[ 2026-01-05 ]
SKB Kota Pekalongan Tekankan Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pendidikan Seks Anak dan Remaja
Kota Pekalongan – Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Pekalongan menaruh perhatian serius terhadap pentingnya peran orang tua dalam memberikan pendidikan seks yang tepat kepada anak dan remaja, termasuk anak berkebutuhan khusus. Kepedulian ini muncul seiring masih kuatnya anggapan di masyarakat bahwa pendidikan seks merupakan hal tabu untuk dibicarakan dalam keluarga maupun lingkungan pendidikan.
Kepala SKB Kota Pekalongan, Bonari saat ditemui di ruang kerjanya belum lama ini, menyampaikan bahwa anggapan tersebut berdampak pada minimnya pemahaman anak tentang tubuh, batasan diri, serta rasa aman. Anak, khususnya anak berkebutuhan khusus, berada pada posisi yang rentan terhadap kekerasan, salah informasi, dan perlakuan yang tidak aman apabila tidak dibekali pendidikan seks sejak dini.
“Banyak orang tua sebenarnya peduli, namun belum memiliki bekal bahasa, pemahaman, dan keberanian untuk membicarakan pendidikan seks secara tepat. Pendidikan seks sering kali dimaknai sebatas larangan dan rasa takut, bukan sebagai upaya perlindungan,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan seks yang tepat tidak identik dengan hal vulgar, melainkan pengenalan tentang tubuh, batasan sentuhan, penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, serta pengelolaan emosi. Pemahaman ini penting agar anak mampu mengenali risiko dan merasa berhak untuk menjaga tubuhnya.
SKB Kota Pekalongan juga menegaskan pentingnya pendidikan seks bagi anak berkebutuhan khusus. Anak inklusi kerap memiliki keterbatasan dalam komunikasi, pemahaman sosial, dan kemampuan mengenali situasi berisiko. Oleh karena itu, mereka memerlukan pendampingan yang konsisten, pengulangan, serta pendekatan yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan dan karakter masing-masing anak.
Selain itu, perhatian juga diberikan kepada remaja yang berada pada usia rentan. Minimnya pemahaman pendidikan seks pada remaja berpotensi menimbulkan perilaku yang tidak bertanggung jawab serta rendahnya kesadaran akan batasan diri dan orang lain.
Pandangan tersebut sejalan dengan pengalaman orang tua siswa Paket A Inklusi, Sasy Madona. Ia mengungkapkan bahwa sebagai orang tua anak inklusi, pendidikan seks menjadi hal yang sangat penting namun tidak selalu mudah untuk dibicarakan.
“Sebagai orang tua, kami sering bingung harus mulai dari mana dan menggunakan bahasa seperti apa agar anak bisa memahami. Pendidikan seks bukan tentang hal yang tabu, tetapi tentang bagaimana melindungi anak agar mengenal tubuhnya dan merasa aman,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pendampingan dan pemahaman yang tepat membantu orang tua lebih percaya diri dalam mengarahkan anak, terutama dalam mengenali batasan diri dan berani menyampaikan ketidaknyamanan.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)