Rilis Berita


Kolaborasi Pusat dan Daerah Disiapkan, Bappenas Revisit Perencanaan Penanganan Banjir Bremi–Meduri

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-04-13 ]

Kolaborasi Pusat dan Daerah Disiapkan, Bappenas Revisit Perencanaan Penanganan Banjir Bremi–Meduri

Kota Pekalongan – Upaya penanganan banjir rob yang kerap melanda wilayah pesisir Kota Pekalongan, khususnya di kawasan Bremi–Meduri, kembali menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mulai melakukan peninjauan ulang (revisit) terhadap perencanaan yang telah ada, guna memastikan langkah penanganan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Sumber Daya Air Bappenas, Juari, S.T., M.T., mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai opsi penanganan yang sebelumnya telah dirancang. Evaluasi ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam mengatasi persoalan banjir rob yang terjadi berulang, khususnya di wilayah Pantura Jawa.

“Nah, yang rencananya kita coba evaluasi untuk menjadi kegiatan yang bisa kita wujudkan. Tetapi ini masih dalam tahap evaluasi. Jadi kalau ditanya terkait anggaran, seberapa besar atau apakah masih tersedia, itu masih belum bisa kami sampaikan saat ini,” ujar Juari saat ditemui awak media.

Ia menegaskan bahwa langkah revisit ini merupakan bentuk niat baik pemerintah pusat untuk kembali melihat perencanaan yang ada, sekaligus menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan terkini. Penanganan banjir di kawasan Pantura, termasuk Bremi–Meduri, dinilai mendesak karena dampaknya yang terus berulang dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Intinya, kami ingin membantu penanganan banjir Pantura Jawa, karena banjirnya berulang dan dampaknya juga berulang. Jadi perencanaan ini kita lihat kembali, kita evaluasi agar bisa benar-benar tepat sasaran,” imbuhnya.

Dalam kajian awal, Juari menyebutkan bahwa terdapat dua alternatif utama yang tengah dipertimbangkan untuk sistem pengendalian banjir di wilayah Bremi. Alternatif tersebut meliputi pembangunan bendung gerak, pembangunan kolam retensi, maupun kombinasi keduanya.

“Rencananya, dari studi yang ada, untuk sistem Bremi itu ada dua alternatif. Apakah menggunakan bendung gerak saja, kolam retensi saja, atau kombinasi keduanya. Ini yang nanti akan kita evaluasi lebih lanjut, tentunya disesuaikan dengan ketersediaan anggaran,” jelasnya.

Terkait isu anggaran yang sempat beredar, termasuk angka sekitar Rp37 miliar, Juari mengaku belum dapat memberikan konfirmasi. Menurutnya, informasi tersebut masih perlu ditelusuri lebih lanjut, mengingat dinamika penganggaran saat ini berbeda dengan periode sebelumnya.

“Saya belum bisa mengonfirmasi terkait angka anggaran itu, karena perlu kita pastikan dulu sumbernya dari mana. Saat ini nuansa penganggaran juga tidak seperti periode sebelumnya, jadi harus kita cermati bersama,” ungkapnya.

Meski demikian, ia memastikan bahwa penanganan banjir rob di Pekalongan, khususnya di kawasan Bremi–Meduri, masih menjadi salah satu prioritas pemerintah. Hasil evaluasi nantinya akan dilaporkan kepada pimpinan untuk mendapatkan arahan lebih lanjut terkait kelanjutan program tersebut.

“Kalau memang nanti disetujui menjadi prioritas, tentu akan kita jalankan. Tapi saat ini masih dalam tahap perencanaan dan evaluasi,” tambahnya.

Saat disinggung mengenai target waktu pelaksanaan, Juari menyampaikan bahwa pihaknya belum dapat memberikan kepastian. Hal ini mengingat seluruh proses masih berada pada tahap awal perencanaan yang memerlukan kajian matang dan koordinasi lintas instansi.

“Belum bisa merespons untuk target tahun ini, karena ini masih tahap perencanaan. Tapi yang jelas, langkahnya sudah mulai kita jalankan kembali,” tuturnya.

Lebih lanjut, Juari menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menangani persoalan banjir rob. Ia menyebutkan bahwa Bappenas tidak akan bekerja sendiri, melainkan akan bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta pemerintah daerah.

“Kami membantu BBWS juga, jadi tidak bergerak sendiri. Niatnya adalah berkolaborasi bersama-sama. Termasuk nanti siapa yang akan mengerjakan, apakah pemerintah daerah atau BBWS, itu masih perlu dikonsolidasikan di tingkat pusat,” tegasnya.

Ia berharap, dengan adanya langkah revisit ini, diharapkan penanganan banjir Bremi–Meduri dapat dirumuskan secara lebih komprehensif dan berkelanjutan, sehingga mampu mengurangi dampak banjir rob yang selama ini menjadi permasalahan kronis di Kota Pekalongan.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Pekalongan, Hj. Balgis Diab, menyambut baik langkah pemerintah pusat melalui Bappenas yang kembali melakukan peninjauan ulang perencanaan penanganan banjir di kawasan Bremi–Meduri. Menurutnya, upaya tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini terdampak banjir rob berkepanjangan.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kota Pekalongan siap mendukung penuh setiap proses perencanaan hingga pelaksanaan program, termasuk memperkuat koordinasi lintas sektor agar penanganan banjir dapat berjalan optimal.

“Pemerintah Kota tentu sangat mendukung langkah Bappenas ini. Harapan kami, hasil evaluasi ini benar-benar menghasilkan solusi yang konkret, terintegrasi, dan berkelanjutan. Karena persoalan banjir rob di Pekalongan ini sudah sangat lama dirasakan masyarakat,” ujar Wawalkot Balgis.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah dalam menangani persoalan banjir rob yang kompleks. Ia menekankan, kolaborasi menjadi kunci agar program yang direncanakan tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar terealisasi dan memberikan dampak nyata.

Pihaknya menegaskan, Pemkot Pekalongan siap berkolaborasi, baik dengan Bappenas, BBWS, maupun pihak terkait lainnya.

"Yang terpenting adalah bagaimana program ini bisa segera diwujudkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya di wilayah Bremi dan Meduri. Kami juga berharap agar proses perencanaan yang tengah dilakukan dapat segera menemukan titik terang, sehingga penanganan banjir rob di Kota Pekalongan bisa menjadi lebih terarah dan efektif dalam jangka panjang,"pungkasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian/Allem/Saif)