Rilis Berita


Warga Empat Wilayah Bahu-Membahu Tanggulangi Dampak Jebolnya Tanggul Sungai Bremi

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-04-13 ]

Warga Empat Wilayah Bahu-Membahu Tanggulangi Dampak Jebolnya Tanggul Sungai Bremi

Kota Pekalongan – Semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat terlihat begitu kuat di tengah musibah jebolnya tanggul Sungai Bremi yang terjadi pada Kamis (26/3/2026). Meski menghadapi berbagai keterbatasan, warga dari empat wilayah terdampak tetap kompak bahu-membahu melakukan penanganan darurat demi meminimalisir dampak banjir yang merendam permukiman mereka.

Hingga Senin (30/3/2026), genangan air masih melanda sejumlah wilayah, yakni Pasirsari di Kota Pekalongan, serta Karangjompo, Tegaldowo, dan Mulyorejo di Kabupaten Pekalongan. Ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 50 sentimeter, sehingga mengganggu aktivitas warga sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, warga menunjukkan kepedulian dan kebersamaan yang luar biasa. Tanpa menunggu bantuan, mereka secara swadaya berinisiatif menutup tanggul yang jebol menggunakan alat dan bahan seadanya, seperti bambu, karung berisi tanah, serta material sederhana lainnya.

Salah satu warga Pasirsari, Sodikin, mengungkapkan bahwa upaya tersebut dilakukan demi menahan laju air agar tidak semakin meluas ke permukiman.

“Kami berusaha semampu kami untuk menutup tanggul dengan alat seadanya. Yang penting air tidak semakin tinggi dan meluas,” ujarnya.

Upaya gotong royong ini tidak hanya melibatkan warga dari satu wilayah, tetapi juga lintas daerah. Masyarakat dari berbagai titik terdampak saling membantu, baik tenaga maupun material, menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan yang masih terjaga di tengah masyarakat.

Selain fokus pada penanganan tanggul darurat, warga juga saling membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka berbagi makanan, menjaga lingkungan, serta saling mengingatkan untuk tetap waspada terhadap potensi gangguan kesehatan akibat genangan air.

Hidayah, warga terdampak lainnya, mengaku meski kondisi cukup sulit, kebersamaan antarwarga menjadi kekuatan utama untuk bertahan.

“Memang kondisi belum normal, tapi kami saling bantu. Tetangga saling peduli, itu yang membuat kami kuat menghadapi situasi ini,” ungkapnya.

Meski demikian, warga berharap adanya percepatan penanganan dari pemerintah untuk perbaikan tanggul secara permanen. Diketahui sebelumnya, lokasi tanggul jebol telah ditinjau oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Wali Kota Pekalongan, H.A. Afzan Arslan Djunaid, serta Plt Bupati Pekalongan, Sukirman.

Warga optimistis, dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, penanganan bencana ini dapat segera teratasi secara maksimal. Mereka juga berharap ke depan akan ada sistem pengendalian banjir yang lebih baik, sehingga kejadian serupa tidak terulang setiap musim hujan.

Di balik musibah yang terjadi, semangat gotong royong yang ditunjukkan warga menjadi cerminan kuatnya solidaritas sosial.

"Kebersamaan tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana,"tegas Hidayah.

Terpisah, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Senin sore (30/3/2026), Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, menyampaikan update data pengungsi per Senin, 30 Maret 2026 pukul 13.00 WIB. Ia menjelaskan bahwa total pengungsi saat ini mencapai 259 jiwa yang tersebar di beberapa titik pengungsian.

“Untuk pengungsi di Eks Aula Kelurahan Kraton Kidul tercatat 116 jiwa dari 43 KK, Aula Kelurahan Pasirkratonkramat sebanyak 79 jiwa dari 29 KK, TPQ Madinatul Ulum sebanyak 53 jiwa dari 14 KK, serta Aula Kecamatan Pekalongan Barat sebanyak 11 jiwa dari 4 KK. Total keseluruhan mencapai 259 jiwa atau 90 KK,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihak BPBD bersama instansi terkait terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi para pengungsi, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga pemantauan kondisi kesehatan warga.

(Tim Liputan Kominfo/Dian)