[ 2026-04-06 ]
Kirab Budaya Imlek 2026 Jadi Simbol Harmoni dan Toleransi Kota Pekalongan
Kota Pekalongan – Semangat toleransi dan kebersamaan kembali terpancar dalam gelaran Kirab Ritual & Budaya Imlek 2026 yang dipusatkan di Klenteng Po An Thian, Senin sore (2/3/2026). Tradisi tahunan yang telah mengakar kuat di Kota Batik ini menjadi bukti nyata harmoni antarumat beragama yang terus terjaga, bahkan di tengah suasana bulan suci Ramadan.
Wali Kota Pekalongan, H.A. Afzan Arslan Djunaid atau yang akrab disapa Aaf, beserta wakilnya, Hj Balgis Diab hadir langsung menyaksikan kirab budaya tersebut. Usai kegiatan, Wali Kota Aaf menegaskan bahwa, perayaan ini merupakan potret asli wajah Kota Pekalongan yang penuh toleransi.
“Ya, ini sebenarnya sudah agenda rutin tahunan. Inilah bentuk Kota Pekalongan yang asli, toleransinya sangat luar biasa. Walaupun ini diselenggarakan di bulan puasa, tapi tidak menyurutkan semangat teman-teman Klenteng Po An Thian untuk tetap melaksanakan, dan tidak menyurutkan juga buat kita Pemerintah Kota Pekalongan dan masyarakat untuk antusias mendukung,” tuturnya.
Wali Kota Aaf juga berharap seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan membawa keberkahan bagi masyarakat. Cuaca mendung yang menyelimuti jalannya kirab sore itu pun dimaknainya sebagai pertanda baik.
“Ya mudah-mudahan ini pertanda berkah untuk kita semua. Karena sebagian orang masih percaya setelah Cap Go Meh dan Imlek, hujannya tidak begitu ekstrem. Mudah-mudahan benar. Alhamdulillah situasi seperti banjir kemarin, tanggul jebol, sudah kondusif. Mudah-mudahan ke depan tidak ada lagi kejadian luar biasa,” imbuhnya.
Wali Kota Aaf juga mengapresiasi dukungan berbagai unsur, mulai dari Forkopimda, tokoh masyarakat, Kementerian Agama, hingga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang turut menyukseskan kegiatan tersebut.
Kirab yang digelar di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) tersebut diawali dengan doa bersama memohon kelancaran dan keselamatan.
"Menariknya, dalam doa pembuka, umat klenteng secara khusus turut mendoakan saudara-saudari Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan agar diberikan kelancaran dan keberkahan,"ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Tridharma Klenteng Po An Thian, Heru Wibawanto Nugroho, menjelaskan bahwa, kirab tahun ini diikuti lebih dari 1.000 peserta. Meski jumlah penonton sedikit berkurang karena bertepatan dengan Ramadan, antusiasme masyarakat tetap terasa.
“Jumlahnya kira-kira hampir sama, 1.000 lebih. Tidak ada perbedaan signifikan dengan tahun kemarin. Hanya saja ini tahun Kuda Air,” ujarnya.
Dalam kirab tersebut, sebanyak 11 tandu (joli) diarak, terdiri dari sepuluh tandu Dewa-Dewi dan satu tandu pendupaan. Sepuluh sosok suci yang dikirab meliputi Y.M. Sin Long Tay Tee (Dewa Pengobatan & Pertanian), Y.M. Tek Hay Cin Jin (Dewa Perdagangan), Y.M. Kwan Seng Tee Koen (Dewa Kejujuran & Kesetiaan), Y.M. Lie Lo Cia (Dewa Pelindung Anak-Anak), Y.M. Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi), Y.M. Hauw Ciang Kun (Panglima Macan), Y.M. Hian Thian Siang Tee (Pembasmi Ilmu Hitam), Y.M. Thian Siang Seng Boo (Pelindung Nelayan), Y.M. Kwan Se Im Po Sat (Dewi Welas Asih), serta Y.M. Kongco Han Tan Kong (Dewa Kekayaan).
"Melalui perantara para Dewa-Dewi tersebut, umat memanjatkan doa agar tahun baru membawa kemakmuran, keberkahan air bagi para petani di Tahun Kuda Air, serta menjauhkan Kota Pekalongan dari marabahaya,"beber Heru.
Ia menyebut, kemeriahan budaya semakin terasa dengan atraksi enam barongsai dan satu naga dari Perkumpulan Liong Samsie Dharma Asih Semarang. Selain itu, tampil pula cosplay tokoh legendaris Tionghoa dari Sanggar Seni Tridharma Mekar Teratai, Marching Band Gita Wiradesa, serta alunan musik bambu Dara D’Calung.
Nuansa akulturasi semakin kental melalui penampilan Sanggar Kudo Bekso Utomo 1970 yang membawakan kesenian lokal seperti sintren, jaranan, jamang, dan bantengan. Perpaduan budaya Tionghoa dan kesenian tradisional Jawa ini menjadi simbol kuat persatuan dalam keberagaman.
Heru menegaskan bahwa, kirab ini bukan hanya ritual untuk menetralisir energi negatif, tetapi juga ajang budaya yang berpotensi mendorong sektor pariwisata Kota Pekalongan.
“Harapannya supaya tahun ini ekonomi lebih maju. Karena kudanya unsur air, untuk para petani cukup air sehingga saat panen melimpah,” katanya.
Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap hari ke-14 bulan pertama penanggalan Imlek ini juga membawa pesan kebangsaan yang kuat.
"Melalui kirab, umat turut mendoakan Indonesia agar selalu dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, serta para pemimpin bangsa senantiasa diberi kebijaksanaan, keadilan, dan amanah dalam menjalankan tugas,"ujarnya.
Sebagai salah satu klenteng bersejarah yang telah berdiri sejak 1760-an, Klenteng Po An Thian terus menjadi saksi perjalanan panjang kerukunan di Kota Pekalongan.
"Kami bersyukur, Kirab Budaya Imlek 2026 ini jadi simbol bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan kekuatan yang memperkaya identitas Kota Pekalongan sebagai kota yang damai, religius, dan menjunjung tinggi nilai toleransi,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian/Allem)