Rilis Berita


Babak Penyisihan Group D Festival Balon Pekalongan 2026 Meriah, Upaya Ingatkan Bahaya Balon Liar dan Petasan

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-04-13 ]

Babak Penyisihan Group D Festival Balon Pekalongan 2026 Meriah, Upaya Ingatkan Bahaya Balon Liar dan Petasan

Kota Pekalongan – Suasana meriah dan penuh antusiasme mewarnai Babak Penyisihan Group D Pekalongan Balloon Festival 2026 yang digelar di Lapangan Leo, Krapyak, Selasa (24/3/2026). Ratusan warga memadati lokasi untuk menyaksikan beragam kreasi balon udara dari para peserta yang berasal dari berbagai wilayah, baik dari Kota maupun Kabupaten Pekalongan.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Pekalongan dalam mengakomodasi kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus menekan maraknya penerbangan balon liar yang berpotensi membahayakan.

Camat Pekalongan Utara, Wismo Aditio, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa, pelaksanaan festival balon secara bertahap di tiap kecamatan merupakan langkah strategis yang telah diusulkan pihaknya kepada Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dinparbudpora).

“Ini sudah kedua kalinya pelaksanaan festival balon dilakukan dengan konsep per kecamatan. Kami mengusulkan agar kegiatan ini terus dilaksanakan di masing-masing wilayah sebagai upaya menekan angka penerbangan balon liar sekaligus menjadi wadah kreativitas anak-anak muda untuk berkompetisi secara positif,” ujar Wismo.

Menurutnya, festival ini menjadi ruang yang sangat baik bagi masyarakat untuk menyalurkan hobi dan kreativitas secara aman dan terorganisir. Ia berharap, kegiatan serupa dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan di tahun-tahun mendatang.

Pada babak penyisihan Group D ini, peserta yang tampil tidak hanya berasal dari Kecamatan Pekalongan Utara, tetapi juga melibatkan peserta lintas kecamatan hingga dari wilayah Kabupaten Pekalongan. Keberagaman peserta ini menjadikan kompetisi semakin menarik dan kompetitif.

“Peserta kali ini merupakan campuran dari berbagai wilayah, baik dari Kota Pekalongan sendiri maupun dari Kabupaten Pekalongan. Ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang luar biasa terhadap festival ini,” tambahnya.

Namun demikian, Wismo juga menyoroti masih adanya anggapan di masyarakat yang menganggap penerbangan balon liar dan penggunaan petasan sebagai bagian dari tradisi. Ia menegaskan bahwa tidak semua tradisi harus dipertahankan, terutama jika berpotensi membahayakan keselamatan.

“Terus terang kami prihatin ketika balon liar dan petasan disebut sebagai tradisi. Padahal, ada tradisi yang baik dan ada yang kurang baik. Dengan perkembangan zaman, khususnya di dunia penerbangan, hal-hal seperti ini harus kita antisipasi dan mitigasi bersama,” tegasnya.

Ia menambahkan, pihak Forkopimcam terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya balon liar dan petasan. Selain dapat mengganggu jalur penerbangan, balon liar juga berisiko menyebabkan kebakaran dan kecelakaan.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak menggunakan dalih tradisi dalam melakukan hal-hal yang berpotensi membahayakan. Mari kita alihkan ke kegiatan yang lebih positif dan produktif seperti festival ini,” imbuhnya.

Ia menegaskan, Festival Balon Pekalongan 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana edukasi dan hiburan bagi masyarakat.

" Diharapkan, kegiatan ini mampu mengubah pola pikir masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan berbahaya seperti balon liar dan petasan, serta beralih ke aktivitas yang lebih aman, kreatif, dan membangun," ungkapnya.

Sementara itu, salah satu peserta dari Tim PPG Landungsari turut menyita perhatian pengunjung dengan balon berdiameter 14 meter dan tinggi 14 meter. Balon tersebut mengusung konsep tokoh nasional Jenderal Hoegeng yang dipadukan dengan ikon Kota Pekalongan.

Ketua Tim PPG Landungsari, Ulil Albab, mengungkapkan bahwa proses pembuatan balon tersebut memakan waktu sekitar dua bulan dengan melibatkan tujuh orang anggota tim.

“Konsepnya kami mengangkat sosok Jenderal Hoegeng, dipadukan dengan batik khas Pekalongan, logo kota, dan Museum Batik. Kami ingin mengenalkan bahwa Pekalongan punya tokoh jenderal yang dikenal jujur,” ungkap Ulil.

Ia mengakui, tantangan terbesar dalam pembuatan balon adalah menggambar sosok tokoh agar terlihat semirip mungkin. Selain itu, faktor cuaca seperti angin kencang juga menjadi kendala saat proses penerbangan balon.

“Kesulitannya saat menggambar tokoh karena harus benar-benar detail dan mirip. Saat penerbangan juga terkendala angin kencang, jadi balon agak sulit dikendalikan,” jelasnya.

Meski demikian, Ulil dan tim tetap optimistis dapat melaju ke babak grand final. “Kami optimis bisa masuk grand final, semoga hasilnya terbaik,” pungkasnya.

(Tim Liputan Kominfo/Dian)