[ 2026-04-28 ]
Langkah Kecil, Dampak Besar: Cuci Piring Latih Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus
Kota Pekalongan — Pembelajaran kemandirian bagi anak berkebutuhan khusus terus diupayakan melalui kegiatan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu kegiatan yang dikenalkan oleh Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) kepada peserta didiknya yakni melalui mencuci piring setelah makan.
Guru Pendamping Khusus, Anggraini Nur Millati, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program bina diri yang bertujuan menanamkan tanggung jawab sejak dini. Anak-anak diajak memahami bahwa setiap selesai makan, mereka memiliki kewajiban untuk membereskan peralatan yang digunakan.
“Kami ingin anak-anak terbiasa bahwa piring dan gelas yang mereka pakai adalah tanggung jawab mereka juga,” ungkapnya.
Kegiatan ini menyasar anak-anak berkebutuhan khusus yang selama ini masih cenderung dilayani dalam aktivitas sehari-hari. Melalui pendampingan, anak mulai dikenalkan untuk mencoba melakukan hal-hal sederhana secara mandiri.
Dalam praktiknya, anak-anak diajak langsung mencuci piring, mulai dari membilas, menggunakan sabun, hingga merapikan kembali. Proses ini dilakukan secara bertahap dengan bimbingan guru.
Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga membangun kebiasaan baik. Anak belajar mandiri sekaligus memahami tanggung jawab dalam bentuk yang sederhana.
Selain itu, kegiatan ini juga memberi manfaat lain, terutama bagi anak yang memiliki sensitivitas tertentu. Interaksi dengan air, sabun, dan berbagai tekstur menjadi bagian dari proses adaptasi yang penting bagi perkembangan mereka.
“Anak-anak terlihat senang karena bisa langsung praktik. Ini juga jadi pengalaman baru bagi mereka,” tandasnya.
Sejauh ini, kegiatan bina diri tersebut menunjukkan dampak positif. Anak mulai berani mencoba dan perlahan terbiasa melakukan aktivitas secara mandiri, meskipun masih dalam pengawasan.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan bisa terus dilakukan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah. Pihak sekolah juga mengajak orang tua untuk turut mendukung dengan memberi kesempatan anak belajar mandiri.
“Tidak harus langsung bisa, yang penting dibiasakan. Dengan pendampingan, anak akan berkembang,” tukasnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)