[ 2025-09-12 ]
Dindik Kota Pekalongan Mulai Terapkan Pembelajaran Koding Kecerdasan Artifisial di Jenjang SD
Kota Pekalongan – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan mulai mengambil langkah inovatif dalam dunia pendidikan dengan menerapkan pembelajaran Koding Kecerdasan Artifisial (KKA) di tingkat Sekolah Dasar (SD). Program ini digulirkan sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang melek teknologi sejak dini sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman yang kian didominasi oleh kecerdasan buatan.
Plt Kepala Dindik Kota Pekalongan, Mabruri melalui Kepala Bidang SD, Siti Nurul Izzah, menyebutkan, secara nasional, terdapat tiga model penerapan KKA, yaitu integrasi dalam mata pelajaran informatika, dijadikan sebagai mata pelajaran pilihan, atau dikembangkan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Dari ketiga opsi tersebut, Kota Pekalongan memilih menjadikan KKA sebagai mata pelajaran pilihan.
Menurutnya, pilihan ini dipandang paling tepat karena memberikan ruang khusus bagi siswa untuk mempelajari dasar-dasar teknologi secara lebih fokus tanpa mengganggu pelajaran inti.
"Tahap awal implementasi dilakukan secara bertahap di sekolah-sekolah yang sudah memiliki guru terlatih. Kami mulai dari sekolah yang gurunya telah mengikuti pelatihan penyusunan kurikulum satuan pendidikan. Nantinya, sekolah lain akan mengikuti melalui proses pengimbasan dari guru-guru yang sudah dilatih tersebut,” terang Izzah, sapaan akrabnya, Jumat (12/9/2025).
Dengan strategi pengimbasan ini, Izzah optimistis seluruh SD di Kota Pekalongan akan mampu menerapkan pembelajaran KKA secara bertahap dan merata.
"Target kami, semua siswa SD bisa merasakan manfaat pembelajaran KKA, meskipun memang tahapannya harus bertahap agar mutu tetap terjaga,” tambahnya.
Disampaikan Izzah, KKA di tingkat SD tidak membutuhkan perangkat digital canggih atau fasilitas laboratorium komputer yang lengkap. Ia menegaskan bahwa, inti dari pembelajaran ini adalah melatih keterampilan berpikir komputasi (computational thinking), bukan sekadar mengoperasikan perangkat teknologi.
“Anak-anak tidak harus langsung berhadapan dengan komputer atau aplikasi tertentu. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka terbiasa berpikir runtut, logis, dan sistematis. Misalnya melalui permainan logika, menyusun langkah-langkah kegiatan sehari-hari, atau puzzle yang melatih penalaran,” jelasnya.
Metode sederhana ini, lanjut Izzah, justru menjadikan KKA lebih menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak. Dengan pendekatan berbasis permainan dan aktivitas keseharian, siswa bisa belajar konsep dasar berpikir komputasi tanpa merasa terbebani.
“Kalau sejak kecil sudah terbiasa berpikir komputasi, kelak saat mereka berhadapan dengan teknologi digital yang lebih kompleks, adaptasinya akan jauh lebih mudah,” ungkapnya.
Pihaknya menilai bahwa, langkah ini penting mengingat perkembangan dunia saat ini menuntut sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara kerjanya. Dengan menerapkan KKA, Dindik Kota Pekalongan berupaya menyiapkan siswa agar kelak mampu berkontribusi dalam era digital.
“Harapan kami, anak-anak Kota Pekalongan tumbuh menjadi generasi yang cakap digital, kreatif, dan berdaya saing tinggi. Mereka tidak hanya jadi pengguna teknologi, tetapi juga bisa menjadi pencipta dan pengembang di masa depan,” tutupnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)