[ 2026-01-08 ]
Libur Nataru, Kunjungan Wisatawan Museum Batik Pekalongan Meningkat
Kota Pekalongan — Kunjungan wisatawan ke Museum Batik Pekalongan mengalami peningkatan signifikan selama masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 1.080 kunjungan, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka 840 kunjungan.
Kepala Museum Batik Pekalongan, Nurhayati Sinaga kemarin, menyebutkan bahwa peningkatan tersebut terlihat dari rata-rata kunjungan harian yang mencapai sekitar 200 pengunjung per hari. Lonjakan ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang semakin tinggi terhadap wisata edukasi, khususnya museum, sebagai alternatif destinasi liburan.
“Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kunjungan liburan akhir tahun 2025 mengalami kenaikan yang cukup baik. Rata-rata harian bisa mencapai 200 pengunjung,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, mayoritas pengunjung berasal dari luar kota, seperti Jakarta, Semarang, Bekasi, dan sejumlah daerah lainnya. Pengunjung didominasi oleh keluarga serta anak muda, yang memanfaatkan momen libur akhir tahun untuk berwisata sambil menambah wawasan sejarah dan budaya.
Pada momen libur Natal dan akhir tahun, Museum Batik Pekalongan memamerkan karya dari penyandang disabilitas yang digelar sejak 9 Desember 2025 di Ruang Pamer 1. Pameran ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.
“Melalui pameran disabilitas ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukanlah halangan. Layaknya kain yang mungkin tidak sempurna, justru nilai dan keunikannya dapat ditampilkan dan dikembangkan,” tandasnya.
Pameran tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa percaya diri bagi penyandang disabilitas serta meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya inklusivitas dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk di ruang budaya dan museum.
Dengan tren kunjungan yang terus meningkat, pihaknya berharap minat masyarakat terhadap museum sebagai destinasi wisata edukatif dapat terus tumbuh, sekaligus memperkuat peran museum sebagai ruang pembelajaran, refleksi, dan apresiasi terhadap keberagaman.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)