melainkan membutuhkan perubahan mendasar pada perilaku dan pola pikir masyarakat. Oleh karena itu, Pemkot Pekalongan menggandeng berbagai elemen, khususnya kalangan pendidik dan generasi muda, untuk menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sampah berbasis edukasi.

“Pemerintah Kota Pekalongan memiliki kepedulian yang besar terhadap masalah lingkungan, khususnya penanganan dan pengelolaan sampah. Melalui rakor ini, kami mengajak komunitas dan para pendidik untuk bersama-sama membangun perubahan perilaku, budaya, dan gaya hidup masyarakat yang lebih peduli lingkungan,” tuturnya.

Ia menambahkan, langkah strategis ini difokuskan pada pembiasaan sejak dini, mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Menurutnya, pendidikan menjadi kunci utama dalam menanamkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah secara bijak.

“Kita ingin anak-anak kita sejak usia dini sudah memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Melalui pembentukan komunitas Triple eR Warriors yang melibatkan guru dan siswa, diharapkan pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga, dengan menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Wawalkot Balgis menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari upaya percepatan penanganan sampah yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Tidak hanya pemerintah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), namun juga komunitas, sekolah, hingga keluarga diharapkan dapat berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.

Sementara itu, Founder Komunitas Triple eR Warriors, Soeroso, mengungkapkan bahwa persoalan sampah merupakan isu nasional yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Ia menilai, pengalaman Kota Pekalongan yang sempat menghadapi kondisi darurat sampah pada tahun 2025 menjadi pelajaran penting untuk melakukan perubahan secara sistematis.

“Persoalan sampah ini tidak bisa diselesaikan secara temporer, tetapi harus berkelanjutan. Intinya ada pada perubahan kebiasaan dan perilaku masyarakat. Untuk itu, pendidikan menjadi satu-satunya jalan yang efektif dalam membentuk kebiasaan baru yang lebih baik,” jelasnya.

Soeroso menambahkan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam memastikan keberlanjutan pengelolaan sampah di masa depan. Dengan pembekalan yang tepat, mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mendorong budaya memilah sampah, mengurangi timbulan sampah, serta memanfaatkan kembali barang yang masih bernilai guna.

“Generasi muda inilah yang kita siapkan agar ke depan tidak lagi terjadi kebiasaan membuang sampah sembarangan atau konsumsi berlebihan yang memicu peningkatan volume sampah. Pendidikan harus menjadi tulang punggung dalam penanganan masalah ini,” tegasnya.

Pasca pelaksanaan rakor, komunitas Triple eR Warriors akan memasuki tahap rekrutmen di seluruh satuan pendidikan di Kota Pekalongan. Setiap sekolah diharapkan membentuk komunitas kecil yang terdiri dari siswa-siswa terpilih yang memiliki komitmen tinggi terhadap pengelolaan sampah.

“Setelah rekrutmen, kami akan memberikan pelatihan kepada guru dan siswa terkait pengelolaan sampah berbasis 3R. Mereka nantinya akan dikukuhkan dan mulai menjalankan berbagai kegiatan di sekolah masing-masing, mulai dari kegiatan harian, mingguan, hingga aksi massal di tingkat kota,” terang Soeroso.

Ia berharap, melalui gerakan ini, siswa tidak hanya memahami konsep pengelolaan sampah, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, budaya peduli lingkungan dapat tumbuh secara alami dan berkelanjutan di tengah masyarakat.

"Melalui sinergi antara pemerintah, komunitas, dan dunia pendidikan, kami optimistis mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif sekaligus membangun generasi muda yang sadar lingkungan. Gerakan Triple eR Warriors diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan di masa mendatang,"tukasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)