[ 2025-09-16 ]
SMK Muhammadiyah Kota Pekalongan Kembangkan Inovasi Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi BBM
Kota Pekalongan – Masalah sampah plastik yang semakin menumpuk mendorong lahirnya beragam inovasi pengolahan sampah, salah satunya yang dilakukan oleh SMK Muhammadiyah Kota Pekalongan (Mudikal). Melalui terobosan teknologi pirolisis, sekolah ini berhasil mengembangkan mesin pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM).
Kepala SMK Muhammadiyah Kota Pekalongan, Khusnawan, menjelaskan bahwa inovasi tersebut merupakan bentuk nyata kontribusi sekolah dalam upaya pengurangan sampah anorganik, khususnya sampah plastik yang sulit terurai.
"Ini bentuk inovasi kami dalam upaya pengurangan sampah anorganik khususnya sampah plastik yang kami ubah menjadi BBM. Mengingat, sampah plastik ini sulit dan membutuhkan waktu cukup lama untuk terurai. Sehingga, kami mencoba terobosan ini," ungkap Khusnawan disela-sela mempraktekkan cara operasional alat Pirolisis di Ruang Praktik SMK Mudikal setempat, Jumat sore (12/9/2025).
Menurutnya, ide pirolisis ini bukan sesuatu yang instan. Sejak 2018, sekolah sudah melakukan penelitian dan pengembangan. Jika sebelumnya hanya berupa prototype kecil berbentuk tabung gas, kini kapasitas pengolahannya diperbesar menjadi wadah menyerupai dandang besar.
"Dari proses pirolisis tersebut, dihasilkan tiga jenis output utama, yakni solar oktan rendah, minyak tanah, dan premium,"tuturnya.
Selain itu, proses pembakaran dan pendinginan juga menghasilkan air sebagai residu. Inovasi ini bahkan sudah diajarkan kepada peserta didik sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek di sekolah. Prestasi membanggakan pun diraih ketika inovasi ini berhasil menyabet Juara 1 dalam Lomba Kreativitas dan Inovasi (Krenova) Kota Pekalongan Tahun 2024.
Guru SMK Mudikal sekaligus penggagas ide Pirolisis, Agus Riyadi, memaparkan mekanisme kerja alat tersebut. Sampah plastik, terutama botol kemasan yang telah dikumpulkan, dimasukkan ke dalam wadah dandang besar. Setelah itu dilakukan proses pembakaran sekitar satu jam dengan pendinginan menggunakan air di wadah berbeda.
"Akan lebih bagus jika menggunakan pompa, terutama saat suhu sangat tinggi. Dari proses itu akan keluar asap yang kemudian dialirkan melalui pipa-pipa yang sudah disiapkan hingga menghasilkan cairan BBM," jelas Agus.
Lebih lanjut, ia menyebutkan kapasitas alat Pirolisis bervariasi tergantung ukuran sampah. Jika plastik sudah tercacah kecil, alat mampu menampung hingga 5 kilogram sampah. Dari jumlah tersebut, bisa dihasilkan sekitar 40–50 persen BBM dari sampah yang diolah.
Agus menegaskan bahwa terobosan ini bukan hanya inovasi teknologi, melainkan juga solusi nyata untuk persoalan lingkungan di Kota Pekalongan.
"Ini untuk menyelesaikan permasalahan sampah yang ada. Memang saat ini belum diproduksi massal dan masih dimanfaatkan untuk internal sekolah, tetapi ke depan jika ada pesanan, kami siap mengusahakan,” tambahnya.
Dengan adanya inovasi ini, ia berharap, SMK Mudikal dapat menjadi pelopor pendidikan berbasis riset dan lingkungan.
"Disamping itu, kami bisa memberi inspirasi bagi sekolah maupun masyarakat luas dalam pengolahan sampah plastik yang lebih bermanfaat,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)