[ 2025-10-04 ]
Hari Batik Nasional ke-16, Kota Pekalongan Mantapkan Komitmen Jaga Warisan dan Kekuatan Ekonomi Kreatif
Kota Pekalongan – Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional ke-16 Tahun 2025, Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan menggelar serangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Salah satunya adalah Sarasehan Batik dengan tema “Merajut Harmoni Ekosistem Batik” yang dilaksanakan di Halaman Museum Batik Pekalongan, Kamis malam (2/10/2025). Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Pekalongan, Sugiyo.
Sarasehan ini dihadiri dinas terkait, paguyuban kampung batik, akademisi, pelajar SMK, komunitas, media hingga pelaku industri batik. Keterlibatan lintas elemen ini menjadi simbol bahwa batik bukan hanya milik para perajin, melainkan milik semua lapisan masyarakat yang berkepentingan menjaga sekaligus mengembangkan warisan budaya bangsa.
Dalam sambutannya, Sugiyo menekankan bahwa, batik adalah identitas bangsa Indonesia yang memiliki nilai budaya, sejarah, sekaligus nilai ekonomi tinggi.
“Bagi Kota Pekalongan, batik bukan sekadar warisan leluhur, melainkan sudah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Dari lorong-lorong kampung batik hingga pasar grosir, dari perajin tradisional hingga desainer modern, batik adalah denyut ekonomi dan jantung budaya yang menghidupi ribuan warga,” ujarnya.
Sugiyo menambahkan, pengakuan UNESCO yang menetapkan Pekalongan sebagai Kota Kreatif Dunia dalam kategori Craft and Folk Art menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar.
“Tantangan kita bukan hanya menjaga batik sebagai simbol kebanggaan, tetapi menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi kreatif berkelanjutan. Ekosistem batik kita sejatinya sudah lengkap, dimana ada pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media namun selama ini gerakannya masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal, tantangan global menuntut kita untuk bersinergi,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinparbudpora Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono, menyampaikan bahwa, kegiatan sarasehan ini merupakan bagian dari rangkaian Peringatan Hari Batik Nasional ke-16 Tahun 2025 di Kota Pekalongan. Pada pagi hari sebelumnya, telah digelar workshop membatik bersama di atas kain mori sepanjang 16 meter, sebagai simbol panjangnya perjalanan batik Indonesia.
“Melalui sarasehan ini, kami berharap ada masukan dari semua pihak terkait yang nantinya bisa kami rumuskan menjadi rekomendasi untuk Pemerintah Kota Pekalongan dalam pengembangan batik ke depan,” jelas Sabaryo.
Lebih lanjut, Sabaryo mengingatkan bahwa batik sudah dikenal dunia jauh sebelum pengakuan UNESCO tahun 2009.
“Pada era Presiden Soeharto, setiap kali kunjungan kenegaraan, beliau mengenakan batik, begitu juga Ibu Tien Soeharto. Itulah awal mula batik menjadi identitas bangsa di mata dunia,” terangnya.
Menurutnya, sarasehan berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif, dengan diskusi seputar tantangan regenerasi perajin, inovasi desain, keberlanjutan bahan baku, strategi pemasaran di era digital, hingga upaya memperkuat jejaring global.
Ia bersyukur, para peserta yang hadir, mulai dari pelaku usaha hingga pelajar, turut memberikan gagasan untuk menjaga agar batik tidak hanya lestari, tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman.
Rangkaian Hari Batik Nasional Tahun 2025 di Kota Pekalongan akan berlangsung hingga 12 Oktober 2025 dengan berbagai agenda, seperti belajar membatik, workshop, sarasehan lanjutan, hingga pameran. Semua kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap batik sekaligus memperkuat perannya sebagai warisan budaya dan penopang ekonomi kreatif.
“Batik adalah warisan leluhur yang telah mendunia. Pekalongan sebagai Kota Batik harus mampu menjaga, mengembangkan, dan membawanya ke panggung global. Dengan kebersamaan dan sinergi, batik akan tetap menjadi identitas sekaligus kekuatan ekonomi kreatif bangsa,” pungkasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)