Rilis Berita


Kolaborasi dengan DLH, Rutan Pekalongan Sukses Uji Coba Budidaya Maggot Hasilkan 2 Kilogram

Responsive image


Silakan login terlebih dahulu untuk mendownload dokumentasi kegiatan ini.

[ 2026-04-06 ]

Kolaborasi dengan DLH, Rutan Pekalongan Sukses Uji Coba Budidaya Maggot Hasilkan 2 Kilogram

Kota Pekalongan – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pekalongan terus berkomitmen dalam mendukung pengelolaan sampah berkelanjutan melalui uji coba budidaya maggot. Untuk pertama kalinya, Rutan Pekalongan memanen hasil budidaya maggot di area kerja Bimbingan Kegiatan, Sabtu (28/2/2026).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Subseksi Bimbingan Kegiatan, Suharto Laksono, bersama staf, warga binaan pemasyarakatan (WBP), serta peserta Maganghub.

Laksono, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa, program budidaya maggot tersebut merupakan implementasi dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Rutan Pekalongan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan dalam pengelolaan sampah, khususnya pemanfaatan sampah organik.

" Inovasi ini menjadi langkah konkret dalam mengurangi volume sampah sekaligus mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomis,"ucapnya.

Lakso membeberkan, pada tahap percobaan awal, budidaya dilakukan dengan menggunakan 1 gram telur maggot. Hasilnya cukup menggembirakan, yakni menghasilkan sekitar 2 kilogram maggot dewasa yang siap panen.

"Maggot tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ayam, sementara sebagian lainnya direncanakan untuk dipasarkan guna mendukung program pembinaan kemandirian warga binaan,"terangnya.

Laksono menyebut, keberhasilan panen perdana ini menjadi bukti bahwa budidaya maggot memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan.

“Hasil panen ini menunjukkan budidaya maggot sangat potensial. Selain mendukung pengelolaan sampah, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Mereka tidak hanya belajar keterampilan baru, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini memberikan manfaat ganda. Dari sisi lingkungan, budidaya maggot membantu mengurangi timbunan sampah organik yang berpotensi mencemari lingkungan.

"Sementara dari sisi pembinaan, warga binaan memperoleh keterampilan praktis yang dapat menjadi bekal usaha setelah kembali ke masyarakat,"ungkapnya.

Lanjutnya, ke depan, Rutan Pekalongan berencana memperluas kapasitas budidaya dengan menambah jumlah telur maggot serta meningkatkan sarana pendukung. Dengan pengembangan tersebut, diharapkan hasil panen dapat meningkat signifikan sehingga manfaatnya semakin optimal, baik bagi lingkungan maupun dalam meningkatkan keterampilan dan kemandirian warga binaan.

"Melalui inovasi ini, kami ingin tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, tetapi juga berkontribusi aktif dalam mendukung program pelestarian lingkungan di Kota Pekalongan,"harapnya.

Sementara itu, Kepala DLH Kota Pekalongan, Joko Purnomo, mengapresiasi langkah Rutan Pekalongan dalam mengimplementasikan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. Ia menilai budidaya maggot menjadi solusi efektif dalam menangani sampah organik yang selama ini mendominasi komposisi sampah rumah tangga.

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini. Budidaya maggot merupakan salah satu metode pengolahan sampah organik yang cepat, efisien, dan bernilai ekonomi. Jika dikembangkan secara konsisten, program ini tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru,” tutur Joko.

Ia menambahkan, DLH Kota Pekalongan siap memberikan pendampingan teknis lanjutan agar budidaya maggot di Rutan Pekalongan dapat berkembang dalam skala lebih besar dan berkelanjutan.

"Kolaborasi lintas sektor seperti ini diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan sampah terpadu di Kota Pekalongan,"tukasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)