Rilis Berita


Panitia Festival Lopis Raksasa Tekankan Kolaborasi dan Pelestarian Tradisi di Pekan Syawalan

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-04-13 ]

Panitia Festival Lopis Raksasa Tekankan Kolaborasi dan Pelestarian Tradisi di Pekan Syawalan

Kota Pekalongan – Panitia Festival Lopis Raksasa Pekan Syawalan di Krapyak Kidul Gang 8 (Gang Sembawan) kembali berkomitmen dalam menjaga kelestarian tradisi sekaligus memperkuat kolaborasi lintas elemen masyarakat. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Humas Festival, Iwan Kurniawan, saat ditemui di lokasi pembuatan Lopis Raksasa, Rabu siang (25/3/2026).

Dalam perhelatan tahun ini, panitia mengusung tema “Merajut Tradisi, Menguatkan Kolaborasi”. Tema tersebut, menurut Iwan, bukan sekadar slogan, melainkan pesan mendalam yang ingin disampaikan kepada masyarakat luas.

“Yang dirajut itu tradisinya, yang dikuatkan itu kolaborasinya. Tradisi ini tidak boleh hilang, harus tetap safe, harus tetap lestari. Kemudian kolaborasi ini menjadi level berikutnya, artinya kita dituntut untuk bisa bekerja sama dengan siapa pun dan terbuka menerima masukan dari berbagai pihak,” tutur Iwan.

Ia menambahkan, nilai keterbukaan dan silaturahmi menjadi kunci utama dalam penyelenggaraan festival ini. Berbagai unsur, baik dari tokoh agama, masyarakat, hingga lintas organisasi, dilibatkan dalam rangka menciptakan harmoni. Bahkan, rencananya akan hadir pula tamu dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai bagian dari semangat persatuan.

“Pesan yang ingin kita sampaikan adalah kompak dan persatuan, sesuai dengan filosofi lopis itu sendiri. Lopis yang terbuat dari ketan dan menyatu erat menjadi simbol kebersamaan masyarakat,” imbuhnya.

Terkait pelaksanaan acara, panitia juga telah melakukan berbagai persiapan, termasuk dari sisi pengamanan. Iwan mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat keamanan, mulai dari jajaran Polsek Pekalongan Utara hingga Polresta Pekalongan Kota.

“Kami sudah berkirim surat dan melakukan koordinasi terkait rangkaian kegiatan yang akan digelar. Mulai dari jalan sehat, panggung hiburan, hingga bazar UMKM. Semua itu akan bermuara pada puncak acara, yaitu pemotongan Lopis Raksasa oleh Bapak Wali Kota, Ibu Wakil Wali Kota, Ketua TP PKK, Ketua DPRD, Kapolres, Dandim, serta jajaran Forkopimda Kota Pekalongan,” jelasnya.

Momentum puncak tersebut diharapkan menjadi simbol kuatnya sinergi antara unsur pemerintah (umara), ulama, dan masyarakat.

"Kolaborasi tiga pilar ini dinilai menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Kota Pekalongan yang religius, rukun, dan semakin maju,"bebernya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Festival Lopis Raksasa Krapyak Gang Sembawan, Ahmad Zaky, menyoroti aspek teknis yang masih menjadi perhatian, khususnya terkait peralatan pendukung pembuatan lopis raksasa.

Ia mengungkapkan bahwa risiko terbesar dalam proses produksi justru terletak pada keterbatasan peralatan, terutama alat pengangkat seperti crane yang dinilai sudah tidak optimal.

“Kalau anggaran sebenarnya ada, tapi untuk peralatan belum dianggarkan secara maksimal. Padahal risikonya justru di situ. Crane yang digunakan dari tahun ke tahun belum diganti, sementara ukuran lopis terus bertambah. Ini yang membuat kami was-was,” ungkap Zaky.

Meski demikian, untuk peralatan lain seperti dandang atau alat memasak, ia menyebut masih dalam kondisi cukup memadai, meskipun memiliki keterbatasan.

“Kalau dibilang cukup ya cukup, tapi memang tidak terlalu tinggi. Namun, untuk standar proses memasak masih bisa digunakan, karena tekniknya harus bolak-balik. Kalau terlalu tinggi justru menyulitkan dalam prosesnya,” tambahnya.

Dengan berbagai persiapan yang terus dimatangkan, pihaknya berharap, Festival Lopis Raksasa tahun ini dapat berjalan lancar, aman, dan sukses, sekaligus menjadi ajang pelestarian budaya yang mampu mempererat kebersamaan masyarakat.

"Festival ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menjadi simbol kuat nilai gotong royong, toleransi, dan persatuan yang telah lama mengakar di tengah masyarakat Kota Pekalongan, khususnya dalam momentum Pekan Syawalan,"pungkasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)